iklan Kapal Selam KRI Nanggala-402.
Kapal Selam KRI Nanggala-402. (GUSLAN GUMILANG/JAWA POS)

JAMBIUPDATE.CO, JAKARTA - Pencarian kapal selam KRI Nanggala-402 belum juga membuahkan hasil. Kapal tersebut sudah hilang hampir 2 hari setelah kontak terakhir terjadi di Utara Laut Bali.

Pakar Oseanografi Institut Pertanian Bogor (IPB) Agus Saleh Atmadipoera mengatakan, medan pencarian di sekitar Laut Bali sebetulnya tidak terlalu menghambat proses pencarian. Karena, saat ini masuk periode peralihan musim dari musim barat ke musim timur. Artinya kondisi arus permukaan relatif lemah.

“Kondisi oseanografi saat ini cukup mendukung karena angin muson dan arus laut relatif lemah di periode peralihan monsun ini,” kata Agus saat dihubungi JawaPos.com, Kamis (22/4).

Agus menuturkan, di sisi timur Laut Bali, arus kuat kearah barat daya dari Arlindo. Artinya, apabila KRI Nanggala-402 bergeser (drifting) di dekat permukaan maka cenderung tergeser kearah barat daya atau menuju pantai utara Bali.

Menurut Agus, fenomena oseanografi penting di utara Laut Bali atau sekitar Kepulauan Kangean adalah adanya propagasi gelombang pasang surut internal ke arah utara di kedalaman 100-300 meter dari Selat Lombok. Tinggi gelombang internal ini bisa mencapai 100 meter.

“Mudah-mudahan gelombang internal ini tidak menghempaskan kapal 402,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Agus menuturkan, apabila KRI Nanggala-402 bergeser kearah barat daya karena terdorong arus Arlindo, maka pencarian akan lebih mudah. Keadaan akan menjadi sulit kalau kapal tergeser kearah tenggara, masuk ke pintu utara Selat Lombok.

“Ini akan lebih rumit karena arus kuat Arlindo akan mendorong kapal kearah Samudera Hindia. Kita berharap, mudah-mudahan prediksi kedua tidak terjadi,” pungkasnya.


Berita Terkait



add images