Rabu, 19 September 2018
Berita Jambi Paling Update


Luara Biasa!!! Kopda Budi Santoso Berenang 9,5 Jam Taklukkan Selat Sunda

Senin, 12 Maret 2018 - 21:33:15 WIB | Dibaca: 451 pembaca
Kopda Budi Santoso usai melakukan renang selama 9,5 Jam.

JAMBIUPDATE.CO, JAKARTA-Di antara sekian banyak perenang andal Korps Marinir, Kopda Budi Santoso termasuk yang terbaik. Lomba Renang dan Dayung Lintas Selat Sunda 2018 adalah pembuktiannya. Dia tercatat paling cepat berenang menyeberangi selat pemisah Jawa dan Sumatera.

Matahari hampir menampakkan diri ketika Kopda Budi Santoso nyaris kehabisan tenaga di antara gelombang Selat Sunda. Dalam benaknya, berkali-kali mucul pertanyaan. Di mana finisnya? Berkali-kali, sampai Budi tidak bisa mengingat. Namun, dia tidak kunjung menemukan jawaban. Budi terus menggerakkan kaki untuk sampai di tujuan. Yakni Pantai Tanjung Sekong, Banten, titik akhir Lomba Renang dan Dayung Lintas Selat Sunda 2018.

Budi merupakan satu di antara 289 perenang yang turut ambil bagian dalam event yang berlangsung pada 2–3 Maret itu. Bersama dengan ratusan perenang lain, dia bertolak dari Pelabuhan Bandar Bakau Jaya, Lampung, sekitar pukul 21.00.

Melintasi selat pemisah Jawa dan Sumatera dengan jarak tidak kurang dari 39 kilometer. Berenang menjelang tengah malam sampai pagi hari bukan perkara mudah. Meski sudah punya jam renang tinggi, tetap saja berenang malam dengan jarak puluhan kilometer tidak bisa dianggap enteng. Banyak tantangan yang harus ditaklukkan.

Lomba Renang Selat Madura yang diselenggarakan Koarmatim akhir tahun lalu menjadi salah satu menu latihan prajurit kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah, itu.

Meski tidak menang, bekalnya bertambah ketika berhasil menaklukkan Selat Madura. ”Untuk pemanasan ke event ini,” ungkapnya ketika berbincang dengan Jawa Pos (Induk Jambi Ekspres) pekan lalu.

Jauh hari sebelum agenda yang dilaksanakan dalam rangka HUT Ke-72 Korps Marinir tersebut, Budi melakukan banyak persiapan. Enam hari dalam sepekan dia berlatih tanpa putus. ”Minimal berenang empat jam sehari di kolam Cilandak (markas Korps Marinir, Red),” imbuhnya. Untuk menguji kemampuan, tidak jarang Budi berlatih renang lebih dari lima jam dalam sehari. Selain itu, kebugaran fisik dan stamina terus dipacu. Lari saban hari menjadi menu wajib. Juga latihan fisik lain yang dijalani tanpa henti.

Semakin dekat dengan hari H event, latihan yang dilakoni kian keras. Bersama dengan ratusan peserta lain, dia mendapatkan izin untuk berlatih di medan lomba. Ya, berlatih di Selat Sunda. ”Dua hari berenang siang, satu hari malam, satu hari dini hari,” papar Budi. Dia sudah tidak asing dengan Selat Sunda. Saat event serupa diselenggarakan sebelas tahun lalu, dia menjadi warga Marinir yang mendapat tugas melakukan test event.

Karena itu pula, sama sekali tidak ada keraguan dalam benak Budi untuk ikut dalam lomba tersebut. ”Cuma start dan finis yang beda,” kenang pria kelahiran 1984 tersebut. Dia tidak pernah membayangkan menjadi yang tercepat. Sejak pra sampai lomba terlaksana, dia hanya berkonsentrasi memberikan yang terbaik untuk diri sendiri, keluarga, tim, pelatih, dan pimpinan.

Karena itu, seperti kebanyakan peserta, Budi memulai lomba dengan doa. Minta restu kepada orang tua dengan menelepon langsung ibunda tercinta di kampung halaman. Juga menghaturkan doa untuk almarhum ayahnya. Kemudian, dia melakukan peregangan beberapa menit untuk pemanasan. Sambil berjalan dari tenda ke garis start, dia putar beberapa lagu dari telepon genggamnya.

