Ir. Nicco Plamonia, MT., M.Sc, PhD saat berada di salah satu tempat di Belanda.
Ir. Nicco Plamonia, MT., M.Sc, PhD saat berada di salah satu tempat di Belanda. (NICCO PLAMONIA FOR JAMBIUPDATE)

 

TAK banyak pemuda asal Kerinci yang bisa sukses menempuh pendidikan di luar negeri, apa lagi untuk gelar Ph.D (Doktor). Banyak kendala yang dihadapi, namun karena semangat pantang menyerah yang tinggi, plus dorongan motivasi dari Sang Ibu, membuat Ir. Nicco Plamonia, MT., M.Sc, Ph.D, melalui itu semua dengan gilang gemilang.

PIRMA SATRIA, JAMBI

KESENJANGAN Pendidikan antara Pulau Sumatra dan Pulau Jawa begitu kentara, di medio tahun 2000-an. Termasuk kesenjangan pendidikan antara Ibu Kota Provinsi Jambi dengan ibu kota Kabupaten Kerinci, termasuk Kecamatan Gunung Kerinci, sebuah Kecamatan yang berada di ujung Kabupaten Kerinci, kala itu, sangat terasa.

Namun, Ir. Nicco Plamonia, MT., M.Sc, Ph.D, pemuda asli Kecamatan Mukai Mudik berhasil menyelesaikan pendidikannya S2 dan S3 nya di University of Twente dengan Peringkat 83 di Dunia.

Tidak hanya itu, S2 dan S3-nya dibiayai penuh oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementrian Keuangan.

Terlahir 37 tahun lalu di kecamatan Gunung Kerinci, dari keluarga yang sangat sederhana. Terlahir dari ibu dengan profesi Guru SMP dan ayah yang hanya Pegawai Tata Usaha kehidupan ekonomi keluarga terasa sangat sulit.

“Beberapa kali seingat saya, saya pernah makan nasi dan garam,” jelas Nicco.

“Waktu itu kondisi keluarga sulit sekali, diperparah dengan kondisi keluarga dari bapak dan ibu saya tidak ada yang datang membantu, mereka juga dalam keadaan sulit,” tambahnya.

Bapak satu anak ini mengakui, semangat dari ibunya lah yang menginspirasi agar tidak menyerah dengan keadaan.

“Saya ingat dulu emak menyemangati agar jalan masih panjang, kalo kamu nyerah di sini masih ada puluhan tahun di masa depan yang kamu sia-siakan,” ujar Nicco menirukan ucapan Sang Ibu, puluhan tahun silam. Seluruh pendidikan dasar sampai SMA-nya ia selesaikan di Kerinci.

Proses pendidikan dilakukan dengan disiplin yang tinggi dan kerja keras, karena menuru Nicco, tanpa disiplin tidak akan ada hasil, apalagi menyerah dengan keadaan, tetaplah bekerja keras.

 “Tanpa disiplin tidak akan ada hasil, apalagi menyerah dengan keadaan, tetaplah bekerja keras,” katanya.

Pada tahun 2000,  Nicco diterima di dua Universitas berbeda. Pertama di jurusan Kelautan - Universitas Diponegoro, sebuah universitas negeri yang ada di Semarang dan yang kedua di Jurusan Teknik Sipil – Universitas Pancasila, sebuah universitas swasta di Jakarta. Keduanya dapat diselesaikan dengan baik.

“Saat itu saya berfikir untuk meninggalkan salah satunya, namun berkat dukungan kampus, saya berhasil menyelesaikan keduanya, meskipun saya harus menunda beberapa semester, kuliah jarak jauh, dan bolak balik Jakarta – Semarang,” kenang Nicco yang disampaikan melalui surat elektronik, Sabtu (10/10).

Proses yang dilewati Nicco Plamonia ini bukan mudah, menjaga hubungan baik dan terbuka dengan permasalahan dan keinginan yang kuat adalah kuncinya. Keinginan menuntut dua bidang ilmu misalnya membuat para dosen pengambil keputusan di kedua kampus mau membantu mahasiswa.

“Pada waktu itu, pendidikan di tingkat universitas bukan mesin penghasil uang,” jelasnya.

“Mahasiswa diperbolehkan kuliah di dua jurusan berbeda,” tambahnya.

