Rabu, 19 Desember 2018
Berita Jambi Paling Update


Sarkasme di Musim Politik

Senin, 08 Oktober 2018 - 09:30:06 WIB | Dibaca: 353 pembaca
Ilustrasi

Oleh: Helty Asafri, M.Pd

Tahun politik telah tiba, musim yang saat ini tidak lagi datang lima tahun sekali. Musim politik juga tidak hanya terjadi pada tingkat pusat melainkan sudah dimulai dari tingkatan paling bawah.

Sejak pemilihan secara langsung diadakan di Indonesia, masyarakan mendapat hak dan ruang nya dalam   berpolitik,   semua   bebas   menyampaikan   argumentasinya.  

Pemilihan   secara   langsung diadakan   mulai   dari   pemilihan   pemimpin   desa   sampai   dengan   pemilihan   pemimpin   negara.

Semua   bebas   berpolitik   dan   mempunyai   hak   yang   sama   dalam   menyampaikan   pendapat. Politisasi lewat argumentasi pun mulai berkembang, tidak hanya pada diskusi-diskusi khusus tapi sudah merambah hebat melalui kedai  kopi dan ruang-ruang media sosial.

Gaya Bahasa yang digunakan para komentator politik mahir ataupun para amatiran tidak lagi   jauh berbeda antara satu dengan yang lainnya, penggunaan kalimat bernuansa kasar ramai mewarnai ruang publik.

Bahasa   dan   politik   memang  tak   mungkin   di pisahkan,   para   politikus   menggunakan   Bahasa sebagai alat peraih simpati masyarakat untuk memperoleh kedudukan yang diinginkan. Seorang sosiolog   Habermas  pernah   berpendapat   bahwa   Bahasa   adalah   jalan   menuju   pada   kekuasaan sekaligus merupakan alat untuk mempertahankan kekuasaan.

Sarkasme dalam tahun-tahun politik bukanlah sesuatu yang baru tapi juga tidak menjadi gaya bahasa   yang   istimewa   di   musim   politik,   hanya   saja   saat   ini   gaya   bahasa   sarkasme   seolah menjadi idola para politikus dan para pengamatnya.  

Menurut KBBI sarkasme diartikan sebagai penggunaan kata kata pedas yang bertujuan menyakiti hati   orang lain; cemoohan atau ejekankasar.

Menurut (Badudu,1975:78) sarkasme merupakan gaya sindiran terkasar. Bentuknya bias digunakan saat memaki orang dengan kata-kata kasar dan tak sopan didengar.  Ditambahkan Badudu, biasanya diucapkan oleh orang yang sedang dalam keadaan marah besar.

Bahasa menjadi alat komunikasi yang sangat berharga di tahun-tahun politik, posisi bahasa saat musim politik tiba, tidak bisa di pandang sebelah mata. Stabilitas politik negara saat memasuki tahun   politik   sangat   dipengaruhi   oleh   bahasa   yang   beredar   di   tingkatan   kaum   elit   sampai merambah   ke   komentator   tingkat   bawah.   Bahasa   yang   berbau   sarkasme   atau   berupa   ujaran kebencian,   hinaan,   dan   olok-olokan   yang   menyakitkan   terkadang   juga   merambah   ke   ruang pribadi para pemeran politik.

Konteks Indonesia sebagai Negara yang beradab berdasarkan nilai-nilai luhur agama yang jelas tertera pada tiap butir pancasila seolah luntur tak lagi terlihat. Politik yang beradab seolah menjadi barang langka di negara tercinta. Kemanakah perginya moralitasdan adab dalam menyampaikan argumentasi dan kritikan terhadap lawan politik   ataupun para pemeran politik? apakah simpati harus didapat melalui ungkapan kebencian yang tiada henti?

Apakah sudah tiada lagi cara elegan dalam berpolitik di Negara ini? Padahal ada berjuta pasang mata yang melihat, ada berjuta telinga yang mendengarkan berbagai lawakan sarkasme versi Indonesia. Sarkasme merupakan gaya bahasa yang terlambat masuk ke benua Asia karena Asia terkenal dengan budaya timurnya yang ramah dan santun (Kurnia,K.2011). Tapi saat ini sarkasme justru sedang menguasai gaya bahasa politik di Indonesia.

Menurut Sapir dan Worf (Wahab,1995) bahasa merupakan prilaku budaya manusia, orang yang memiliki pilihan kata-kata santun dalam berbicara dan menggunakan kalimat-kalimat halus yang  tidak menyakiti orang lain menandakan orang   tersebut   memiliki   kepribadian   yang   baik.   Kesantunan   dapat   terlihat   ketika   seseorang melakukan   komunikasi   verbal,   sebab   tata   cara   berbicara     mengikuti   norma-norma   akan menghasilkan   kesantunan   berbahasa   (Muslich,2006;2).   Kesantunan   berbahasa   sangat   dekat dengan etika berbahasa, orang akan di katakana pandai berbahasa jika etika berbahasanya dantata   cara   berbicaranya   baik.   Ketika   melakukan   komunikasi   politik   dibutuhkan   etika   dan kesantunan   untuk   saling   menghomati   dan   menjalin   hubungan   politik   yang   harmonis.   Kubu oposisi pun perlu megedepankan etika dan kesantunan dalam menyampaikan kritikannya.Orang-orang   dewasa   yang   berpolitik   atau   yang   berbicara   tentang   politik   hendaknya   bias mengerem   diri   untuk   dapat   menghindari   gaya   Bahasa   sarkasme.   Jhon   Austin   seorang   filsuf bahasa   menilai,   actor   politik   tidak   hanya   menampilkan   tontonan   tapi   juga   menginspirasi tuntunan, karena politik yang tumbuh hari ini, tidak berhenti untuk masa kini tapi juga akan ditanam dan mengakar untuk dipetik hasilnya dimasa depan. Berikan contoh politik yang santun

kepada generasi bangsa, anak-anak , dan para remaja yang sedang ingin tau segala hal tentang negaranya. Biarkan mereka melihat ritme politik yang menyejukkan telinga mereka dan memberikenyamanan pada mata mereka yang mulai ingin melihat dunia. (*)


Berikan Komentar via Facebook :

Advertisement





Pencarian Berita:
Pilih Indeks Berita:
/ /