Rabu, 17 Juli 2019
Berita Jambi Paling Update


Merindukan Guru Yang Inovatif, Kreatif dan Profesional

Senin, 26 November 2018 - 22:10:27 WIB | Dibaca: 804 pembaca
Budi Teguh Harianto, M.Pd

Oleh: Budi Teguh Harianto, M.Pd

SESUAI dengan tema Hari Guru Nasional, “Meningkatkan Profesionalisme Guru Menuju Pendidikan Abad 21”  tentu saja tiga kata itu, Inovatif, kreatif dan profesional yang sangat dibutuhkan. Nah, pertanyaan besarnya adalah bagaimana agar guru berinovasi tinggi, berkreatifitas serta profesional sehingga dirindukan dunia pendidikan untuk menjawab kebutuhan abad 21.

Sebelum menjawab tiga pertanyaan itu, alangkah baiknya kita melawan lupa dan sekadar mengingatkan kembali bahwa lahirnya Hari Guru Nasional itu harus menempuh perjalanan panjang serta beragam ancaman serta intimidasi pihak asing (penjajah) yang merasa terusik dengan hadirnya lemba persatuan guru dari berbagai disiplin ilmu, budaya dan yang lainnya.

Minggu, 25 November 2018 merupakan Hari Guru Nasional (HGN) ke-73, nah coba kita menelusuri kembali kenapa 25 November ditetapkan sebagai HGN dan bertepatan dengan Hari PGRI. Pada masa penjajahan Belanda guru berkumpul dalam naungan Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) 1912.

Dua dekade PGHB berubah nama menjadi PGI (Persatuan Guru Indonesia). Pada masa itu PGI yang anggotanya merupakan guru, kepala sekolah serta pemilik sekolah. Pada umumnya anggota PGI merupakan guru yang mengajar di sekolah desa dan sekolah rakyat angka dua.

Adanya penambahan kata Indonesia tentu saja membuat Belanda cemas, disinilah bangkitnya semangat kebangsaan. Terbukti, meski bertahap jabatan Kepala HIS (holandsch Inlandsche Shoo) atau sekolah Belanda untuk Bumi Putra mulai diambil alih orang Indonesia.

Cita-cita kesadaran perjuangan guru Indonesia tidak lagi tentang perbaikan nasib maupun kesamaan hak dan psosisi dengan Belanda, namun memuncak menjadi perjuangan nasional. Beda nasib pada masa penjajahan Jepang, semua organisasi dibubarkan dan menutup sekolah serta membungkam PGI.

Merdeka, 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. PGI kembali muncul sebagai organisasi yang besar. Puncaknya pada  24-25 November 1945 di Surakarta digelar Kongres.  Beberapa hasil yang dicapai yakni lahirlah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada 25 November 1945. Mulai saat itu pemerintah menetapkan hari lahir PGRI sebagai Hari Guru Nasional (HGN) dan menjadikannya sebagai momentum penghormatan kepada para pahlawan tanpa tanda jasa.

Sekarang, kembali kemasalah pokok tadi.Pertama guru yang inovatif. Ibaratkan seorang juru masak, guru akan dihadapkan beragam siswa yang memiliki latar belakang berbeda. Mulai dari latar belakang sosial, ekonomi serta kemampuan intelegensi siswa yang erat kaitannya dengan daya serap materi pelajaran. Kalau diumpamakan ada yang tempe, tahu, ubi dan bahan makanan lainnya.

Sebagai seorang juru masak atau fasilitator, tentu saja dibutuhkan inovasi yang tinggi, tujuannya tidak lain bagaimana agar siswa ketika tamat memiliki daya saing serta mampu menjawab kebutuhan dan tantangan di lingkungan sekitarnya.

