JAMBIUPDATE.CO, JAKARTA Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengklaim Indonesia merajai sektor perikanan di kawasan ASEAN. Peningkatan nilai tukar usaha, nilai tukar nelayan, daya beli, dan ekspor menjadi indikatornya.
Yang harus diingat, pertumbuhan di sektor perikanan ini mutlak karena kekuatan armada dalam negeri. Karena sejak November 2015 kapal-kapal asing dan eks asing tidak boleh lagi beroperasi di Indonesia, ujarnya di Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, Selasa (23/10).
Dengan kebijakan tersebut, kata Susi, selama empat tahun terakhir ini volume dan value perikanan tangkap Indonesia terus mengalami kenaikan, khususnya pada sisi value. Artinya, selain jumlah ikan di perairan Indonesia meningkat, nilai jualnya juga menjadi jauh lebih tinggi.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan pertumbuhan PDB (Product Domestic bruto) perikanan Indonesia terus mengalami kenaikan selama empat tahun terakhir. Pada tahun 2014 PDB Perikanan Indonesia naik 7,35 persen, lalu pada 2015 naik kembali sebanyak 7,89 persen. Pada 2016 kembali naik sebanyak 5,15 persen dan kembali tumbuh 5,59 persen pada 2017.
Prestasi tersebut juga diikuti dengan kenaikan pertumbuhan produksi sektor perikanan tangkap Tanah Air, yakni 6.037.654 (2014), 6.204.668 (2015), 6.115.469 (2016), dan 6.424.114 (2017). Kenaikan ini disebabkan karena saat ini hanya kapal nasional, pengusaha nasional, dan juga modal nasional yang boleh menangkap ikan di Indonesia, jelas Susi.
Sedangkan di sektor produksi perikanan budidaya, Susi juga mengklaim yang cukup oke. Kenaikan itu meliputi budidaya udang, ikan patin, ikan lele, kepiting, ikan kakap, ikan gurame, dan ikan bandeng. Dengan naiknya produksi, maka dipastikan nilai ekspor juga meningkat.
Jadi jika ada yang bilang ekspor kita turun itu tak benar sepenuhnya. Sekarang ekspor ikan sudah diolah, dari bakso, nugget, hingga surimi. Kenaikannya cukup tinggi, kata Susi.
Kemudian pada sisi neraca perdagangan perikanan ada kenaikan ekspor sebesar 13,88 persen dari periode Januari-Juni tahun 2017 ke Januari-Juni tahun 2018 dengan nilai mencapai USD 2.055,71 juta. Pencapaian ini pun menempatkan neraca perdagangan perikanan Indonesia menjadi nomor satu di ASEAN untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Yang lebih meyakinkan lagi, dalam ASEAN, pertama dalam sejarah neraca perdagangan peikanan kita selalu di atas negara-negara ASEAN lainnya. Jadi sekarang mereka harus impor dari kita. Spesifik dari Sulawesi Utara misalnya naik ekspornya hingga seribu persen, jelasnya.
Sementara kenaikan pada sisi nilai tukar sektor perikanan terlihat dari angka 107 pada 2014 yang kemudian menjadi hampir 130 atau naik sekitar 30 persen pada 2018. Kenaikan ini terjadi karena kini usaha di bidang perikanan terus tumbuh akibat jaraknya lebih dekat antara nelayan dengan ikan, serta semakin banyaknya jumlah ikan dengan ukuran yang juga semakin besar.
Sentuhan ekonomi digital juga akan merambah sektor perikanan dan pertanian. Komitmen itu pun diungkapkan Menteri Komuniksi dan Informatika, Rudiantara. Kata dia, pihaknya menargetkan satu juta petani dan nelayan masuk online. Tujuannya, untuk memberikan solusi atas permasalahan di sektor pertanian dan perikanan dengan memfasilitasi pemanfaatan aplikasi yang tepat untuk menunjang pendapatan maupun memaksimalkan kinerja.
Target petani yang dimaksud adalah petani tanaman pangan dan hortikultura (kedelai, cabai rawit, dan bawang merah) terutama yang memiliki lahan kecil. Sedangkan, target nelayan yang dimaksud adalah nelayan tangkap, pembudidaya ikan, dan pelaku usaha di sektor kelautan dan perikanan. Dan kini, sudah 62 persen. Sehingga, kelak petani dan nelayan bisa menjual langsung ke end user, katanya.
(rdi/FIN)
Sumber: www.fin.co.id