Sesaat sebelum menceburkan diri ke Selat Sunda, Budi memeriksa seluruh peralatan yang menempel di tubuhnya. Mulai snorkel sampai pelampung. Tidak lupa, dia juga mengikatkan tiga bungkus air bercampur madu. Kata Budi, madu itu khusus dipesannya dari kampung halaman. Madu asli yang diambil dari hutan. ”Untuk tambah stamina,” ujarnya. Agar mudah ketika ingin meminumnya, Budi menggantungkan tiga bungkus air campuran madu tersebut pada pelampung yang dikenakan.

Begitu KSAL Laksamana TNI Ade Supandi melepas seluruh peserta, Budi dengan sigap meluncur ke arena lomba. Dia beradu cepat dengan ratusan peserta lain. Entah berapa lama ratusan peserta itu berenang berdekatan. Yang pasti, tidak banyak peserta lain yang bisa dia lihat ketika sudah agak jauh dari lokasi start. Apalagi, begitu jarak yang ditempuh sudah lebih dari 10 km, yang kentara di mata Budi hanya kapal pandu dan tim SAR.

Begitu masuk tengah malam, tantangan yang harus ditaklukkan bertambah. Bukan lagi sebatas rasa khawatir, arus, dan gelombang. Kantuk juga menjadi kendala. Saking beratnya, dia berkali-kali nyaris tertidur. Untung, gelombang yang datang silih berganti membuatnya kembali sadar. Sehingga tidurnya hanya sesaat. ”Supaya nggak ngantuk, saya zikir terus. Semakin ngantuk, semakin keras (suara) zikir saya,” ucapnya. Itu pula yang membantu Budi setiap pertanyaan di mana finisnya muncul.

Seingat Budi, zikir dilantunkannya sejak garis start, tapi lebih banyak dalam hati. Hanya, ketika kantuk menyerang, dia keraskan suara zikirnya. Setidaknya supaya dia tahu bahwa dirinya masih sadar. Selain zikir, madu yang dia bawa amat membantu. Jadi penambah tenaga ketika dia merasa staminanya berkurang.

Madu itu bisa membuat dia bertahan lebih lama sehingga dapat terus berenang sampai garis finis. Kian dekat dengan garis finis, kian berat pula kaki Budi untuk digerakkan.

Berjam-jam berenang di antara dinginnya malam benar-benar menguras banyak tenaga. Tidak heran, pandangan matanya nyaris hilang begitu lokasi finis sudah dekat. Pandangan matanya kabur saat telinganya mendengar sorak-sorai dari kejauhan. Dia tidak bisa melihat dari mana suara itu muncul. Yang dia tahu, suara tersebut berasal dari orang-orang yang menunggunya di garis finis.

Budi senang lantaran bisa segera mengakhiri lomba. Tidak peduli ada di urutan berapa, yang penting baginya adalah sampai di garis finis dengan selamat.

Namun, siapa sangka dia menjadi yang tercepat. Catatan waktunya 9 jam 29 menit 56 detik. ”Saya dikalungi ternyata,” ucap dia. Jajaran pejabat teras TNI-AL dan Korps Marinir menyambut Budi. Tapi, dia tidak ingat semuanya. Kakinya terasa lemas. Tulang-tulang yang selama ini menyangga tubuhnya serasa sudah lepas. ”Untuk jalan saja, berat sekali rasanya,” kata mantan anggota pasukan penjaga perdamaian yang pernah dikirim ke Lebanon itu.

Di antara riuh sambutan untuknya, dia melihat sang pelatih menitikkan air mata. ”Beliau terharu,” kata Budi. Karena itu, selain untuk istri, anak, dan keluarga, Budi mendedikasikan gelar juara yang diterimanya untuk sang pelatih. Dedikasi serupa dia tujukan kepada seluruh rekannya di Batalyon Intai Amfibi-2 Marinir dan semua pimpinannya. Dia menyatakan tidak kapok ikut serta dalam ajang serupa. Seandainya diberi kesempatan untuk kembali ambil bagian, ayah satu anak tersebut memastikan bakal kembali turut serta.

Atas prestasi itu, Korps Marinir tidak hanya memberi Budi medali. Dia juga berhak atas satu unit Mitsubishi Xpander. Rencananya, hadiah tersebut langsung dipakai pulang kampung ke Wonosobo. Di sana dia lahir dan besar. Di sana pula dia kali pertama belajar berenang. Dari sana pula dia memulai langkah sampai bisa masuk sebagai warga Korps Marinir. (*/c11/oki)

Sumber: www.jawapos.com

Berikan Komentar via Facebook :

Advertisement





Pencarian Berita:
Pilih Indeks Berita:
/ /