JAMBIUPDATE.CO, JAKARTA Penyakit Jantung merupakan salah satu masalah kesehatan utama dan penyebab nomor satu kematian di dunia. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tahun 2015 menyebutkan, lebih dari 17 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah. Atau sekira 31 persen dari seluruh kematian di dunia, sebagian besar atau sekira 8,7 juta kematian disebabkan oleh karena penyakit jantung koroner.
Lebih dari 75 persen kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah terjadi di negara berkembang yang berpenghasilan rendah sampai sedang. Yang cukup mengkhawatirkan lagi, tren penyakit jantung saat ini tidak hanya diderita oleh penduduk usia lanjut. Namun penyakit yang satu ini juga sudah banyak ditemukan pada usia muda.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan (Kemenkes), drg. Widyawati, MKM mengatakan, di Indonesia, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2018 menunjukkan bahwa sebesar 1,5 persen atau 15 dari 1.000 penduduk Indonesia menderita penyakit jantung koroner. Sedangkan jika dilihat dari penyebab kematian tertinggi di Indonesia, menurut Survei Sample Registration System tahun 2014 menunjukkan 12,9 persen kematian akibat penyakit jantung koroner.
Dari sisi pembiayaan, berdasarkan data BPJS Kesehatan, penyakit jantung menduduki peringkat teratas untuk biaya rawat inap diantara penyakit katastropik lainnya, jelas drg. Widyawati. Karena itu maka berbagai upaya telah dilakukan dalam pengembangan pelayanan kardiovaskular. Salah satunya yakni mempermudah akses bagi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kardiovaskular dengan cara menetapkan Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita sebagai Pusat Jantung Nasional dengan tugas mengampu jejaring kardiovaskular.
Adapun fungsi Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, kata drg. Widyawati yakni memetakan jejaring pengampuan nasional terhadap kapasitas/kemampuan Rumah Sakit Rujukan Nasional, Rujukan Provinsi dan Rujukan Regional yang dapat memberikan pelayanan kardiovaskular. Upaya dalam pengembangan Rumah Sakit Jejaring tersebut melalui tiga tahap yaitu tahap persiapan, pelaksanaan dan pemantapan. Strategi dalam pembinaan jejaring kardiovaskular antara lain pembinaan sarana dan prasarana, pembinaan alat kesehatan dan pembinaan SDM. Untuk pembinaan ini dilakukan perjanjian kerjasama antara Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita dengan Rumah Sakit Jejaringn, ujarnya.
Karena itu maka kelengkapan sarana dan prasarana serta alat, sangat dibutuhkan untuk penunjang penegakan diagnostik yang akurat guna menentukan terapi yang tepat. Dengan demikian, biaya pengobatan dapat ditekan dan dapat menurunkan angka mortalitas pada pasien. Untuk diketahui, program penanggulangan penyakit kardiovaskular mencakup mulai dari preventif, promotif.
Penyakit jantung dan pembuluh darah dapat dicegah dengan mengendalikan faktor risiko, seperti merokok, diet yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik dan konsumsi alkohol, agar tidak terjadi hipertensi, obesitas, kolesterol tinggi dan diabetes mellitus yang merupakan penyakit antara sebelum terjadinya penyakit jantung koroner.
(gat/fin)
Sumber: www.fin.co.id
