JAMBIUPDATE.CO, YOGYAKARTA — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nashir, menyampaikan bahwa menghadapi situasi darurat wabah seperti saat ini sebagai wiqayat an nafsiyat untuk membangun kewaspadaan diri secara ruhani maupun juga secara jasmani.
Hal tersebut ia utarakan pada tausyiah acara tabligh akbar yang dilakukan secara daring dengan aplikasi zoom, Minggu (19/4/2020).
Pada kesempatan itu, Haedar kembali mengingatkan umat Islam agar meneguhkan iman terlebih menjelang bulan Ramadan.
Dalam menjalakan ibadah Ramadan, ia berharap wabah covid-19 ini selesai. Tetapi apabila Allah belum mencabut wabah ini, Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih sudah memberikan tuntunan ibadah.
“Kita harus beribadah di rumah masing-masing, tetapi makna ibadah itu harus tetap. Tentu ibadah puasa bulan Ramadan harus ditunaikan bagi mereka yang mampu, dan bagi para petugas medis yang jika berpuasa hilang kekuatannya atau lemah, maka di sinilah tarjih memberi tuntunan,” ucap Haedar Nashir.
Haedar mengajak untuk menjadikan puasa Ramadan sebagai tazkiyatun nafs, karena puasa itu tujuannya sama di setiap tahunnya. Yakni supaya engkau menjadi orang yang bertaqwa.
“Puasa kita jadikan sebagai tanwirun aql wal ilmu, pencerahan akal pikiran dan puasa tidak membuat kita berhenti membaca dan mencari ilmu. Bahkan dengan puasa menghidupkan aql salim kita, dengan membaca Alquran, tadaru, dan tadabur,” papar Haedar.
Jadikan puasa untuk menghidupkan amal, tashlihul ‘amal, memperbarui amaliah, termasuk amal ijtima’i atau perbuatan sosial dengan sesama dan lingkungan.
“Harus ada yang hidup di jiwa kita, amal yang jernih, amal yang membawa kemaslahatan harus hidup. Dalam Ramadan bukan hanya taqarub ilallah tetapi juga tetap menjalin hubungan dengan manusia,” pungkas Haedar. (endra/fajar)
Sumber: www.fin.co.id
