iklan

Niatnya membantu korban kecelakaan, membuat kehidupan Ali Saga berubah 180 derajat. Kini ia dikenal sebagai perajin kaki palsu di Kota Tangerang, Banten. Kaki palsunya kini melenggang hinggaBenua Eropa

Cuaca Kota Tangerang,sangat cerah. Secerah wajah Ali Saga menyambut kedatangan wartawan Fajar Indonesia Network (FIN). Ayo, silahkan masuk. Maaf ya mas, agak belepotan ruangannya, kata Ali saat ditemui wartawan di pabrik mininya, Kompleks Serbaguna Sitanala Lorong 6, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Banten, Kamis (13/12).

Ali menyebut pabrik mininya sanggar. Isinya sangat sederhana. Deretan foto-foto beragam kaki palsu karyanya memenuhi dinding. Ada juga beberapa foto-foto pembeli buah karyanya tersebut. Dalam foto itu, mereka tampak puas. Semuanya tersenyum dan memberi tanda jempol. Sanggar ini terhubung langsung dengan ruang produksi.

Masuk lebih ke dalam, terlihat beberapa perkakas kerja. Ada juga beberapa model kaki palsu. Di depannya, ada ruangan yang beralaskan tanah. Ali-sapaan Ali Saga langsung mematikan rokoknya saat mengantar wartawan masuk ke dalam ruangan tersebut. Aroma kimia tercium menyengat di dalam ruangan pengecatan itu.

Pria yang sempat bekerja di perusahaan periklanan ini mulai bercerita, bagaimana sanggar kaki palsu itu dibangun. Bermula dari musibah kecelakaan, membuat Ali harus di rawat di dua rumah sakit berbeda, awal 2005 silam. Selama dua bulan, Ali menghabiskan waktu di bangsal rumah sakit.

Selama di rumah sakit, ia harus melihat pasien yang menangis karena anggota tubuhnya harus diamputasi. Termasuk seorang pasien sekamar dengannya juga bernasib sama. Hampir setiap malam, ia mendengar wanita itu terus menangis. Hingga akhirnya, ia tergerak membantunya dengan membuat kaki palsu. Saya juga tahu, kalau ibu itu orang tidak mampu. Di kamar rumah sakit, saya berjanji akan membuatkan kaki palsu untuknya, kata Ali mengingat kejadian 13 tahun silam itu.

Sambil menyulut rokoknya, Ali meneruskan kisahnya. Beberapa hari di RS, Ali menjalani rawat jalan di rumah. Tanpa basa-basi, ia ke halaman belakang dan membuat kaki palsu dengan bahan seadanya. Bentuknya pun tak sebaik sekarang.

Sayang beribu sayang, setelah kaki palsunya hampir jadi, wanita tersebut tak bisa dihubungi lagi. Mubazir, Ali pun mencari tetangganya yang kakinya diamputasi. Kebetulan ada tetangga saya. Tapi setelah di coba ternyata tidak pas dan kepanjangan, tuturnya.

Ali sesaat terdiam dan mulai melanjutkan ceritanya. Ia hanya tak habis pikir, niat baiknya harus mendapatkan banyak cobaan. Namun, ia tak ingin membuat malu. Justru hal ini menjadi pelajaran berharga. Komitmen ini harus diwujudkan.

Ali pun memutuskan menyebar brosur mencari penyandang disibalitas yang kakinya diamputasi. Tawaran itu disambut. Ada lima orang yang datang meminta dibuatkan kaki palsu. Tapi dari lima orang, hanya tiga yang berhasil. Dua lainnya harus dilakukan perbaikan kaki palsu karena tidak nyaman saat digunakan. Ternyata saya salah, selama ini saya hanya membuat secara autodidak saja, padahal membuat kaki palsu harus dicetak dan dicocokan dahulu ke orangnya, terangnya.

Dari mulut ke mulut, bengkel Ali kebanjiran order. Namanya mulai kesohor, Ali pun sempat kebingungan menyanggupi pesanan yang hilir mudik mampir ke handphone-nya. Ali wajar bingung, pasalnya modal untuk membuat kaki palsu terbilang cukup merobek kantongnya.

Dan selama ini, Ali tak pernah mematok harga. Ali hanya meminta kepada pasiennya untuk membelikan barang mentah untuk nantinya dibuat kaki palsu. Bahan mentah yang disebut adalah gypsum.

Hisapan rokoknya mulai pendek, sampai akhirnya dibuang. Ali terus melanjutkan ceritanya. Jam berganti hari, hari berganti minggu. Hingga suatu hari, sebuah yayasan mendatanginya dan melihat caranya membuat kaki palsu. Orang tersebut mengambil foto beberapa hasil karyanya. Kaki palsunya berapaan pak? tanya orang tersebut. Ali yang bingung dapat pertanyaan itu menjawab seadanya. Lima ratus ribu, kata ayah dua anak tersebut.

Keesokan harinya, orang dari yayasan datang dan langsung meminta dibuatkan 150 kaki palsu. Ali senang sekaligus bingung. Sebab, tidak mungkin ia mengerjakan kaki palsu sebanyak itu seorang diri. Ia pun merekrut beberapa tetanggnya untuk memproduksi kaki palsu.

Karena lima ratus ribu hanya pas untuk modal prosuksi, saya minta naik. Akhirnya sepakat di angka Rp750 ribu, ujarAli mengenang peristiwa manis tersebut.

Pesanan itu adalah kontrak perdana bisnis kaki palsunya. Yayasan tersebut rencananya akan berkeliling Indonesia membagikan kaki palsu karyanya secara gratis. Dengan senang hati Ali menerima tawarannya.

Namanya semakin tenar. Pesanan mulai datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Beberapa lainya bahkan dari luar negeri. Sebut saja negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura mereka banyak yang datang memesan kaku palsu buatan Ali.

Tak cuma di regional negara tetangga, kaki palsunya ternyata mendapatkan tawaran bisnis hingga ke Eropa Barat. Seperti Jerman, Swiss dan Belanda pun mulai memesan kaki palsu buatannya. Semuanya disyukuri Ali. Pengorbanan selama ini membuahkan hasil. Meski tujuan utamanya bukan mencari keuntungan, tapi Ali berhasil menjadikan kaki palsunya sebagai lading amal sekaligus bisnis.

Saat ini, untuk memesan kaki palsu buatannya harus menungu selama lima sampai tujuh hari, yakni dua hari proses pembuatan. Satu hari proses pengeringan dan hari keempat pasien sudah bisa datang untuk mencobanya. Jika dirasa pas, bisa langsung digunakan pasien. Tetapi, jika dirasa kurang panjang, bisa langsung diperbaiki saat itu juga, tambahnya.

Saat ini, untuk satu kaki buatanya berkisar 5 sampai 8 juta. Tetapi kualitasnya tidak kalah dengan produksi luar negeri yang diyakini sebagian orang lebih baik. Sebenarnya itu bukan acuan juga. Kalau ada yang mau bisa datang langsung. Bahkan ada beberapa yang tidak mampu saya kasih gratis dan tidak dipungut biaya, tandasnya.

Hari semakin sore, Ali pun pamit harus melanjutkan pekerjaanya. Hingga kini, ribuan orang di sejumlah negeri di dunia terbantu hasil karyanya. Ya, niat awal Ali membantu orang, ternyata membuahkan hasil. Seperti pepatah, barang siapa yang menanam kebaikan, pasti akan menuai kebaikan pula.

(KHANIF LUTFI/fin/tgr)


Sumber: www.fin.co.id

Berita Terkait