iklan KH Sahal Mahfudz, Foto: jpnn
KH Sahal Mahfudz, Foto: jpnn
Kiai kharismatik dan terkenal sederhana Sahal Mahfudh akhirnya tutup usia. Setelah berjuang melawan penyakit yang menggerogoti kesehatan beberapa waktu terakhir, kiai kelahiran 17 Desember 1937 itu menghembuskan nafas Jumat dini hari kemarin pukul 01.05 WIB di komplek pesantren Mathaliul Falah, Kajen, Pati, Jawa Tengah.

Hingga kepergiannya, kiai Sahal masih menjabat sebagai pemimpin tertinggi (rais "aam) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Selain itu kiai dengan konsentrasi penguasaan ilmu fiqih itu menduduki ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) sejak 2000 sampai saat ini.

Wasekjen PBNU Muhammad Sulthan Fatoni menuturkan, dalam beberapa pekan terakhir kondisi keseahatan pengasuh pondok pesantrean Maslakul Huda, Kajen Margoyoso itu memang labil. Kiai Sahal bahkan sempat menjalani perawatan intensif di RS Kariadi Semarang beberapa waktu lalu. "Jumat pekan lalu kondisinya sempat membaik dan diizinkan pulang oleh dokter. Tetapi tiga hari setelahnya, kembali menurun kondisinya," jelas Sulthan kemarin.

Dia mengatakan seluruh jajaran PBNU memberikan penghormatan terakhir yang mendalam kepada kiai Sahal. Bentuk penghormatan itu diantaranya melaksanakan salat ghaib. Selain itu di markas PBNU juga digelar tahlilal selama tujuh hari berturut-turut.

Mantan Ketum PBNU Hasyim Muzadi merasa kehilangan atas wafatnya kiai Sahal. Beginya kiai Sahal merupakan panutan warga nahdliyin dan bangsa Indonesia. "Wafatnya kiai Sahal merupakan kehilangan besar bagi NU, umat, dan bangsa Indonesia," ujarnya.
--batas--
Hasyim menceritakan dia pernah sepuluh tahun memimpin NU bersama kiai Sahal. Dia menuturkan selama mempimpin NU, kiai Sahal merupakan sosok yang konsisten menjaga Khittah NU. Hasyim mengatakan kiai Sahal selalu menyampaikan NU hendaknya berada di tingkat high politic bukan low politic (politik praktis/partai).

Pengasuh pondok pesantren Al-Hikam Malang itu menambahkan, kiai Sahal adalah ilmuan pakar ilmu usul fiqih. Rekam jejak kiai Sahal diantaranya mengeluarkan teori Fiqih Sosial yang membawanya mendapatkan gelar doktor honoris causa dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Ucapan belasungkawa juga keluar dari kalangan birokrat. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh mengatakan kedekatannya dengan kiai Sahal dimulai ketika ditunjuk menjadi ketua yayasan Rumah Sakit Islam (RSI) Surabaya.

"Saat diundanng ke kediaman kiai Sahal di Pati, saya diminta pendapat tentang masa denpan RSI yang selalu merugi dan hutangnya terus menumpuk," paparnya. Setelah berdiskusi agak lama, kiai Sahal akhirnya menunjuk Nuh menjadi ketua yayasan RSI Surabaya.

Karena yang meminta adalah kiai Sahal langsung, Nuh langsung bersedia. "Sami"na wa atha"na, monggo kerso kiai, dalem nderek mawon," ucap Nuh mengenang masa itu. Sejak saat itu komunikasinya dengan kiai Sahal cenderung semakin intensif. Dia mengaku sangat bahagia bisa dikarunia pengalaman dan kesempatan bersilaturahmi dengan orang-orang mulia, seperti kiai Sahal.

Wakil Menteri Agama (Wamenag) Nasaruddin Umar menuturkan, kiai Sahal selama hidupnya selalu bersikap adil dalam memberikan pelayanan kepada umat. Dia menuturkan kiai Sahal adalah sosok yang unik. Sebab dia bisa menjaga hubungan baik dengan pemerintah dan para pengurus partai. "Kiai Sahal tidak pernah menggunakan pengaruhnya untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu," papar dia.

Sementara itu, di tengah kunjungannya di lokasi bencana letusan Gunung Sinabung, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan telah menerima kabar duka wafatnya Ketua MUI yang sekaligus Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Sahal Mahfudz.

Didampingi oleh Mensesneg Sudi Silalahi, Menko Polhukam Djoko Suyanto, dan Mendagri Gamawan Fauzi, SBY telah menyampaikan ucapan belasungkawanya kepada keluarga almarhum melalui telepon, dari tempatnya bermalam di tenda yang didirikan di antara penampungan pengungsi di Kabanjahe, Kabupaten Karo.

Dalam sambungan telepon itu, SBY menyampaikan akan membantu keluarga dalam proses pemakaman KH. Sahal Mahfudz, yang dilaksanakan kemarin. "Presiden SBY mengucapkan belasungkawa kepada keluarga Rais Aam PBNU KH Sahal Mahfudz dan akan bantu proses pemakaman," demikian bunyi kultwit yang tertuang dalam akun twitter pribadi Presiden SBY, @SBYudhoyono, yang diunggahnya beberapa saat lalu.

Presiden RI keenam itu juga telah mengutus Staf Khusus Presiden Bidang Publikasi dan Dokumentasi Ahmad Yani Basuki untuk melayat ke rumah duka di Pati, Jawa Tengah. Dari Jakarta, yang bersangkutan pun segera bertolak ke Pati. "Saya diutus untuk mewakili beliau (SBY), takziah. Ya Alhamdulillah meski sempat terkendala banjir dan macet, akhirnya bisa sampai ke sana.,"jelas Ahmad saat dihubungi Koran ini, kemarin.

Soal bantuan yang diberikan SBY, Ahmad enggan berbicara detail soal jenis bantuan yang diberikan Presiden 64 tahun itu. Dia hanya menekankan bahwa bantuan tersebut adalah bantuan yang lazimnya diberikan saat melayat. "Ada lah (bantuan). Ya membantu sebagaimana takziah kepada orang-orang lainnya. Kalau disebut kan nanti jadi riya," imbuhnya.

sumber: jambi ekspres

Berita Terkait



add images