Ilustrasi. Foto : net
Ilustrasi. Foto : net

JAMBIUPDATE.CO - Geliat partai politik (parpol) baru peserta Pemilu 2019 tak mau kalah dengan parpol lawas atau lama dalam berjuang menuju parlemen. Bagi Partai Garuda, Berkarya, dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mesin politik dalam momen kampanye terbuka sama saja dengan kampanye yang telah dimulai pada 23 September 2018. Begitu pula dengan Partai Bulan Bintang (PBB). Mesin politik mereka telah panas sejak awal. Secara umum, strategi kampanye tak ada yang berbeda dengan sebelumnya. Perlu diketahui, kampanye terbuka akan dimulai 13 hari lagi, persisnya mulai 24 Maret hingga 13 April mendatang atau selama 21 hari.

Ketua Umum Partai Garuda Ahmad Ridha Sabana mengungkapkan, partainya telah memetakan target setiap daerah pilihan (dapil) dari awal kampanye berjalan. Bedanya saat ini target dapil telah meningkat. Dari 80 dapil, Garuda saat ini fokus menggarap 48 dapil. Padahal awalnya hanya 42 dapil. "Kami sudah petakan jauh-jauh hari. Kami yakin punya peluang merebut di 48 dapil itu. Kami minta para caleg bekerja fokus di dapil tersebut," ujarnya kepada INDOPOS di Jakarta, Senin (11/3/2019).

Peningkatan jumlah dapil ini, lanjut Ridha, lantaran partainya dari awal memunculkan caleg lokal yang paham daerahnya. Ini untuk memudahkan penetrasi mereka. "Misalnya Jawa Barat (Jabar) yang daerahnya luas, caleg harus bergerak bisa mencapai dalam satu kabupaten yang berisi 44 kecamatan. Kami meminta mereka selesaikan target suara sekian persen lalu dikonversi per-TPS supaya kerjanya lebih efektif," paparnya.

Adapun daerah-daerah yang diyakini bisa memberi kantong suara, yakni Sulawesi Selatan (Sulsel), Riau, Sumatera Barat (Sumbar), beberapa titik di Jabar, satu atau dua titik di Jawa Tengah (Jateng). Bahkan di Maluku Utara (Malut) yang hanya tiga dapil Partai Garuda yakin bisa dapat kursi.

Selain itu, Ridha juga merasa partainya paling advance dalam monitoring administrasi dukungan. Alasannya, ia mewajibkan semua caleg mendata pendukungnya mulai dari nama, alamat hingga nomor telepon. Kemudian para caleg mengunggahnya ke sistem yang dimiliki partai. "Jadi DPP tahu persis jumlah dukungannya di dapil. Memang dukungannya tidak merepresentasikan 100 persen (per-dapil, Red) tapi kalau dia bisa mendata pendukungnya by name, by address dan nomor wa-nya, kita bisa memantau kinerja caleg," urainya.

Sementara Ketua DPP Partai Berkarya Badaruddin Andi Picunang menegaskan, pihaknya tidak mewajibkan para calegnya untuk menggelar kampanye terbuka seperti di lapangan atau tempat lain. Namun bila ada caleg yang mengadakan, DPP Berkarya siap mendukung dengan menerjunkan juru kampanye nasionalnya. "Kami tidak totalitas (kampanye terbuka, Red). Karena yang lebih penting kampanye door to door, menemui rakyat di daerah untuk menyerap aspirasi mereka. kami tidak wajibkan kampanye terbuka bagi masing masing daerah," ungkapnya.

Aktivis asal Makassar itu menuturkan, ujung tombak partai besutan Hutomo Mandala Putra alias Tomy Soeharto bisa meraup empat persen suara parlemen nasional, yakni para calegnya di daerah. Kata Badaruddin, para calegnya telah berkampanye maksimal dengan jargon khas Bapak Pembangunan, meneruskan pemikiran-pemikiran Presiden RI Ke-2 Soeharto.

Strategi inilah yang menurutnya membedakan dengan parpol-parpol kelas berat sekalipun seperti PDI Peruangan dan Gerindra. Dengan ini pula, Partai Berkarya merasa percaya diri tidak mengkhususkan daerah tertentu sebagai lumbung peraup suara.

Badaruddin menyatakan, setiap daerah mempunyai target prosentase suara sendiri-sendiri tanpa harus mengistimewakan daerah tertentu, layaknya PDI Perjuangan menyatakan Jateng sebagai kandang banteng. "Strategi kami kan identik dengan partai yang membawa pikiran-pikiran Bapak Pembangunan, Pak Harto dengan Tri Logi pembangunannya. Bagaimana masyarakat merasakan sembako murah, lapangan kerja mudah, keamanan terjamin, pemerataan pembangunan. Saya kira itu yang diejawantahkan para caleg dilapangan," ungkapnya.

