iklan Ilustrasi.
Ilustrasi.

JAMBIUPDATE.CO, JAMBI - Harga Tandan Buah Segar (TBS) di Provinsi Jambi untuk sepekan kedepan kembali mengalami kenaikan sebesar Rp 12, 35.

"Kenaikannya ini tidak terlalu terlalu signifikan tetapi setiap minggu ini diperkirakan akan selalu naik," kata Kabid Pengolahan Standarisasi dan Pemasaran Hasil Perkebunan Provinsi Jambi, Putri Rainun, Kamis (9/11).

Dari hasil rapat tim perumus menetapkan harga dan Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit, CPO, dan inti sawit untuk periode 10 hingga 16 November 2017. Yaitu ditetapkan harga TBS usia tanam tiga  tahun  Rp 1,536.63, usia tanam empat tahun Rp  1,649.60, usia tanam  lima tahun Rp  1,724.81.

Untuk usia tanam enam tahun Rp 1,796.34, usia tanam tujuh tahun Rp 1,841.56, usia tanam delapan tahun Rp 1,881.52, usia  tanam sembilan tahun Rp 1,918.06. Sesangkan usia tanam 10 hingga 20 tahun Rp 1,979.65,  usia tanam 21 hingga 24 tahun Rp 1,921.81, dan usia tanam 25 than Rp 1,836.79.

Sementara itu, harga CPO saat ini Rp 8,186.39 dan Kernel atau inti sawit sebesar Rp 7,906.22 dengan indeks K 89.64 persen.  Putri menambahkan,  dalam hal ini faktor kenaikan harga TBS dikarenakan tergantungnya tanggal transaksi dan pembeli.

"Maksudnya dari tanggal transaksi yaitu hitungan perhari dalam penjualan dari pabrik ke pembeli bisa saja terjadi perubahan harga,"katanya.

Selain itu, kenaikan  harga TBS kali ini di katakan Putri dipengaruhi juga akan permintaan yang meningkat,dipengaruhi permintaan yang tinggi untuk bahan baku TBS ke pabrikan,karena faktor pasar global turut andil dalan mepengaruhi tinggi atau naiknya TBS maupun CPO.

Dalam hal ini di jelaskan Putri harga TBS yang mengikuti mekanisme pasar dunia sehingga permintaan yang besar pun sangat mempengaruhi kenaikan harga TBS.

"Harga TBS kelapa sawit mengalami kenaikan yang mana ini sesuai dengan harga minyak sawit di pasar dipasar global yang juga meningkat,"ujarnya.

Ia menambahkan secara persaingan  global CPO terhadap minyak kedelai, minyak bunga matahari dan minyak jagung, pada prinsipnya berkurang dikarenakan musim trek,tetapi dalam hak ini persaingan terhadap minyak sejenisnya tidak terlalu teras dikarenakan pasarnya yang berbeda.

"Mengalami sedikit trek ini juga yang menjadi satu diantara faktor yang menpengaruhi permintaan, jadi ketersediaan barang yang sedikit ini akbit trek membuat pabrik pabrik berebut mencari TBS sehingga harganya menjadi naik," pungkasnya. (yni)


Berita Terkait