Headline di Jambi Ekspres edisi 18 Maret 2019.
Headline di Jambi Ekspres edisi 18 Maret 2019.

JAMBIUPDATE.CO, JAMBI- DPD Gerindra Provinsi Jambi terbelah jelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2019. Soalnya, persaingan internal antara calon anggota legislatif (Caleg) terus meruncing sebelum pemungutan suara 17 April mendatang.

Sejumlah kader mulai membentuk gerbong untuk menjegal langkah masing-masing Caleg. Ada gerbong Ketua DPD Gerindra Provinsi Jambi Sutan Adil Hendra (SAH) caleg Gerindra DPR RI nomor urut 1 dan kelompok Caleg Gerindra nomor urut 3 untuk DPR RI Murady Darmansyah.

Kedua gerbong besar di tubuh partai berlambang burung garuda tersebut saling berebut panggung disejumlah kegiatan besar partai. Tujuannya tidak lain untuk unjuk gigi agar mendapatkan peran penting dan mendulang suara masyarakat.

BACA JUGA : Fakta Rivalitas SAH dan Murady Jelang Pemilu 17 April, Lihat di Sini 

Persaingan gerbong kedua Caleg yang sama-sama mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI Senayan itu sudah terasa sejak kedatangan Calon Wakil Presiden (Cawapres) Sandiaga Salahuddin Uno (Sandi Uno) beberapa waktu lalu. Kala itu, SAH selaku Ketua Tim Pemenangan Daerah (TKD) Capres 02 tidak banyak dilibatkan dalam rentetan kegaiatan mantan Ketua HIPMI tersebut.

Rupanya, persaingan itu memuncak ketika kunjungan Calon Presiden (Capres) Prabowo Subianto (Prabowo) beberapa hari yang lalu. Buktinya, beredar daftar nama kader dan Caleg Gerindra yang dilarang memasuki gedung acara yang berlokasi di Ratu Convention Center (RCC) Jambi.

Ada Murady, Ritas Mairiyanto, Budiyako, Bustami Yahya, Masyita, H Ali, Gulo Broaul, Ellya, Raflis, Zulkarnaen dan M Ravicky. Manariknya ada perintah yang beredar di WhatsApp, agar 11 nama itu di foto untuk selanjutnya dilaporkan kepada orang yang diduga suruhan SAH.

Sontak larangan itu beredar luas kepublik. Bahkan di media sosial (Facebook), terdapat video Ritas Mairiyanto, Budiyako, Bustami Yahya dkk dihadang petugas pengamanan karena tidak memiliki id card. Sempat terjadi adu mulut hingga mendapatkan perhatian dari sejumlah tamu undangan yang sudah memadati gedung RCC.
Usai acara, Ritas Mairiyanto yang juga merupakan pengurus DPD Gerindra Jambi tidak menampik adanya hadangan yang diterima dirinya. Dirinya mengaku sempat diusir keluar ruangan dimana tempat acara itu berlangsung oleh pihak panitia penyelenggara.

"Kita disuruh keluar tadi, mending dilarang masuk dari pada dipermalukan di runagan acara," katanya kepada awak media.

Ditambahkannya, alasanya dirinya diminta keluar ruangan karena tidak punya id card. Namun, setelah diminta id card tapi tapi tidak kunjung diberikan. "Sebenarnya tidak perlu id card, saya ini kan kader Gerindra dan caleg Gerindra juga. Kami juga ingin mendengarkan pidato pak Prabowo," bebernya.

Namun dia menolak menyatakan ada perpecahan yang terjadi di Gerindra sendiri. Namun dia menduga hal itu terjadi mungkin karena mendekati pemilihan legislatif saja. "Bukan perpecahan, mungkin karena mendekati legislatif. Tapi saya berharap semua kerja sama memenangkan Prabowo," tutup Ritas.

Sementara itu, Murady yang ditemui harian ini terlihat enggan menanggapi terlallu jauh screenshot yang beredar tersebut. "WA itu tak perlu ditanggapi, hanya sebagai gimik, untuk meramaikan saja," katanya.