Inovasi dapat dilakukan salah satunya di bidang pembelajaran. Bagi guru yang tinggal di pedalaman atau daerah yang sulit dijangkau karena buruknya fasilitas umum seperti jalan, penerangan dan lainnya, permasalahan umum yang dihadapi adalah rendahnya minat baca. Bahkan, lebih parah lagi keterampilan membaca siswanya jauh di bawah standar. Banyak ditemukan kasus siswa kelas VII SMP masih mengeja ketika membaca sebuah kata. Bahkan, terkait minat baca ini berdasarkan studi Most Literred Nation in the World 2016 Indonesia menempati peringkat 60 dari 61 negara. Artinya masih sangat rendah sekali minat baca orang Indonesia. Makanya, jangan heran ketika menemukan siswa kelas VII belum lancar membaca. Seharusnya persoalan membaca ini selesai pada jenjang sekolah dasar maupun taman kanak-kanak.

Anak-anak yang lamban dalam membaca di kelas awal akan mengalami kegagalan yang lebih parah pada kelas-kelas berikutnya. Ini dikenal juga dengan Efek Matthew. Dalam dunia pendidikan, lambat disini dimaksudkan bahwa anak yang membacanya lambat tentu saja nilainya rendah, dan siswa yang membacanya sedang dan lancar akan mendapat nilai baik, demikian seterusnya.

Lantas apa inovasi kita, caranya membentuk kelompok belajar membaca mandiri. Kemudian, siswa diwajibkan membuat sebuah kesimpulan atau catatan dari sebuah buku yang telah selesai ia baca. Karena siswa akan lancar membaca jika mereka sudah dibudayakan tiada hari tanpa baca. Guru wajib membuat program bimbingan induvidu siswa yang lamban membaca agar progresnya dapat dipantau secara berkala. Ini adalah bagian dari literasi.

Perlu dicamkan, membaca ini adalah muara dari bidang studi pembelajaran lainnya. Jika kemampuan membaca rendah dipastikan pembelajaran lain juga akan rendah. Siswa akan kesulitan memahami sebuah teks atau wacana pada teks PKN, IPA dan pelajaran lainnya.

Masalah kedua adalah kreatifitas. Disadari atau tidak, sering terdengar jika guru kesulitan dalam menyampaikan beberapa materi pembelajaran karena setelah pembelajaran daya serap siswanya rendah. Sebenarnya keluhan atau permasalahan itu tidak perlu terjadi jika guru kreatif dalam melakukan proses pembelajaran. Pemilihan media, skenario serta pengaturan tempat duduk yang sesuai dengan materi pembelajaran sangat dibutuhkan.

Guru yang kreatif akan menerapkan sistem pembelajaran yang menyenangkan, sehingga pembelajaran tidak terasa membosankan bagi siswa. Muaranya adalah tujuan pembelajaran akan tercapai. Jika suasana pembelajaran menyenangkan, pastinya siswa akan aktif mengikuti materi demi materi. Dengan demikian, ketika dilakukan penguatan atau refleksi di akhir pembelajaran apa yang telah dipelajari bersama akan melekat di dalam otak siswa.

Hipotesis Stephen Krashen diantaranya membahas soal Input dan penyaringan afeksi.  Ternyata dengan memberikan input yang komprehensip saja tidak cukup, pemelajar (guru) juga harus membiarkan agar input tersebut dapat diterima dan dimengerti peserta didik. Ada tiga faktor yang mempengaruhinya, antara lain kecemasan, motivasi dan percaya diri. Nah, dengan lingkungan belajar yang nyaman, menyenangkan tentu saja motivasi siswa untuk belajar tinggi, kecemasannya tidak ada dan percaya diri untuk mengerjakan proyek atau pratikumtumbuh dalam diri siswa. Selama ini guru cenderung monoton, tidak bervariasi baik metode maupun media pembelajarannya sehingga siswa bosan, motivasinya rendah termasuk percayadirinya.

Kunci ketiga adalah profesioonal. Yang ketiga ini kedengarannya memang berat dan sulit dicapai. Inovatif dan kreatif itu hanya sebagian dari indikator jika seorang guru itu dikatakan profesional. Profesional sendiri dapat kita maknai dengan guru yang benar-benar melaksanakan tugas pokok dan fungsinya secara utuh sesuai ketetapan yang diatur pemerintah.

