JAMBIUPDATE.CO, JAMBI-Kredit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Jambi pada triwulan IV 2017 lalu tercatat sebesar Rp 12,12 Triliun atau tumbuh sebesar 11,00 persen (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya tumbuh sebesar 8,77 persen. Pertumbuhan kredit UMKM tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan total kredit bank umum sebesar 7,85 persen.
Pangsa kredit UMKM pada Triwulan IV 2017 tercatat sebesar 36,66 persen dari total penyaluran kredit oleh bank umum di Provinsi Jambi. Bayu Martanto, Kepala Kantor Bank Indonesia (BI) Provinsi Jambi mengatakan, berdasarkan distribusi kredit UMKM terkonsentrasi merata pada masing-masing jenis kredit.
Pada triwulan IV 2017 pangsa kredit mikro, kecil dan menengah masing-masing sebesar 34,30 persen, 37,06 persen dan 28,64 persen terhadap total kredit UMKM komposisi tersebut relatif sama dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 33,34 persen, 37,99 persen dan 28,67 persen.
"Sebagian besar porsi kredit UMKM di Provinsi Jambi digunakan untuk membiayai kebutuhan operasional perusahaan terutama modal kerja," kata Bayu.
Ia menambahkan, hal tersebut tercermin dari pangsa kredit modal kerja yang mencapai 64,35 persen dari total kredit UMKM. Selebihnya penggunaan kredit UMKM sebesar 35,65 persen ditujukan untuk kegiatan investasi.
Hal tersebut mengindikasikan bahwa sebagian besar UMKM di Provinsi Jambi masih dalam skala memenuhi kebutuhan jangka pendek yaitu modal kerja yang digunakan untuk membiayai kegiatan operasional yang bersifat rutin.
Sebagian kecil lainnya telah mampu melakukan pengembangan atau ekspansi usaha dengan menggunakan fasilitas kredit investasi yang lebih bersifat jangka menengah atau jangka panjang. Kredit modal kerja tumbuh sebesar 9,89 persen (yoy) pada triwulan IV 2017 lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang mencapai 10,57 persen (yoy).
Kredit investasi dengan nilai nominal kredit yang lebih rendah tumbuh 13,06 persen(yoy) pada triwulan IV 2017 atau lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang hanya tumbuh sebesar 5,50 persen (yoy).
Secara sektoral kredit UMKM terkonsentrasi pada sektor perdagangan hotel dan restoran dengan share paling tinggi yaitu 51,92 persen dari total kredit UMKM, diikuti kredit pada sektor pertanian peternakan kehutanan dan perikanan sebesar 28,24 persen.
Kredit UMKM untuk sektor perdagangan hotel dan restoran pada triwulan IV 2017 mencapai Rp 6,209 triliun yang didominasi oleh kredit sektor perdagangan eceran berbagai macam barang yang didominasi makanan minuman dan tembakau sebesar Rp 1,30 triliun atau pangsa 20,62 persen, diikuti oleh subsektor perdagangan kelapa dan kelapa sawit sebesar Rp 400 miliar atau pangsa 6,30 persen dan Subsektor perdagangan eceran komoditi lainnya bukan makanan minuman atau tembakau sebesar Rp 380 miliar atau pangsa 6,07 persen.
Sementara kredit UMKM sektor pertanian peternakan kehutanan dan perikanan pada Triwulan IV 2017 tercatat Rp 3,42 Triliun. Komposisi terbesar masih didominasi oleh subsektor perkebunan kelapa sawit dengan nominal kredit Rp 2,50 triliun atau pangsa 73.01 persen dan sub sektor perkebunan karet dan penghasil getah sebesar Rp 580 miliar triliun Rp dengan pangsa kredit sebesar 16,98 persen.
"Portofolio tersebut sejalan dengan perekonomian Provinsi Jambi yang sedang ditopang oleh kinerja komoditas kelapa sawit dan karet,"terangnya. Risiko kredit yang tercermin dari rasio Non Performing Loan (NPL) UMKM mengalami perbaikan signifikan ditunjukkan ditunjukkan oleh penurunan rasio NPL dari 4,52 persen (gross) pada triwulan 3 2017 menjadi 3,07 persen ( gross) pada triwulan laporan . Perbaikan kinerja tersebut terutama disebabkan oleh tumbuhnya penyaluran kredit pada triwulan laporan sebesar 3,06% (qtq).
Perbaikan kinerja terjadi pada seluruh jenis kredit UMKM yang diindikasikan oleh penurunan rasio NPL kredit usaha mikro terpantau turun menjadi 1,81 persen (gross) dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 2,33 persen gross.
Sementara rasio NPL kredit usaha kecil turun dari 5,44 persen (gross) pada triwulan III 2017 menjadi 3,94 persen (gross) pada triwulan IV 2017. Hal yang sama dialami kredit usaha menengah dengan penurunan rasio NPL dari 5,83 persen (gross) menjadi 3,46 persen (gross). (yni)
