iklan

JAMBIUPDATE.CO, JAKARTA- Pasien COVID-19 bisa menggunakan metode menghitung napas jika tidak memiliki oximeter untuk mendeteksi saturasi oksigen, terlebih apabila mengalami gejala sesak napas.

“Catat suhu dan saturasi oksigen kalau punya oximeter, kalau tidak hitung napas,” ujar Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, dalam sebuah webinar kesehatan, Sabtu (7/8).

Pasien, katanya, dikatakan sesak napas bila napasnya di atas 24 kali per menit. Normalnya napas seseorang untuk memenuhi kebutuhan oksigennya berada pada kisaran 16-20 per menit.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) melaporkan, sekitar 31-40 persen pasien COVID-19 mengeluhkan sesak napas. Kondisi sesak napas menyebabkan pasien sulit bernapas sehingga membuat mereka terengah-engah.

Dalam kesempatan sama, Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Prikasih, dr. Gia Pratama, mengatakan pasien dengan keluhan saturasi oksigen rendah dadanya mungkin terasa terlalu sesak untuk menarik atau menghembuskan napas sepenuhnya. Setiap napas pendek saja membutuhkan usaha yang lebih besar dan membuat pasien dengan keluhan sesak napas merasa terengah-engah. Rasanya seperti bernapas melalui sedotan.


Berita Terkait



add images