Indikator lainnya seperti disiplin, menyiapkan perangkat, melakukan analisis bahkan, profesional di luar kelas atau dilingkungan masyarakat tempat guru tinggal. Karena menyandang predikat guru itu sangat berat sekali memikulnya. Selain sebagai panutan, guru juga merupakan cerminan kondisi ideal masyarakat indonesia dalam segala aspek. Seperti sikap, prilaku, tutur bahasa, pergaulan dan lain sebagainya.

“Ingarso suntulodo, ingmadya mangun karso, tut wuri handayani” demikian disampaikan Kihajar Dewantara. Untuk memenuhi ketiga unsur itu memang tidak adil rasanya jika tanpa dukungan dari pihak terkait, karena akan menyangkut masalah finansial dan penghargaan. Belum lagi kendala klasik yang dihadapi seperti sumber bacaan minim, kemudian terkendala dana untuk membeli buku dan seribu alasan lainnya.

Untuk masalah buku sebenarnya gampang saja, anak-anak dapat menyisihkan seribu rupiah dari uang jajannya setiap hari. Selama sebulan sudah terkumpul uang untuk membeli buku bacaan ringan baik bersifat fiksi maupun pengetahuan. Yang penting ada guru atau ketua kelas yang mengordinirnya. Jika sulit juga banyak buku-buku bekas di perpustakaan milik pemerintah daerah yang itu bisa dipakai meskipun butuh perbaikan pada bagian covernya. Itu bisa dipinjam dari pada rusak dimakan rayap.

Sedangkan proses pembelajaran, jangan jadikan keterbatasan untuk minim kreatifitas. Guru dapat memanfaatkan media pembelajaran yang ada di lingkungan sekitar. Dalam pembelajaran bahasa ada Ekologi Sastra. Kemudian ada praktik pengamatan metamorfosis kepompong untuk pembelajaran IPA dan masih banyak yang lainnya. Atau membuat alat peraga sederhana yang bahannya dapat diperoleh dari lingkungan sekitar sekolah sehingga tidak butuh waktu tenaga dan biaya besar. Dengan praktik siswa akan terlibat dan merasakan langsung hasil pengamatan.

Sedangkan untuk profesionalitas, pengawasan dari atasan untuk melakukan supervisi penting dilakukan. Pemberian penghargaan dan maupun sanksi terhadap guru juga dibutuhkan. Termasuk menanamkan dalam jiwa guru bahwa pendidik merupakan profesi yang mulia dan bagian dari sedekah jariah yang amalnya tidak akan terputus, mengalir terus selagi ilmu yang bermanfaat itu digunakan oleh anak didik kita dalam menjalani kehidupan.

Dengan penguatan seperti ini, sebuah tembok besar yakni ketidak adilan terhadap guru  bukan merupakan penghalang bagi seorang guru untuk berinovasi, kreatif dan profesional, apapun statusnya, baik guru pegawai negeri maupun honorer. Karena jika didunia penghargaan masih rendah karena hanya mendapat honor Rp 200 ribu per bulan untuk honore, namun sebagai amal ibadah ada ilmu yang bermanfaat sebagai pelipur lara.

Sedangkan bagi guru yang sudah mendapat gaji Rp 7 juta per bulan bahkan lebih karena sudah mendapatkan tunjangan sertifikasi dan lain-lain, lebih berat lagi tanggung jawabnya jika tak inovatif, kreatif, dan profesional dalam melaksanakan tugasnya. Apalagi jika uang itu tidak dikembalikan untuk biaya peningkatan kompetensi guru dan hanya habis dikonsumsi, bukan hanya dengan masyarakat dan pemerintah saja mempertanggungjawabkannya, namun disisi sang pencipta juga.

Melalui momentum HGN ini, sekarang kita dapat melihat sendiri guru yang ada disekitar kita, apakah mereka sudah melakukan sebuah inovasi, kreatif serta profesional. Bagi yang sudah kreatif, inovatif dan profesional, terus tingkatkan. Sementara, jika belum maka berjanjilah mulai hari ini akan menjadi guru yang inovatif, kreatif dan profesional. Selamat HGN.

Penulis adalah Guru SMPN Satu Atap 7 Pengabuan.


Berikan Komentar via Facebook :






Pencarian Berita:
Pilih Indeks Berita:
/ /