Badaruddin meyakini, simbol Soeharto masih terpatri di benak masyarakat. Setidaknya, dari data lembaga survei masih ada 30 persen masyarakat mengidolakan kepemimpinan Soeharto. Partai Berkarya berharap ada empat persen dari 30 persen itu yang bisa masuk ke Berkarya. "Di daerah kantong transmigran, daerah tersebut merasakan kepemimpinan Pak Harto," tandasnya.

Kampanye dengan model canvassing juga lebih diminati PSI ketimbang model kampanye melibatkan massa banyak seperti di kampanye terbuka 23 Maret-13 April 2019. Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPP PSI Endang Tirtana menegaskan, strategi partainya tak ada bedanya dengan kampanye sebelumnya. Terlebih Jokowi telah memerintahkan PSI untuk menggunakan strategi tersebut. "Setiap waktu PSI manfaatkan untuk konsolidasi dan bersosialisasi," cetusnya melalui pesan tertulis, kemarin.

Tokoh muda Muhammdiyah itu juga menyatakan, partai besutan Grace Natalie ini tidak mengkultuskan daerah tertentu untuk dijadikan lumbung suara. PSI sudah menginstruksikan kepada semua kader, pengurus dan caleg untuk memenangkan PSI di daerahnya masing-masing.

Begitu pula kaitannya dengan Pilpres 2019. Kata dia, bila ada kader atau caleg yang mendukung paslon nomor urut 02 Prabowo - Sandiaga, PSI akan memecatnya. "Kami fokus di Pileg dan Pilpres. Setiap caleg dan pengurus wajib menangkan PSI dan menangkan Jokowi. Kalau ada pengurus dan caleg yang dukung capres selain Jokowi, akan kami pecat," tegas Endang. "Kami kampanye door to door seperti perintah Jokowi di festival pada 11 November 2018 di ICE BSD Tangerang," imbuhnya.

Ketua Bidang Pemenangan PBB Sukmo Harsono meyakini, parpolnya kali ini bakal lolos ke Senayan, tak seperti Pemilu 2014. Lagi-lagi strategi canvassing menjadi primadona, melalui door to door di 50 rumah per-kabulaten, para caleg PBB dituntut memenangkan partai yang lagir di era Reformasi tersebut.

Upaya ini dinilai Sukmo merupakan refleksi atas kegagalan PBB lima tahun lalu. Kata dia, door to door merupakan genuine idea yang akan memastikan PBB melewati ambang batas 4 persen ditambah target satu fraksi di tiap tingkatan dapat terwujud. "PBB melakukan gerakan door to door untuk menjelaskan empat progam pro-rakyat yang merupakan turunan dari tagline PBB Bela Islam, Bela Rakyat, Bela NKRI. Gerakan door to door ini menyasar 15 juta rumah se Indonesia. Dengan demikian caleg PBB sudah sejak 3 bulan lalu wajib ada di dapil dan terus melakukan sosialisasi," paparnya.

Dalam kampanye terbuka nanti, agaknya PBB sedikit berbeda dengan Garuda, Berkarya dan PSI. Sukmo mengungkapkan, nantinya akan ada daya kejut sedikit dengan turunnya Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra mendampingi para calegnya berkampanye.

Sukmo mengatakan, Yusril bakal melakukan roadshow ke berbagai daerah memenangkan partainya dan paslon nomor urut 01 Joko Widodo - Maruf Amin. Meski begitu, ia tak mau berharap banyak kepada coattail effect yang nantinya bisa didapatkan partainya. "PBB telah membekali 300 caleg untuk memenangkan Jokowi di daerah-daerah yang masih kurang kuat, bahwa apakah ada efek ekor jas saya kira belum bisa saya simpulkan, tetapi bahwa dengan bergabungnya PBB ke paslon 01, memudahkan PBB sosialisasi didaerah," paparnya.

Sedangkan dari segi elektabilitas, parpol-parpol baru diramalkan masih berkutat pada tataran terendah. Dengan kata lain belum mencapai 4 persen ambang batas. Namun Partai Perindo memberikan kejutan dengan memimpin barisan partai anyar. Merujuk data survei Lingkaran Survey Indonesia Denny JA (LSI) yang dirilis pada 20 Februari 2019, elektabilitas Perindo mencapai 3,6 persen, unggul jauh dari Partai Berkarya 0,1 persen, Partai Garuda 0,3 persen, PSI 0,4 persen, PBB dan PKPI masing-masing 0 persen.

