Ilustrasi /dok.
Ilustrasi /dok.
JAMBIUPDATE.CO, MUARA BUNGO - Penerimaan siswa baru tahun ini dengan sistim zonasi tempat tinggal. Sistim ini mendapat tanggapan positiv dan negativ dari masyarakat di Kabupaten Bungo.
 
Efi salah satu orang tua siswa mengatakan dengan sistim zonasi anaknya tidak susah masuk sekolah di SMP N 1 Bungo. Soalnya, sekolah yang tergolong vaforit ini berada tidak jauh dari rumahnya.
 
"Sebelumnya yang mudah masuk pada SMP N 1 ini hanya anak orang kaya, pejabat, dan orang penting lainnya. Apa lagi nilai anak kita cuma pas pasan. Kalau sekarang tidak ," ucap Efi.
 
Efi berharap penerapan zonasi ini bisa seterusnya oleh pemerintah. Dengan demikian, kedepannya tidak ada lagi istilah sekolah vaforit di Kabupaten Bungo. Semua sekolah akan menjadi sama.
 
"Menurut saya semua sekolah akan sama jika sistim zonasi ini terus diterapkan. Kalau sebelumnya sekolah vaforit ini membuat tingkat ekonomi siswa terkelompok. Karena yang kaya ngumpul di sekolah vaforit ," sebutnya.
 
Terpisah Mulya salah satu orang tua siswa lainnya menilai penerapan sistim zonasi ini membuat capaian nilai tinggi siswa tidak mutlak jadi penentu. Pasalnya, meskipun nilai tinggi tidak juga bisa masuk SMP N 1 karena tidak masuk zonasi.
 
"Jadi nilai tinggi tidak begitu berguna. Mau masuk SMP N 1 juga yang menentukan zonasi tempat tinggal. Kalau kuotanya kurang, nanti baru yang luar zonasi masuk ," ucap Mulya.
 
Selain itu, penetuan zonasi dinilai Mulya belum sesuai. Seperti masyarakat yang tinggal di belakang Pasar Atas, meskipun hanya berjarak ratusan meter dari SMP 1, namun tetap tidak masuk zona.
 
"Belakang pasar atas ni ada dua RW. RW yang satu masuk dalam zona SMP N 1, sementara RW yang satunya lagi tidak masuk, padahal bersebelahan. Ini yang tidak dapat kita terima. Saat ditanya pada pihak sekolah, alasannya zona ini Dinas Pendidikan yang menentukan ," tutupnya. (ptm)

Komentar

Rekomendasi




add images