JAMBIUPDATE.CO, JAMBI – Pemerintah Kota Jambi mulai bertindak tegas dalam membenahi persoalan sampah yang selama ini menjadi wajah kusam kota.
Sedikitnya sekitar 80 tempat pembuangan sampah (TPS) resmi kini ditutup dan dijaga ketat petugas untuk mencegah warga kembali membuang sampah sembarangan.
Langkah itu menjadi sinyal kuat dimulainya perubahan besar sistem pengelolaan sampah di Kota Jambi.
BACA JUGA: Kabar Duka Haji Jambi ! Asniyati Jemaah Haji Kloter BTH 24 Asal Sarolangun Wafat di Makkah
TPS yang selama ini dipenuhi tumpukan sampah dan menimbulkan bau menyengat perlahan mulai dihilangkan, terutama di kawasan protokol dan wilayah yang telah menerapkan sistem Operator Pengumpul Sampah Berbasis Masyarakat (OPBM).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Jambi Mahruzar mengatakan, penutupan TPS dilakukan bertahap dan difokuskan pada titik-titik yang sudah dilayani armada pengangkut sampah berbasis masyarakat.
BACA JUGA: Listrik PLN Padam di Sumatra, Hutama Karya Pastikan Operasional Jalan Tol Tetap Normal
“TPS yang ditutup diutamakan yang sudah berjalan OPBM dan berada di jalan protokol,” ujarnya, Minggu (25/5/2026).
Tak hanya ditutup, sejumlah TPS kini dijaga petugas untuk mengantisipasi masih adanya warga yang nekat membuang sampah di lokasi tersebut. Sebab, kebiasaan lama masyarakat membuang sampah di pinggir jalan dinilai masih menjadi tantangan terbesar dalam penataan kota.
Mahruzar mengungkapkan, sebelumnya Kota Jambi memiliki sekitar 200 TPS resmi dan sekitar 100 TPS liar yang tersebar di berbagai kawasan.
Kondisi itu dinilai membuat pengelolaan sampah tidak terkendali dan memicu munculnya titik-titik kumuh baru.
BACA JUGA: Kapolsek Jambi Timur Pimpin Patroli Bersama Forum RT Tanjung Pinang, Jaga Kamtibmas Lingkungan
Kini, pola lama itu mulai diubah. Sampah rumah tangga tidak lagi diarahkan menumpuk di TPS, melainkan dijemput langsung dari rumah warga menggunakan armada bentor OPBM.
Wali Kota Jambi Maulana sebelumnya menegaskan, langkah penutupan TPS dilakukan untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih tertata sekaligus mengubah pola pikir masyarakat terhadap kebersihan lingkungan.
Menurut Maulana, persoalan sampah tidak bisa lagi diselesaikan dengan menambah TPS di pinggir jalan. Sebaliknya, sistem pengangkutan harus langsung menyentuh sumber sampah dari rumah tangga.