Tidak hanya itu, bahkan Perindo juga unggul dari tiga partai yang lebih dulu terjun di kancah politik, yakni PPP yang elektabilitasnya 3,5 persen, PAN 1,5 persen dan Partai Hanura 0,5 persen.

Peneliti senior LSI Denny JA, Rully Akbar mengatakan, pemilih di Indonesia dapat disederhanakan menjadi enam kantong suara. Ini di antaranya kantong pemilih muslim, minoritas, milenial, wong cilik, emak-emak, dan kalangan terpelajar.

Partai Perindo merajai hampir seluruh segmen pemilih dalam kluster partai pendatang baru di Pemilu 2019. Figur Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo (HT) dinilai menjadi faktor utama partai berlambang rajawali itu berlari lebih kencang dibandingkan parpol baru lainnya. "Perindo sebagai partai baru mulai menggeliat, tidak hanya mengungguli partai baru, tapi juga sebagian partai lama. Di kalangan partai baru, Perindo memimpin pada kantong pemilih muslim," katanya beberapa waktu lalu.

Berkarya Tak Jor-Joran, Garuda Diuntungkan

PSI dan PBB komitmen tetap mengkampanyekan total Jokowi - Maruf dalam kampanye terbuka nanti. Namun bagi Partai Berkarya dan Garuda tampaknya tak mau ambil pusing dengan dinamika capres-cawapres.

Partai Berkarya, kata Badaruddin, justru tak mau jor-joran mengerahkan sumberdayanya ke urusan Prabowo-Sandiaga, paslon yang didukungnya. Kata dia, cukup Titiek Soeharto dan Priyo Budisantoso saja yang total memenangkan paslon nomor 02. "Kami fokus tetap di pileg karena partai baru. Pilpres, kita hanya pendukung. Kita tidak terlalu jor-joran, cukup Mbak Titiek, Mas Priyo mewakili Berkarya di BPN. Semuanya termasuk ketum sendiri memerintahkan fokus di pileg untuk bisa menembus empat persen," katanya.

Badaruddin beralasan, efek pilpres bagi Partai Berkarya tak akan signifikan memberikan pengaruh. Bahkan, Partai Demokrat juga tidak terlalu total di pilpres. "Coattail effect kan adanya di Gerindra. Jangankan Berkarya, Demokrat saja tidak jor-joran, apalagi Berkarya," tandasnya.

Sementara Partai Garuda yang dalam hal ini mengaku tidak ke Jokowi atau Prabowo mengklaim diuntungkan dengan posisi tersebut. Ridha menegaskan, memang partainya hanya ingin fokus di pileg. Alasannya klasik, yakni dalam undang-undang (UU) belum memperbolehkan mengusung capres cawapres lantaran tidak punya suara pada Pemilu 2014. "Ini komitmen buat kami untuk fokus di pileg. Tapi kita tidak memotong hak politik dari kader bila ingin mendukung salah satu capres. Kita justru diuntungkan dengan dinamika pilpres. Kita bisa diterima dimana saja, di basis 01 kami diterima di 02 juga diterima. caleg kita dibasis misal 01 bila mau masuk ke 01 juga kita tidak melarangnya," pungkasnya.

Tarung Bebas

Sementara Pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Ujang Komarudin menuturkan, semua parpol sudah mengerahkan kekuatannya masing-masing untuk mengirimkan kandidatnya duduk di parlemen pada Pemilu mendatang. Terlebih dengan para calegnya yang sudah bergerak menyapa rakyat. Setiap partai memang memiliki gaya kampanye yang berbeda-beda satu sama lain. "Ada yang agresif, sedang-sedang saja, bahkan ada yang nyaris tak terdengar. Di sisa waktu satu bulan lebih sedikit partai politik harus bekerja lebih keras. Dan mereka juga diberi jadwal untuk berkampanye di media massa," ujarnya kepada INDOPOS melalui telepon di Jakarta, kemarin.

Berdasarkan survei, hanya ada lima hingga tujug partai yang akan lolos ke Senayan dan itu dipegang oleh sejumlah partai lama. Sedangkan partai-partai baru sulit lolos lantaran naiknya Parliamentary Threshold (PT) menjadi empat persen. Sehingga persaingan bukan hanya terjadi antara parpol peserta pemilu, melainkan juga para caleg dari masing-masing parpol. Namun masih ada waktu memaksimalkan kampanye di sisa waktu yang ada. "Partai Garuda dan Partai Berkarya cenderung kalem. Sulit keduanya untuk menembus senayan. PSI yang agresif pun sulit untuk lolos ke Senayan. Apalagi partai yang slow-slow saja dalam berkampanye," kata Ujang.

