(Caleg) DPRD Provinsi Jambi dari Partai Demokrat, Ezzaty.
(Caleg) DPRD Provinsi Jambi dari Partai Demokrat, Ezzaty.

JAMBIUPDATE.CO, JAMBI- Tidak banyak generasi millenial yang pada usia belia memilih berkecimpung di dunia politik. Apa lagi di Provinsi Jambi, jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Untuk terjun ke dunia p0litik, tidak hanya dibutuhkan financial semata, akan tetapi, lebih dari itu juga harus dibarengi dengan komitmen dan keteguhan hati yang kuat.

Satu di antara generasi milenial yang memilih terjun ke dunia politik itu adalah Ezzaty. Tak tanggung-tanggung, meski baru menginjak usia 22 tahun, Ezzy (begitu ia biasa disapa) mengambil langkah berani menjadi salah seorang calon anggota legislatif (Caleg) DPRD Provinsi Jambi dari Partai Demokrat untuk Daerah Pemilihan (Dapil) Kerinci-Sungai Penuh.

Langkah ini tentu tidak bisa dianggap main-main. Ia harus mampu meraup belasan ribu suara dari Dapil tersebut untuk bisa melenggang ke Telanai Pura. Persaingan yang tentunya cukup ketat dan kompetitif. Sebagai pendatang baru, Ezzaty harus bersaing dengan puluhan Caleg lain yang notabenenya sudah terlebih dahulu berkecimpung di dunia politik, dan tentunya sudah punya nama.

Ezzaty tidaklah gentar, apa lagi surut. Ia terus bersosialisasi ke tengah masyarakat, menemui konstituen di akar rumput, meyakinkan pemilih, untuk kemudian merebut hati mereka.

Respon masyarakat begitu luar biasa, tentu ini menjadi modal dan penambah spirit bagi putri bungsu Walikota Sungai Penuh H. Asafri Jaya Bakri (AJB) ini untuk terus bersosialisasi di tengah masyarakat.

Dalam sebuah perbincangan dengan koran ini beberapa waktu lalu, Ezzaty mengatakan, dirinya memang terlahir dari keluarga yang berlatar belakang akademisi yang juga politisi.

Ayahnya, AJB, merupakan akademisi UIN STS Jambi dan pernah menjadi rektor di kampus yang sama selama dua periode. Dari akademisi, AJB kemudian terjun ke dunia politik, mencalonkan diri sebagai walikota Sungai Penuh dan memenangi kontestasi itu. Kini AJB menjalankan masa kepemimpinannya untuk periode kedua. Sementara ibunya Hj Emizola yag kini menjadi pensiunan akademisi UIN STS Jambi.

Latar belakang keluarga Saya adalah pendidik dan politisi. Sebuah kombinasi yang menurut Saya cukup komplit dalam konteks mengabdi untuk masyarakat, katanya.

Selain figur orang tuanya, ada lagi figur Sang Kakak yakni Fikar Azami, yang membuat ia tertarik berkecimpung di dunia politik. Fikar kini merupakan Ketua DPC Demokrat Kota Sungai Penuh. Partai inilah yang menghantarkan Fikar menduduki kursi Ketua DPRD Kota Sungai Penuh.
Kedua tokoh ini yang menimbulkkan ketertarikan Saya dalam dunia tersebut (politik, red), tegasnya.

Bukan hanya itu saja, kata Ezzaty, secara otodidak dirinya terus mengikuti perkembangan perpolitikan, baik lokal maupun nasional, dari berbagai media massa, televisi, termasuk melalui media sosial yang perkembangannya detik per detik.

Cukup lama saya berfikir sebelum memutuskan terjun ke dunia politik. Saya merasa, hidup ini bisa berkembang dengan adanya pendidikan, tetapi pendidikan yang kita dapat tersebut, akan lebih bermanfaat bila direalisasikan kepada masayarakat, dan itu tidak hanya bisa direalisasikan dengan menjadi seorang guru, tapi lebih dari itu, mengapalikasikan ilmu yang didapat melalui jalur politik, juga memiliki dampak yang lebih luas, toh pada akhirnya, juga bertujuan untuk masyarakat, ujarnya.

Bagaimana ia menyikapi soal adanya stigma masyarakat terkait caleg milenial yang dianggap belum begitu berpengalaman? Ezzaty mengatakan, kondisi saat ini, pemilih millenial sudah mencapai setengah dari populasi masyarakat Indonesia, termasuk di Provinsi Jambi, khususnya Kerinci dan Sungai Penuh.
Dengan besarnya populasi itu, katanya, generasi millenial harus punya wakil di parlemen sebagai bagian dari penyalur aspirasi mereka, dan jumlah pemilih millenial ini tidak bisa dikesampingkan.

Ini salah satu faktor yang mendorong Saya untuk ikut dalam kontestasi politik ini, menjadi wakil dari generasi millenial, sekaligus memperjuangkan aspirasi mereka, tentu ini dilakukan dengan tidak mengenyampingkan generasi-generasi yang lain. Itu semua harus berjalan seiring, jawabnya.

Menurutnya, selama ini, ia melihat pembangunan di Kerinci dan Sungai Penuh yang anggarannya bersumber dari APBD Provinsi Jambi, berjalan tidak merata. Anggaran yang dibawa ke dua kabupaten itu, sepertinya belum begitu maksimal. Ini semua, menurutnya, adalah bagian dari tugas anggota DPRD Provinsi Jambi dari Dapil ini untuk bagaimana membawa anggaran sebanyak-banyaknya ke Kerinci dan Sungai Penuh.

Tidak melulu bergantung pada APBD kabupaten/kota, anggota DPRD Provinsi harus mampu memperjuangkan anggaran dari provinsi untuk dibawa ke Dapil, itulah tanggungjawab moral dari seorang anggota legislatif, katanya.

Selain itu, Ezzaty melihat, ada kendala yang dihadapi oleh masyarakat Kerinci dan Sungai Penuh saat ini. Hampir 5o persen lahan di dua daerah ini masuk dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang dilindungi dan difungsikan sebagai paru-paru dunia. Secara geografis, lahan ini memang berada di Kerinci dan Sungai Penuh, tetapi tidak bisa digarap oleh masyarakat, karena harus dijaga kelestariannya.

Ini, menurut Ezzaty, juga berpengaruh terhadap taraf hidup masyarakat Kerinci dan Sungai Penuh. Pada akhirnya, masyarakat Kerinci dan Kota Sungai Penuh berbondong-bondong menjadi TKI di Malaysia untuk mencari penghidupan. Bahkan, dua daerah ini menjadi penyumbang terbanyak TKI asal Provinsi Jambi di Malaysia.

Ini tantangan yang tentunya harus dicarikan solusinya. Kita ingin merubah mindset masyarakat, jangan hanya menunggu lapangan kerja tapi bagaimana menciptakan lapangan kerja itu sendiri. Kita harus bisa menciptakan enterpreneur-enterpreneur muda di Kerinci dan Sungai Penuh, karena kita saat ini sedang berada dalam posisi bonus demografi, di mana masyarakat produktif lebih banyak dibanding non produktif, untuk itu kita harus menyiapkan SDM yang tinggi dan handal, bukan hanya dari segi pendidikan formal saja, akan tetapi juga dari segi informalnya, pungkasnya. (pin)


Komentar

Rekomendasi




add images