Tepat pada bulan Maret 2005, Nicco menyelesaikan gelar sarjana teknik-nya di kedua universitas tersebut. Sempat bekerja sebagai asisten dosen April 2005 sampai Desember 2005. Tepat 1 Januari 2006, Nicco dikontrak sebagai Peneliti di SEACORM, Jembrana, Bali. SEACORM adalah sebuah lembaga yang bentuk oleh ASEAN untuk penelitian mengenai kelautan.  Pada saat di Bali inilah, ia terlibat dalam berbagai proyek besar, seperti Jembatan Suramadu, Dermaga Nusa Penida- Bali, dan diperbantukan selama sepuluh bulan dalam penanganan Lumpur Lapindo  Sidoardjo-Surabaya.

Setelah bekerja selama dua tahun enam bulan, Nicco bertemu dengan Prof. Arwin Sabar, seorang guru besar Teknik Sipil dan Lingkungan pada Institut Teknologi Bandung. Dapat dikatakan bahwa perkenalannya dengan Prof Arwin inilah yang mempengaruhi karir  Nicco selanjutnya.

Prof. Arwin Sabar menawari  Nicco untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 sekaligus membantu Prof. Arwin sabar di Kelompok Keahlian Teknologi Pengelolaan Air-Institut Teknologi Bandung. Tawaran yang kemudian diambilnya karena keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana.

Sejak 1 Juni 2008, Nicco terlibat dalam mendesain jaringan perpipaan air baku di Kalimantan, Pulau Bangka, dan mempublikasikan hasil penelitiannya di media nasional.

Pendidikan Magister Tekniknya diselesaikan sampai tanggal 10 Oktober 2010. Berkat rekomendasi Prof. Arwin Sabar pula,  Nicco diterima sebagai pegawai Perusahaan Daerah Air Minum Provinsi DKI Jakarta “PAM JAYA”.

“Prof. Arwin Sabar memberikan saya kesempatan dan memanusiakan saya,’’ ungkapnya.

“Berasal dari keluarga yang serba kekurangan bukanlah halangan, menjadi pribadi yang baik lebih penting, di situ terbentuklah jaringan, dari jaringan terciptalah kesempatan,” tambahnya.

Selama 3 tahun bekerja, Nicco terlibat proyek pemasangan perpipaan di Ibukota Jakarta, pembuatan Instalasi Pengolahan Air Minum, Pengelolaan aset PDAM.

Tepat pada bulan Juni 2013,  Nicco berhasil mendapatkan Beasiswa untuk melanjutkan pendidikan Doktoral ke berbagai Universitas bergengsi di dunia. Peluang berasal dari Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan-Kementrian Keuangan.

LPDP membuka kesempatan bagi putra putri Indonesia untuk melanjutkan pendidikan dengan beasiswa penuh.

Nicco diterima di tiga universitas berbeda yaitu University of Twente – Netherland, University of Melbourne – Australia, dan Florida Institue of Technology – USA. Namun ia akhirnya memilih University of Twente – Netherland karena bidang water engineering-nya sudah menjadi tradisi penduduk disana dan tentunya peringkatnya masuk top 100 universitas (peringkat 82) di dunia.

Nicco mengakui, perjalanan memulai S3 tidaklah mudah, untuk kedua kalinya, ia mengalami berbedanya kualitas pendidikan dalam negeri dengan Uni Eropa. Pihak University of Twente meminta Nicco untuk mengikuti program matrikulasi Pendidikan S2 yang sudah dilaluinya di Institut Teknologi Bandung selama satu tahun. Sejak tanggal 3 Desember 2013 praktis perkuliahan doktoral tidak bisa dimulai karena harus menyelesaikan matrikulasi terlebih dahulu.

Tepat tanggal 3 Desember 2014 Nicco menyelesaikan Matrikulasi S2 dengan mengondol gelar Master of Science (M.Sc). Sejak 3 Desember 2014, sebagai  mahasiswa Doktoral dan diberikan kesempatan selama satu tahun untuk menulis proposal Disertasi.

“Pengalaman yang sulit mengejar ketertinggalan sebelum Proposal Disertasi saya disetujui oleh Profesor saya di Belanda,’’ katanya.

Pada tanggal 3 Desember 2005, Nicco resmi menjadi kandidat Doktor dengan mempertahankan proposal yang berjudul “Improving the Coverage Area of Drinking Water Provision by Using Build Operate and Transfer Investments in Indonesia.” An Institutional Analysis. Dalam bahasa indonesia judul penelitian diatas dapat diterjemahkan verbatim sebagai berikut “Mengembangkan cakupan pelayanan air minum perpipaan dengan menggunakan pembiayaan skema Kerjasama Pemerintah dan Swasta” sebuah tinjauan kelembagaan.

