Senin, 26 Juni 2017
Berita Jambi Paling Update


Dipo Ilham Djalil Bicara Depresiasi Kurs Rupiah

Selasa, 10 Januari 2017 - 13:41:11 WIB | Dibaca: 686 pembaca
Dipo Ilham Djalil, Wasekjend DPP PAN

JAMBIUPDATE.CO, JAMBI-Dua tahun belakangan ini tren rupiah terus terdepresiasi secara signifikan. Bahkan pada awal Desember lalu sempat tembus 13.500 per USD. Rupiah seolah membentuk level funda mentalnya di level 13.000 per USD  dan sulit kembali menguatke level 10.000 per USD. Lantas apa saja penyebab Rupiah terdepresiasi dan implikasinya?

Tren Kurs RupiahTerhadap USD (Data Kurs Tengah BI) dalam kurun waktu 3 tahun terakhir Rupiah telah beranjak dari level 11.000 ke 13.000an, Pasca Natal, per 27 Desember 2016 lalu, di pasar spot Rupiah sempat melorot 0,08% pada level Rp 13.446. Per 29 Desember 2016, anjlok juga 0,16% keposisi Rp13.481 per USD ketimbang posisi sebelumnya. Bahkan dalam 3 tahun terakhir Rupiah sempat menembus 14.500 pada Oktober 2015, sedangkan per 6 terakhir rupiah sempat tembus 13.500 pada awal Desember 2015.

 Faktor-Faktor Utama Penyebab Rupiah Terdepresiasi yaitu lemahnya dukungan data ekonomi domestik (Sentimen Internal), data-data ekonomi nasional terbaru masih kurang kinerjanya. Indikasinya, faktor kinerja rupiah akan lebih bergantung pada sisi eksternal ketimbang internal. Posisi ini cenderung membuat pasar masih wait and see, sambil menunggu kebijakan pendukung dari pemerintah atau data positif ekonomi nasional. Pasalnya, akhir tahun ini pemerintah merilis paket terakhir pendukung kemudahan berbisnis atau investasi, yakni paket 15. Alhasil, lemahnya dukungan data perbaikan ekonomi nasional turut menekan Rupiah.  

Pasar saham Indonesia kurang lebih 60 persen dikuasai asing, terutama investor asal Amerika, sehingga USD sangat berpengaruh pada kurs rupiah, ini juga sangat berpengaruh pada harga komuditi di Jambi seperti karet dan sawit yang tidak kunjung stabil. Tutup Buku Korporasi dan Periode Liburan Akhir Tahun Fenomena permintaan USD di penghujung akhir tahun cenderung melonjak. Sebab, secara umum selain korporasi tengah membutuhkan membayar liabiitasnya (utang), juga preferensi publik yang butuh USD untuk liburan, terutama liburan ke luar negeri serta sikap pasar yang menyukai USD ketimbang kurs lainnya, juga efek libur panjang membuat pasar mengurangi tradingnya. Alhasil, fenomena ini turut menekan kurs rupiah.

Sentimen Minyak Mentah dan Naiknya suku bunga The Fed. Kesepakatan OPEC mengurangi produksi minyak membuat harga minyak berangsur terkerek naik. Tren data-data AS juga terus alami perbaikan alias kian positif, korelasi ini berlanjut mengindikasikan pemerintah AS akan mengatrol nilai inflasinya. “Bahkan AS merencanakan akan mengatrol suku bunga the fed 2017 sebanyak 3 kali semakin kentara peluangnya, alhasil USD terapresiasi,” urai Dipo Ilham Djalil, Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjend) DPP PAN.

Data ekonomi terbaru AS per Desember 2016 mengindikasikan indeks  kepercayaan Konsumen oleh lembaga The Conference Board di level 113,7 pada Desember atau alami kenaikan dari 109,4 pada

November lalu. Sehingga USD kian terapresiasi dan banyak USD yang balik ke AS. Melempemnya Neraca Perdagangan Indonesia, laju ekspor tak sebanding dengan derasnya laju impor membuat Rupiah lesu. Sektor Komoditas merupakan sektor terbesar andalan Indonesia demikain juga di Provinsi Jambi, dimana sekitar 70 % tepatnya ketimbang sektor manufaktur atau jasa yang tak sampai 15 %. Hegemoni tingginya harga komoditas masa lalu harusnya menjadikan Indonesia belajar dan berpaling bahwa fokus sektor lain seperti manufaktur dan jasa harus digenjot.

 Secara umum depresiasi Rupiah lebih dikarenakan oleh Faktor Eksternal terkait membaiknya

ekonomi AS dan faktor internal terkait lemahnya dukungan data ekonomi Indonesia. Apbila tak ada perbaikan secara progressif dan lemahnya dukungan data ekonomi Indonesia akan membaut

Rupiah kurang berdaya. Jangankan kembali ke level 10 ribuan, yang ada Rupiah akan sulit bernjak atau akan betah nyaman di level 13.000 an. “Sebaiknya Indonesia terus lakukan perbaikan fundamental ekonominya. Momentum penghujung akhir tax amnesty juga harus dimaksimalkan agar aliran inflow menguat sehingga stabilitas nilai kurs Rupiah dapat mencapai level kelayakan fundamentalnya,” papar  Dipo.

Paket Kebijakan Jilid XV diluncurkan akhir Desember, yaitu soal kemudahan investasi

Program, indikasinya paket itu bukan soal reformasi perpajakan, tapi soal aturan kemudahan

berbisniss menarik investasi dari paket 1-15 bertujuan untuk menstimulus pertumbuhan investasi 2017, ini berdasarkan rilis yang ditargetkan akhir Desember 2016.  Disamping itu, aktivitas ekspor impor beras melonjak drastis 138 %.  BPS mendata volume impor beras ke Indonesia sebesar 1,2 juta ton sepanjang Januari-November 2016. “Angka ini meningkat sekitar 110,66 persen atau melonjak 630,38 ribu ton jika dibandingkan  dengan periode yang sama tahun lalu, yakni sebesar 569,62 ribu ton,” urainya. (adv)

 


Berikan Komentar via Facebook :







Pencarian Berita:
Pilih Indeks Berita:
/ /