Selasa, 23 Oktober 2018
Berita Jambi Paling Update


Warga Jambi yang Selamat dari Gempa Palu dan Donggala

2 Hari Tak Makan, 12 Hari Tak Tidur

Kamis, 11 Oktober 2018 - 10:02:06 WIB | Dibaca: 1522 pembaca
Warga Jambi korban gempa dan tsunami Palu.

JAMBIUDATE.CO, JAMBI - Trauma mendalam dirasakan korban gempa yang disusul tsunami di Palu dan Donggala Sulawesi Tengah. Salah satunya keluarga Salma,  warga asal Jambi yang tinggal di Palu. Keluarga Salma kini terbaring di Rumah Sakit H Abdul Manap (RS HAM) Kota Jambi. Salma dan anak bungsunya dirawat karena kondisi tubuhnya yang kurang sehat. Salma mengalami kendala pada jantung, putri bungsunya mengalami masalah pada perut, kembung, diare.

Salma dilarikan ke RS HAM oleh Pemerintah Kota Jambi saat tiba di Bandara Sulta Thaha Jambi dari Palu, Selasa malam sekitar pukul 22.00 WIB. Salma langsung mendapat penanganan dan dirawat, kemudian anak bungsu Salma ikut dirawat pada Rabu (10/10). Biaya perawatan Salma ditanggu pemerintah Kota Jambi.

Warga asal Mendahara Tengah, Kecamatan Mendahara, Kabupaten Tanjung Jabung Timur itu hijarah ke Palu, Sulawesi Tengah sejak 2014 silam. Disana mereka tinggal dikontrakan di Kelurahan Lolo Selatan, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu. Salma ikut suaminya.

Selama lebih kurang 5 tahun disana, Salma baru kali ini merasakan gempa. Sebelumnya tidak ada. Saat peristiwa itu, Salma dan keluarga berada di rumah, suaminya baru pulang jualan (tahu krispy dan tela). Menjelang maghrib gempa melanda Palu. Seketika Salma dan keluarga mengalami guncangan dahsyat. Tanah depan rumanya terbelah, air berlumpur keluar dari bawah tanah.

Sontak Salma dan Aspin (suami) berhamburan dan berlari membawa dua anaknya  yang masih berusia dibawah 6 tahun, ke lapangan yang jaraknya lebih kurang 100 meter dari tempat tinggalnya.

“Tanah terbelah, terus menutup. Kami seperti orang mabuk, berjalan selalu terjatuh. Guncangan gempanya dahsyat, seperti ada tekanan dari bawah,” imbunya.
Kontrakannya yang berada 5 kilo meter dari laut memang tak dihempas tsunami. Namun dengan guncangan gempa kondisi bangunan tersebut rusak parah. Setelah berhasil menyelamatkan diri, Salma dan kelurga kesulitan untuk mencari makan. Dua hari mereka sempat tak makan.

“Dua hari tidak makan, akhirnya disuruh orang lari ke kantor Wali Kota yang jaraknya sekitar 3 KM. Disana kami baru dapat makan, dan diamankan di tenda pengungsian,” imbuh Salma.

Selama 12 hari dipengungsian, Salma mengaku tak pernah tidur, karena gempa susulan masih terjadi. Suana tidak kondusdif, hati tak nyaman.

“Serasa pingin cepat keluar dari sana. 12 hari di tenda pengungsian, kami tidak bisa tidur. Takut,” kata wanita kelahiran 1979 itu.

Harta benda tak lagi dipikirkan, hanya pakaian dibadan yang mereka bawa.

“Kini Alhamdilillah sudah keluar dari Palu. Tidak ada lagi niat ingin kembali kesana,” sebutnya.

Salma mengaku, dirinya dan kelurga sampai ke Jambi berkat bantuan Wali Kota Jambi. Transportasinya dengan pesawat dan konsumsi Salma sekeluarga dibiayai.

“Awalnya kami bertemu tentara asal Jambi. Minta tolong bagaiman caranya bisa pulang ke Jambi. Melalui tentara itu kami terhubung dengan pihak Wali Kota, hingga akhirnya tiba di Jambi dan di jemput oleh pihak Wali Kota di Bandara. Sangat berterimakasih dengan Wali Kota Jambi,” tuturnya.

Aspin menambahkan,  hari kedua pasca kejadian, kondisi Palu seperti jalur gaza, hilir mudik helikopter dan pesawat, mayat bergelimpangan di jalan. Tidak ada aktifitas selain evakuasi korban. Sudah menjadi kota mati.

“Jadi saksi hidup. Saat masuk 4 hari, bau mayat mulai menyengat,” ujarnya.

Kini Salma dan keluarga akan melanjutkan perjuangan hidupnya di Mendahara Tanjung Jabung Timur. Disana mereka akan mulai dari nol. Ia sangat berharap ada bantuan dari pemerintah Jambi untuk keberlangsungan hidup.

“Kami mulai dari nol lagi,” pungkasnya. (hfz)


Berikan Komentar via Facebook :

Advertisement





Pencarian Berita:
Pilih Indeks Berita:
/ /