JAMBIUPDATE.CO, JAMBI - Indonesia saat ini sudah memasuki krisis Migas. Kondisi ini tentunya menjadi perhatian semua pihaknya. Tidak hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat di seluruh Indonesia.
Ryan B Wurjantoro, Humas SKK Migas Pusat, memyebutkan, Indonesia saat ini kekurangan migas. Hanya mampu memproduksi 800 ribu dari target 815 ribu barel per hari. Sementara, konsumsi 1,6 juta barel per hari.
"Kondisi ini membuat Indonesia lebih banyak mengimpor dari pada mengekspor ke negara lain. Jadi terpaksa kita impor BBM," ujar Ryan B Wurjantoro, saat pembukaan Media Gathering dan Media Kompetisi Tahun 2017 di Hotel BW Suite Belitung, Selasa (1/7).
Beberapa fakta lainnya yakni cadangan minyak Indonesia jauh lebih rendah dari negara lain. Hanya 0,2 persen atau setara 3,6 miliar barel dari total cadangan minyak di dunia. Cadangan ini juga akan habis dalam waktu tidak lama lagi. Ini membuktikan Indonesia tidak lagi kaya akan minyak.
Selanjutnya, kesenjangan konsumsi dan produksi yang semakin melebar. Kondisi ini sangat perlu sosialisasi ke masyarakat.
Secara geologis potensi migas masih menjanjikan untuk menambah cadangan Migas. Tapi masih banyak yang belum dieksploitasi.
"Minyaknya di Indonesia wilayah Timur. Cekungan banyak disitu. Tapi banyaknya gas. Temuan lebih banyak di laut dalam dengan biaya, resiko, teknologi yang lebih tinggi," Jelas mantan Jurnalis TVRI ini.
Untuk saat ini, di Indonesia ada 85 wilayah produksi. 42 diantaranya terdapat di wilayah Sumbagsel.
Dari beberapa fakta ini, ada tiga solusi. Yakni meningkatkan produksi Migas dengan teknologi baru, meningkatkan ekplorasi migas, memperpendek jeda waktu dari sumber penemuan migas ke produksi.
"Desain aja bertahun tahun. Jadi itu yang harus diperpendek. Simpulannya, kita memasuki era krisis migas. Kami punya kewajiban ke masyarakat menyampaikan indonesia dalam kondisi krisis migas. Semua pihak untuk membantu. Masyarakat maupun media," tandasnya. (pds)
