KUBAH BARU: Gunung Merapi di perbatasan Jateng DIJ masih terus bergejolak. Lava pijar kerap keluar dan terlihat jelas di malam hari dari kejauhan. (Istimewa)
JAMBIUPDATE.CO,  - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah menyiapkan mekanisme evakuasi khusus bagi warga di kawasan rawan bencana (KRB) erupsi Gunung Merapi. Bernama Sister Village dan diinisiasi sejak 2016 lalu, konsep ini tak luput dari sejumlah kendala.
Sister village ini sebagaimana Kalakhar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah Sarwa Pramana jelaskan, konsepnya berasal dari pengalaman erupsi Merapi 2010 lalu. Konsep dasarnya yakni persaudaraan yang dibangun antar sejumlah desa di Lereng Merapi.Â
Tak cuma antar desa dalam satu kecamatan saja, bahkan bisa menyeberang ke kabupaten lain jika jarak wilayahnya memungkinkan dan aman. Seperti Desa Tlogolele di Selo Boyolali dengan Desa Sawangan di Kabupaten Magelang sebagai contoh. Intinya, semua meliputi titik-titik di Kabupaten Klaten, Boyolali, dan Magelang.Â
"Di mana penduduk-penduduk yang berdomisili di kawasan KRB-III ini, pada saat terjadi pengungsian, mereka akan masuk ke daerah penyangga. Daerah wilayah aman yang tak tersentuh dengan bencana," katanya, Senin (21/1).
Kata Sarwa, masyarakat ini sudah punya pasangan masing-masing di antar desa, meski mereka sendiri sebenarnya bukan saudara atau sebelumnya tak mengenal satu sama lain. Mereka di-setting saling dekat, sehingga pada akhirnya tahu informasi yang dibutuhkan untuk menuju ke mana manakala bencana datang.
"Tapi, ada kelemahannya. Belum semua pasangan (warga) dipertemukan. Mungkin di Klaten, Boyolali, Magelang sebagian sudah, tapi memang belum semua," sambung Sarwa.
Menurut Sarwa, agar semua bisa terlaksana seusai rencana itu butuh waktu dan proses. Masih sangat perlu dilakukan gladi secara bertahap.
"Misal saya, mau evakuasi ke tempat seseorang di jalan ini, itu biar tahu arahnya ke mana, harus dipraktikan terlebih dahulu," katanya lagi. Seperti di Klaten itu dibuat seperti silaturahmi ke daerah penyangga. Bertemu ke Ketua RT, RW, Lurah setempat dipimpin oleh Kepala Desa.Â
Ia pun berharap praktik seperti ini bisa ditiru desa-desa lain di samping pemerintah daerah yang terus mendorong pertemuan masing-masing warga. Sehingga ke depan, tak hanya jadi percontohan untuk kawasan Jateng lainnya. Jika sister village terlaksana lancar, diterapkan ke skala nasional pun memungkinkan.
"Ibarat seratus persen warga, masih ada 50 persen lebih (yang belum bertemu pasangannya). Tapi percontohan itu sudah pernah, gladi juga. Cuma ini (sister village) ini sebagai penguat saja. Karena di Klaten dan Magelang sudah ada TPA (Tempat Pengungsian Akhir). TPA A untuk dari desa mana, B dari mana. Tapi sister village ini sangat membantu," tandasnya.
Editor : Sari Hardiyanto
Reporter : Ridho Hidayat, Tunggul Kumoro
Alamat: Jl. Kapten Pattimura No.35, km 08 RT. 34, Kenali Besar, Alam Barajo, Kota Jambi, Jambi 36129
Telpon: 0741.668844 - 0823 8988 9896
E-Mail: jambiupdatecom@gmail.com