JAMBIUPDATE.COM, MERANGIN - Aroma tak sedap tentang praktek penyalah gunaan jabatan dalam mengambilan proyek di Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Merangin, mencuat kepermukaan. Kali ini, aroma yang menyengat dan berbau tersebut datang dari bidang Sumber Daya Air (SDA).
Sejauh ini, beberapa pihak rekanan merasa resah dalam melobi proyek di SDA. Mereka diharuskan membayar uang muka dulu, bila menginginkan suatu proyek pekerjaan.
Menariknya, bila besar proyek dapat di lobi pihak rekanan, mereka diharus membayar 12 parsen dari anggaran tersebut, bila kecil proyek tersebut, maka kecil pula nominal setoran yang di beri.
Resahnya pihak rekanan ini, diakui seorang kontraktor minta namanya tak disebut. Dia mengunggkapkan, bahwa dirinya sudah menyetor uang sebanyak Rp 5.000.000 juta ke Kepala Bidang (Kabid-SDA), Basuni. Namun hingga saat ini dirinya belum mendapat pekerjaan yang di janjikan. Bahkan, ada juga rekannya menyetor sampai puluhan juta rupiah.
"Itu lah yang terjadi, tidak hanya kami yang memberikan setoran untuk mendapatkan Proyek di SDA, tetapi beberapa rekan kami semuanya menyetor ke Kabid untuk mendapat untuk mendapat proyek" ungkap sumber yang bisa di percaya Rabu (11/11).
Dikatakannya, dirinya menyetor uang tersebut, lantaran harus mengikuti arus, sebab, setiap pihak rekanan menginginkan pekerjaan harus memberi setoran dulu kalau tidak di penuhi pekerjaan tersebut tak kunjung diberikan.
"Kita terpaksa harus mengikuti cara main, jika tidak dipenuhi, kita tidak akan mendapat pekerjaan," singkatnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Sumber Daya Air (Kabid-SDA) Basuni, membantah kalau dirinya mengintruksikan ke pihak rekanan agar menyetor uang jika ingin mengambil proyek di bidangnya.
"Dari mana informasinya, siapa rekanan itu biar kita panggil. Saya tidak pernah membuat skejul demikian, itu bohong," tepis Basuni.
Dikatakannya, kontraktor yang berkoar-koar tersebut, bukan lantaran dia menyetor dan tidak menyetor, itu disebabkan karena mereka tidak mendapatkan pekerjaan di bidang saya. Maka mereka membuat skenario sedemikian rupa agar terpojok.
"Bagaimana lagi, ibaratnya begini, kita punya kue sepuluh sementara peminatnya sekitar orang empat puluh, jadi 30 orang tersebut itulah yang selalu bernyanyi supaya kedudukan saya terpojok," pungkasnya.(amn)