Meski beberapa partai baru menargetkan kursi cukup banyak di DPR. Namun partai lama masih sangat mendominasi di berbagai daerah tanah air. Karenanya, partai lama berpeluang besar meraih kursi dari masing-masing dapil. "Sulit memang bagi partai baru lolos. Tapi di politik tidak ada yang tidak mungkin. Mudah-mudahan saja dengan kerja keras. Ada beberapa partai baru lolos ke Senayan. Pemilu serentak membuat sejumlah partai baru sulit bersaing," terang Ujang.

Boleh saja memasang target. Namanya juga usaha. Langkah mereka partai-partai baru sudah sekuat tenaga bergerak untuk berkampanye. Yang belum dilakukan kan hanya kampanye di media massa dan kampanye terbuka," tambahnya.

Tentu yang tercatat sebagai partai pendatang baru seperti PSI, Partai Berkarya, partai Garuda, dan Perindo harus mampu memetakan berbagai daerah yang mampu mendulang suara untuk para kandidatnya. "Semua daerah harus digarap. Jika tidak sanggup. Garap daerah yang memiliki jumlah pemilih besar dan strategis seperti Jabar, Jawa Timur, Jateng, DKI Jakarta, Banten, Sumatera Utara, Sulsel, dan sebagainya," kata Direktur Indonesia Political Review (IPR) itu.

Pria kelahiran Subang, 9 Agustus 1981 itu menyatakan, para partai baru tidak memiliki dampak elektoral dari capres dan cawapres yang mereka dukung. Partai-partai baru harus berjuang sendiri agar lolos PT. Pemilu serentak membuat mereka kebingungan. Di satu sisi ingin berperan dalam Pilpres dan di sisi lain harus mampu lolos dari jebakan PT empat persen.

"Tak ada efek balik bagi partai baru tersebut. Yang terpenting adalah usaha segenap calegnya untuk merebut hati rakyat dengan terus menyapa rakyat melalu darat dengan cara door to door campaign dan melalu udara. Dengan cara memaksimalkan media sosial," jelas Ujang.

Bahkan PBB dan PKPI harus lebih kreatif dan inovatif dalam berkampanye. Tentu strateginya ada di tangan mereka. "Peluang keduanya berat untuk lolos PT. Tapi bergatung dari usaha dan kerja keras dari kedua partai tersebut. Dengan usaha dan kerja keras, peluang lolos pun bisa saja terbuka," ucapnya.

Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta Adi Prayitno menyarankan, strategi kampanye partai baru tentu semua partai harus bertarung mendapat dukungan hingga batas akhir pencoblosan. Karena masih banyak pemilih yang masih bisa diolah. "Jadikan waktu setiap hari sebagai pertaruhan hidup mati caleg dan partai. Pencoblosan tinggal menghitung hari. Semua strategi mulai dari perang total hingga perang badar harus diupayakan untuk memenangkan hati pemilih. Bukan waktunya lagi untuk jaim dan sembunyi. Sekarang adalah masa perang penghabisan untuk menang," ucap Adi.

Selain itu semua daya, upaya, stamina, dan energi harus fokus pemenangan, terutama pemenangan caleg dan partai. Jangan sibuk mengurusi pilpres jadi tenaga terkuras habis tapi caleg dan partai diabaikan. "Itu bahaya bagi eksistensi partai ke depan yang berimplikasi buruk, tak lolos ke Senayan," tegasnya.

Partai baru harus realistis. Paling penting bisa lolos parlemen sudah lebih dari cukup karena ambang batas parlemen cukup tinggi empat persen. Itu tak mudah tentunya. Menurutnya, bukan hanya partai baru, partai lama pun banyak yang terancam tak lolos ke Senayan. "Masih banyak ceruk pemilih yang bisa dikapitalisasi untuk lolos ke Senayan dan target kursi banyak. Pertama, yang perlu disasar adalah wilayah yang secara geografis pemilihnya banyak seperti Jabar, Jatim, dan Jateng. Kemungkinan dapat kursi di tiga wilayah ini cukup terbuka," ungkapnya.

"Kedua, menyasar swing voter atau pemilih yang tak ideologis. Karena masih banyak pemilih yang tak berafiliasi dengan partai tertentu. Ini ceruk potensial yang bisa dikapitalisasi," sambungnya.

Bahkan tidak ada kontrak politik apapun dalam pemilihan legislatif. Semua partai tarung bebas memanfaatkan kesempatan dan momen untuk mendulang suara. Meski tak terlihat di permukaan, secara tak langsung antarpartai internal pendukung capres sebenarnya saling berebut suara pemilih di bawah. "Bisa teman makan teman karena rebutan suara. Tak ada pola baku soalnya semuanya tarung bebas. Di bawah perang terbuka soal caleg," cetusnya. (jaa/dan)


Sumber: www.indopos.co.id

Komentar

Rekomendasi




add images