Disertasi ini berangkat dari keinginan untuk mengembangkan cakupan pelayanan air minum perpipaan dengan menggali berbagai sumber pendanaan.

 ”Kita selalu menyepelekan infrastruktur yang satu ini dibandingkan jalan dan listrik misalnya. Padahal dengan minum air yang sehat anak-anak kita akan lebih sehat, pintar dan lebih produktif lagi di masa depan.

Air sumur dan air galon, kata Nicco, tidak dapat dikontrol kualitasnya. Padahal konsumsi air galon yang dibeli oleh masyarakat menghabiskan hampir sepertiga dari penghasilan perbulan yang seharusnya dapat digunakan untuk keperluan lain. Setiap rupiah yang dikeluarkan untuk setiap kubik air gallon hanya memperkaya pemilik modal besar. Sedangkan air perpipaan akan menambah pemasukan daerah melalui PDAM.

Penyediaan air minum perpipaan adalah kunci untuk meningkatkan ekonomi masyarakat Indonesia, Jambi pada khususnya. Dengan akses terhadap air minum perpipaan, pemerintah membantu masyarakat untuk mengurangi beban ekonomi rumah tangga dengan membeli air botolan, menyediakan infrastruktur dasar agar generasi mendatang dapat minum air dengan kualitas baik. Meminum air dengan kualitas baik ini sangat penting bagi kesehatan, meningkatkan produktifitas generasi kedua dan generasi ketiga. Tidak ada kota kota nesar di negara maju yang tidak menyediakan air perpipaan yang dapat diminum untuk rakyatnya.

“Bagi saya pendidikan S3 penting, berkontribusi kepada masyarakat sama penting-nya. Jembatanya adalah penelitian dengan subjek yang mendukung pembangunan, seperti air minum perpipaan,” jelasnya.

Cakupan pelayanan air minum kita, katanya, masih sangat rendah. Kota Jambi misalnya, pada tahun 2015 hanya melayani 61 % jumlah penduduk Kota Jambi. Sedangkan PAM JAYA hanya melayani penduduk Jakarta sebanya 62%.  Permasalahannya komplek, sosial, teknis, air yang disalurkan tidak dapat diminum secara langsung sehingga kalah oleh air galon yang katanya dapat diminum.

 

Sebaliknya di Belanda, air perpipaan yang dapat diminum mencapai 100% dan terbukti  mengurangi pengeluaran dan menyiapkan generasi masa depan yang lebih baik.

Apakah kita terlambat untuk memulai? Harus dimulai, bagaimana pun penyediaan air minum perpipaan tidak hanya meringankan beban masyrakat yang menghabiskan sepertiga penghasilannya untuk membeli air gallon setiap bulan.

“Menyiapkan generasi kedua yang lebih sehat dan cerdas tentu dilakukan dari sekarang, dilakukan dengan menjamin apa yang mereka minum,” katanya.

Mengakhiri tulisan ini, Ir. Nicco Plamonia, MT.,M.Sc, PhD adalah salah satu contoh  putra kerinci, Putra Provinsi Jambi yang berusaha berkontribusi dan menginspirasi pembaca agar tidak menyerah dengan keadaan, tetap berusaha apapun latar belakang keluarga kita dan tetap berkontribusi untuk masyarakat dari lingkungan terkecil. (pas)

 

Biodata

Nama             : Ir. Nicco Plamonia, MT.,M.Sc, PhD

Lahir               : 15 Juni 1983

Istri                 : Putri Yuze, S.KM

Anak               : Akbar Alifano Kadir

Pendidikan    :

  1. Doctor of Philosophy (Ph.D) 03 Dec 2015 – 03 Dec 2020 University of Twente, Enschede, The Netherlands Construction Management & Engineering
  2. Master of Science (M.Sc) 03 Dec 2013 – 24 Nov 2014 University of Twente, Enschede, The Netherlands Construction Management & Engineering
  3. Magister Teknik (M.T) 15 Jul 2008 – 26 Oct 2010 Institut Teknologi Bandung, Bandung,Indonesia Infrastructure & Sanitary Engineering
  4. Profesi Insinyur (Ir.) 01 Aug 2017– 05 Jul 2018 Institut Teknologi Bandung, Bandung,Indonesia
  5. Sarjana Teknik (S.T.) 01 Aug 2002 – 24 Mar 2005Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia Kelautan
  6. Sarjana Teknik (S.T.) 01 Aug 2000 – 09 Mar 2005 Universitas Pancasila, Jakarta, Indonesia Teknik Sipil

Komentar

Rekomendasi




add images