JAMBIUPDATE.CO, JAMBI-Kepala Sekolah SMKN 3 Edri Penta memperlihatkan ketegasannya diwawancarai paska demonstrasi siswa SMKN 3 di gedung DPRD Kota Jambi Selasa siang tadi (29/3).
Saat diwawancarai, Edri mengatakan unjuk rasa ini berkaitan dengan kepentingan para siswa SMK agar memiliki keterampilan dan bisa bekerja, berwirausaha dan melanjutkan ke perguruan tinggi. Hal ini karena gedung sekolah baru di Pal X tidak memiliki sarana dan prasarana yang mendukung.
BACA JUGA : Ada Surat dari Dinas Agar SMKN 3 Pindah ke Gedung Baru, Kamaluddin Haviz: Diikuti Saja
Ia mengatakan polemik gedung SMKN 3 ini telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu. Awalnya pada tahun 2017 ada permasalahan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dimana terjadi overkapasitas di SMAN Kota Jambi. Saat itu rapat di Disdik memutuskan didirkan SMAN 12 dengan menumpang di gedung SMKN 3.
‘‘Dan posisi ini dibiarkan berlarut menumpang dari 4 lokal dari 8 lokal, sehingga SMKN merasa semakin tergusur ruang kelas mereka terpakai SMAN 12. Dan yang akan kita perjuangkan pemerintah harus jelaskan di mana SMKN 3 dan SMAN 12,’‘ akunya.
Tak hanya itu, Edri juga mengungkap pada tahun 2019, pemerintah telah mengucurkan dana pembangunan 4 kelas di gedung eks transito dengan anggaran Rp2 Miliar peruntukkan untuk SMAN 12.
‘‘Tetapi entah apa problemnya SMAN 12 enggan pindah ke transito dan masih mau bertahan ke SMKN 3. Selain itu, ditambah lagi secara aturan SMAN 12 ini terlalu dekat jaraknya dengan SMAN 4 yang ada dibelakangnya. Harusnya dalam aturan jarak antar sekolah itu 5 kilometer,’‘ ucapnya.
Ia juga mengungkapkan akar masalah juga dikarenakan sikap pemerintah dan pemangku kepentingan terlalu lama membiarkan persoalan itu.
‘‘Akibatnya, sampai hari ini terjadi dualisme kepemilikan SMKN 3, dan ini belum ada kejelasan sama sekali,’’ terangnya.
Ditanya terkait kabar pemindahan SMKN 3 ke gedung baru, Edri mengakuinya. Ia berujar, dari kebijakan Disdik terakhir pada tanggal 10 Maret, dirinya diperintahkan agar SMKN 3 segera dikosongkan dan pindah ke gedung baru (Pal X).
‘‘Namun saat itu saya dengan berat hari memilih sikap tak mengikuti instruksi disdik, karena ini untuk kepentingan anak-anak. Karena tanggal 10 Maret mulai ujian praktek, sementara sarana dan prasarana praktek ada di gedung sekolah lama. Gedung baru Pal x sarana dan peralatannya sangat minim,’‘ ucapnya.
‘‘Maka saya pilih berseberangan, dan terkesan membangkang atau melawan tupoksi dinas , ini yang terjadi sebenarnya,’‘ paparnya. (aba)