Ia pun menyatakan tetap akan menghadiri acara Prabowo tersebut, karena dirinya merupakan Kader Gerindra. "Saya kan merupakan Ketua acara kehadiran Cawapres 02 Sandiaga Uno di Jambi beberapa waktu lalu, acara tersebut dari pengamatan BPN sukses terselenggara. Acara itu ada rating yang tinggi untuk pemenangan Prabowo-Sandi di Jambi hingga 70 persen," katanya lagi.

Sepanjang kunjungan, pengusaha nasional yang juga merupakan tokoh Jambi ini mengaku tetap bisa mengikuti semua rentetan acara. "Saya memiliki hubungan yang cukup baik dengan Pak Prabowo-Sandiaga, tidak ada masalah, sebutnya.

Soal pergerakan di Jambi, Muarady mengaku bergerak bersama relawan-relawan Prabowo-Sandi. Baginya memenangkan Prabow-Sandi adalah tugas utama dirinya dan kader Gerindra, baru kemudian memenangkan Pileg 2019.

Jadi tak perlu ditanggapi soal larangan itu. Yang terpenting bagaimana terus bergerak memangkan Prabowo-Sandi di Jambi bersama-sama seluruh elemen masyarakat, tegasnya.

Sekretaris DPD Gerindra Jambi Najamuddin mengatakan, keputusan rapat sebelum kedatangan Prabowo Subianto ke Jambi, untuk kader setiap partai itu hanya mendapat jatah sebanyak 25 id card untuk bisa masuk ke ruangan acara. Memang sangat terbatas, karena semua Caleg tidak boleh masuk semua lantaran lebih diprioritaskan untuk umum, seperti tokoh-tokoh masyarakat, katanya saat dikonfirmasi harian ini.

Ditambahkannya, sejumlah kader yang merasa diusir dalam acara Prabowo menyapa tersebut, karena tidak mengetahui informasinya demikian. Salah paham mereka itu. Termasuk saya juga tidak bisa masuk kemaren itu. Karena prioritasnya untuk masyarakat umum, ungkapnya.

Dirinya pun mengaku tidak adanya persoalan di internal partai sendiri. Namun demikian, mungkin ada yang merasa pengaruh SAH ini sangat luar biasa untuk disaingi. Untuk menyaingi pak Sutan ini merasa tidak sanggup, mungkin dicari celah-celah lain, seperti menjelek-jelakkan seolah-olah adanya perpecahan, ungkapnya.

Menurutnya, DPD Gerindra Provinsi Jambi pun sudah sangat terbuka dengan semua kader tanpa adanya perbedaan. Kalau tanpa restu pak Sutan, saya rasa mereka tidak bisa nyaleg. Niatnya mau membesarkan partai, makanya diterima, sebutnya.

Sementara itu, Pengamat Politik Jambi, Hadi Surapto, menyebutlkan, bahwa terkait adanya dualisme yang terjadi di internal Gerindra Provinsi Jambi ini akan sangat menggangu konsolidasi untuk pemenangan Pilpres 2019.

Minimal mengganggu konsentrasi. Selain itu dari sisi koordinasinya tidak satu pintu lagi karena ada dua matahari di situ, katanya.

Bahkan, Hadi menyebutkan jika dengan adanya gejolka di internal partai seperti ini justru akan sangat merugikan Gerindra sendiri. Tentu akan sangat merugikan karena Pemilu tinggal hitungan hari saja. Seharusnya hal seperti ini tidak perlu terjadi, bebernya.

Lantas apakah hal ini disebabkan adanya pertarungan sengit antara SAH dengan Murady sendiri dalam memperbutkan satu kursi DPR RI Dapil Jambi?, Hadi mengatakan, bahwa dibeberapa daerah, semua partai juga begitu. Pertarungannya lebih banyak di internal, terutama maju di DPR RI, katanya lagi.

Namun, menurut Hadi, harusnya seorang ketua DPD itu dituntut mampu untuk memanajemen dan mengkonsolidasi yang baik terhadap semua kader yang maju di Pileg. Dia memberikan ruang untuk berkompetisi seharusnya. Dengan ditutupnya kran seperti kemaren itu, hal inilah yang membuat gejolak di internal, tukasnya. (wan/aiz)


Komentar

Rekomendasi




add images