Kamis, 21 Juni 2018
Berita Jambi Paling Update


BACALAH! Sejarah Penyusunan Al Quran

Minggu, 20 Mei 2018 - 22:34:08 WIB | Dibaca: 285 pembaca
Al Quran. Foto : Net

JAMBIUPDATE.CO - Wahyu Al Quran turun kepada Nabi Muhammad selama 23 tahun sejak kenabiannya. Kadang beberapa ayat. Kadang satu surah penuh. Alur kroniknya bukan seperti yang ada saat ini.

Wenri Wanhar – Jawa Pos National Network

Wahyu pertama “iqra…”, “bacalah…”.

Iqra bismirabbikallazi khalak. Khalakal insana min alak. Iqra wa rabukkal akram. Allazi alama bil kalam. Alamal insana ma lam yalam. (lihat gambar)

Lebih kurang maknanya;

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang maha pencipta. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu maha pemurah. Yang mengajarkan kepada manusia (menggunakan) pena. Mengajar kepada manusia apa-apa yang belum diketahui.

Lanjutan ayat dalam surah ini seperti tertulis dalam Al Quran, turunnya kemudian. Sesudah wahyu yang lain.

Perang Yamamah--satu di antara ekspedisi yang dilancarkan kaum muslimin setelah kematian Muhammad--belum lama terjadi ketika Umar bin Khatab menyambangi Abu Bakr Sidik.

“Pembunuhan sudah begitu banyak menimpa penghafal Quran di Yamamah,” Umar membuka perundingan. Abu Bakr menyimak.

“Aku khawatir,” sambung Umar, “akan bertambah banyak penghafal Quran yang terbunuh di tempat-tempat lain sehingga akan banyak Quran yang hilang. Aku mengusulkan supaya kau perintahkan orang menghimpunnya.”

Abu Bakr menjawab, “bagaimana aku akan melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam?”

Setelah panjang berdialog, dan sependapat dengan Umar, Abu Bakr lalu memanggil Zaid bin Sabit, sekretaris Nabi Muhammad.

Tentang pertemuan ini, sebagaimana dikisahkan Zaid bin Sabit, Bukhari meriwayatkan;

Bahwa hari itu Abu Bakr panjang lebar menyampaikan buah diskusinya dengan Umar kepada Zaid. Sementara itu Umar hanya duduk. Diam menyimak.

Di ujung pembicaraan, Abu Bakr berkata kepada Zaid, “engkau masih muda. Cerdas. Dan kami tidak meragukan kau. Engkau penulis wahyu untuk Rasulullah. Jadi sekarang lacaklah Quran itu dan kumpulkan.”

Zaid merasa begitu besar tanggungjawab yang diberikan padanya.

“Demi Allah,” kata Zaid “andaikan aku diberi tugas memindahkan salah satu gunung tidaklah akan lebih berat bagiku dari pada aku disuruh mengumpulkan Quran ini.”

Zaid tahu Abu Bakar hafal Quran. Umar, Usman, Ali penghafal Quran.

“Akhirnya Allah membukan hatiku seperti juga telah membukakan hati Abu Bakr dan Umar. Aku berdiri. Aku mulai melacak dan mengumpulkan Quran dan lempengan-lempengan, dari tulang-tulang bahu, kepingan-kepingan pelepah pohon kurman dan dari hafalan orang…” tutur Zaid sebagaimana dirawikan Bukhari.

Menurut Zaid, tak henti-henti dirinya meminta arahan dari Abu bakr dan Umar bin Khatab.

“Setelah lembaran-lembaran itu kucatat ke dalam beberapa jilid aku masih harus mencari satu ayat dari Surah Ahzab. Aku mendengar Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam pernah membacanya. Dan ini hanya ada pada Khuzaimah Ansari…”

Lalu, kenang Zaid, “kumasukkan ke dalam Surah itu. Itulah lembaran-lembaran Quran yang sudah dihimpun yang ada di tangan Abu Bakr sampai dia wafat, kemudian di tangan Umar sampai dia pun wafat. Setelah itu di tempat Hafsah bin Umar.”

Zaid bin Sabit sebetulnya satu di antara orang yang sudah mulai mengumpulkan Quran sejak zaman Muhammad.

Seperti dirawikan Anas bin Malik dalam Bukhari dan Muslim, “yang mengumpulkan Quran pada masa Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam empat orang. Semua dari Ansar. Ubai bin Kab, Muaz bin Jabal, Zaid bin Sabit dan Abu Zaid.”

Menurut Imam Malik, penyusunan Quran itu didasarkan pada apa yang pernah mereka dengar dari Rasullullah.

“Kami di tempat Rasulullah Sallallahu alaihi wasalam menyusun Quran dari lempengan-lempengan,” kata Zaid.

Maksudnya, menyusun ayat-ayat yang terpisah-pisah dalam surah-surah lalu dikumpulkannya dengan petunjuk dari Rasulullah.

“Dalam salat dan di luar salat Rasulullah sering membaca surah-surah itu sepenuhnya. Di antaranya Baqarah, Ali Imran, Nisa, Araf, Jinn, Najm, Rahman, Qamar dan yang lain,” tulis Muhammad Husain Haekal dalam Abu Bakr As-Siddiq: Sebuah Biografi dan Studi Analisis tentang Permulaan Sejarah Islam Sepeninggal Nabi.

Sejumlah perawi-tafsir sejarah kemudian "terlalu bersemangat" membagi pembabakan sejarah Islam dengan mengkotak-kotakan rezim siapa yang menghimpun dan menyusun Quran.

Sebagian—sumber ini paling sering direproduksi oleh para pencerita—menyebut Rezim Umar lah yang melakukannya. Versi ini bersandar pada kitab Al-Masahif karya Ibn Abi Dawud dan kitab Al Itqan fi Ulumil Quran karya As-Suyuti.

Versi lain senantiasa mencuplik doa Ali bin Abi Thalib, “semoga Allah memberi rahmat kepada Abu Bakr. Dia yang paling besar jasanya dalam mengumpulkan Quran.”

Abu Bakr balik memuji Ali bin Thalib atas usahanya mengumpulkan Quran, begitu pun muslimin yang lain dipuji oleh Abu Bakr atas usaha mereka mengumpulkan Quran.

Menurut Abu Bakr, pekerjaan mereka itu sebagai pelipur lara bagi pendahulu-pendahulu mereka yang telah mengumpulkan Quran pada masa Rasulullah. (wow/jpnn)

Sumber: www.jpnn.com

Berikan Komentar via Facebook :

Advertisement
Advertisement





Pencarian Berita:
Pilih Indeks Berita:
/ /