Lebih lanjut ia mengatakan, kabar ini menjadi heboh karena suami Rasdianti adalah WNA dan dianggap suami memperalat isteri untuk membeli pulau.
Secara sosiologis muncul sentimen nasionalisme bahwa orang asing membeli pulau di Selayar dan itu dianggap sebagai ancaman.
“Padahal motivasi pembelian pulau itu belum kita ketahui. Bisa jadi untuk kegiatan konservasi, pendidikan atau penelitian. Lalu, pengaruh media sosial yang sangat cepat memviralkan fenomena apapun yang dianggap kontroversial,” ungkap Dr Sawedi Muhammad kepada fajar.co.id, Rabu (3/2/2021).
Selain alasan itu, justru yang menarik adalah munculnya kesadaran publik yang mengkritisi kinerja pemerintah dalam pengelolaan sumber daya alam untuk kemakmuran rakyat.
Kawasan TN Taka Bonerate, menurut Sawedi, jika dikelola secara maksimal maka akan membuka lapangan pekerjaan berkelanjutan bagi warga setempat. Kawasan atol terbesar ketiga di dunia ini adalah surga bagi pecinta wisata laut dan dapat mengundang jutaan wisatawan lokal dan mancanegara apabila dikelola dengan profesional dan terintegrasi.
“Orang luar saya kira gemes melihat betapa kekayaan SDA kita yang melimpah tapi disia-siakan. Fenomena transaksi jual beli ini seharusnya menjadi “wake up call” bagi pemerintah bahwa kejadian ini tidak berdiri sendiri,” tegas dia.
Masyarakat juga perlu diberi pemahaman bahwa kawasan TN adalah kawasan steril dari transaksi jual beli. Tapi di sisi lain pemerintah harus membuka lapangan pekerjaan berkelanjutan bagi masyarakat di sekitar kawasan.
“Tanpa pekerjaan dan pendapatan berkelanjutan, masyarakat pasti akan mencari jalannya sendiri untuk bertahan hidup. Mereka terpaksa dan tergoda menempuh jalan pintas seperti pengeboman ikan, penggunaan sianida atau menambang terumbu karang,” tuturnya lugas. (endra/fajar)