JAMBIUPDATE.CO, BATANGHARI - Apabila kita berkunjung ke Kabupaten Batanghari, hendaknya sempatkan diri mengunjungi Masjid Syuhada yang terletak di tepian sungai terpanjang di Sumatera, tepatnya di Kecamatan Muara Sebo Ilir (MSI), yang telah dinobatkan sebagai masjid tertua di Batanghari pada 23 Februari 2010, oleh Bupati Batanghari, Syahirsah saat menjabat pada periode pertama.
Bangunan awal masjid ini ada sejak tahun 1918, dan seperti bangunan lainnya, masjid ini juga berbentuk panggung dan terbuat dari kayu bulian serta beratapkan daun rumbai.
Masjid ini bisa diakses melalui dua jalur yakni jalur darat melewati Muara Tembesi dengan jalan memutar dan jalur cepat via penyebrangan Sungai Batanghari di Desa Terusan MSI.
Jika ingin merasakan sensasi menyeberangi sungai Batanghari dengan menggunakan ketek (alat transportasi air khas Jambi,red), cukup merogoh kocek Rp 7.000 dan bisa langsung turun di dekat masjid berwarna hijau dan terlihat mencolok dari bangunan disekitarnya.
Marbot mesjid bernama Muhammad bercerita panjang lebar saat disambangi jambiupdate beberapa waktu lalu.
Diceritakanya, Masjid Syuhada pada awal pembangunannya yakni tahun 1918, saat masih berbentuk panggung dan beratapkan rumbai, masjid ini bernama Masjid Imam Ahmad. "Namun pada tahun 1929, mulai dilakukan perencanaan ulang untuk merenovasi bangunan masjid," kata Muhammad.
Pembangunan ulang masjid tidak serta merta dilakukan pada tahun 1929, namun batu pada tahun 1933 perencanaan matang dan bangunan lama berupa masjid panggung, dibakar dan mulai dibangun masjid baru. "Tanah untuk membangun masjid Syuhada merupakan tanah wakaf dari warga yang bernama Bilal Penek, dengan luas tanah 10 depo Jago Pati Bidin, " lanjutnya.
Karena tanah wakaf ini tidak mencukupi untuk pembangunan seluruh masjid, maka secara swadaya masyarakat menyediakan lahan sehingga total lahan yang digunakan untuk bangunan ini diperluas. Bangunan asal dengan Panjang 15,80 Meter, Lebar 16.00 meter, dibagian Mihrab (tempat imam) sepanjang 3,20 meter dan lebar 3,20 meter.
"Ada penambahan bangunan di belakang masjid, dengan panjang 17,80 meter dan lebar 18.00 meter," ujarnya.
Masjid Syuhada dibangun dari sumbangan beberapa orang, dan sumbangan yang diberikan juga beragam seperti emas maupun berbentuk kerbau. "Adalah H Abdullah atau Dolah menyumbangkan 20 suku emas, H Zainuddin alias Din menyumbangkan 15 suku emas, H Muin dan Suib masing-masing menyumbangkan 5 suku emas, H Syafei menyumbangkan 3 ekor kerbau dan terakhir 2 ekor kerbau sumbangan dari Jago Pati Bidin," ceritanya.
Berbekal sumbangan-sumbangan ini, dibangun lah masjid dari hasil gambaran KH A Masjid Hamzah dari Tanjung Johor, Jambi dan tukang berasal dari Cina Singapura. Sementara material didapat dari Kota Jambi, yang diangkut menggunakan kapal uap atau kincir sebagai alat transportasi khas jaman dahulu.
Tangga yang digunakan untuk naik ke menara dan kubah masjid, terbuat dari kayu bulian yang terkenal dengan kekokohannya selain itu kunsen juga dibuat dari kayu bulian. Karena tukang yang dipekerjakan adalah keturunan Cina Singapura, maka ciri khas Cina masih terlihat di bangunan masjid ini dan ciri khas inilah yang membedakan dengan masjid lainnya.
"Sebagai bukti pernah adanya bangunan masjid panggung dahulu, sampai saat ini masih ada potongan kayu bulian yang dulu digunakan sebagai tangga dan terletak disamping bangunan Mihrab," ucapnya.
Di Masjid ini masih dilangsungkan tradisi kegiatan keagamaan seperti buka bersama, pengajian dan kegiatan lainya," ujarnya.
Namun sayang nya, meski ditetapkan sebagai masjid tertua, masyarakat masih harus berswadaya untuk memelihara dan menjaganya tetap lestari. (cr2)
