Mantan ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Batanghari Syahrial. Foto : Reza / Jambiupdate
Mantan ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Batanghari Syahrial. Foto : Reza / Jambiupdate

JAMBIUPDATE.CO, BATANGHARI - Mantan ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Batanghari Syahrial akhirnya angkat bicara soal pemecatan dirinya beberapa waktu yang lalu, dirinya mengaku merasa terzolimi.

"Saya merasa dizolimi,"ungkap Syahrial kepada wartawan.

Tidak hanya itu ia mengatakan bahwa dirinya tidak tahu apa penyebabnya pencopotan sebagai Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Batanghari.

"Apa masalahnya, apa kesalahan saya tidak tahu. Kalau mau jelas, Provinsi lah, karena provinsi yang mengusulkan pemberhentian,"bebernya.

Mantan anggota DPRD Kabupaten Batanghari ini mengatakan, kalau memang dirinya keluar rel, tunjukkan dulu surat dari DPP, bahwa surat DPP harus mendukung Sutan Adil Hendra (SAH).

"Tunjukkan ke kami, suratnya mana, lagian juga ini kan satu partai, satu rumah, satu wadah, apakah salah, Kan tidak. Kalau memang pak Najamuddin bicara seperti itu, silahkan saja. Tapi tolong tunjukkan surat kalau memang DPP membela pak Sutan,"tegasnya.

Ia menegaskan jika perintah itu hanya secara lisan itu tidak menjadi patokan atau rujukan, karena sampai saat ini saat ini tidak ada. Sedangkan instruksi untuk memenangkan Prabowo-Sandi wajib hukumnya, tetapi kalau yang lain tidak ada.

"Namanya kita dibawah, tergantung dengan yang diatas. Kalau saya selaku prajurit selalu siap. Tapi kalau masalah secara pastinya saya tidak tahu," tuturnya.

Syahrial mengakui Sekjen DPD Partai Gerindra Provinsi Jambi pernah menelepon dirinya. Dalam percakap itu, Najamuddin mengatakan bahwa pergerakan dirinya terus dipantau.

"Saya bilang, kalau dipantau, berarti saya penghianat, berati saya bukan orang partai. Berarti saya orang diluar partai yang berkhianat. Kalau saya seperti inilah. Kalau memang masih dipakai syukur, kalau tidak dipakai lagi ya sudah,"Ungkapnya.

Ia meminta jangan jadi masalah ketika memang tidak ada suratnya. Apalagi sampai menjadikan dirinya tumbal politik.

"Kita dijadikan tumbal, mencari kesalahan. Kalau seperti itu kan sama dengan dizolimi. Doa orang terzolimi biasanya makbul. Saya sangat terasa dizolimi, karena dicari kesalahannya. Namun keputusan ini saya terima,"pungkasnya.(rza)


Komentar

Rekomendasi




add images