KOTA Tua Muara Tebo merupakan salah satu pusat sejarah di Provinsi Jambi. Ini terlihat dengan berbagai bukti sejarah yang hingga saat ini masih berdiri kokoh. Seperti makan Belanda, bangunan pertokoan zaman kolonial, Benteng Lamo, serta Kantor Pos.

MUNASDI AHMAD, Tebo

PERKEMBANGAN sebuah kota biasanya ditandai dengan banyaknya gedung yang menjulang tinggi. Begitupun perkembangan pasar-pasar dimana di ruko tumbuh subur, mulai ruko biasa hingga ruko bertingkat yang dibangun sedemikian rupa hingga membuat pemandangan pasar begitu modern dan indah.

Namun lain halnya di Pasar Muara Tebo, ruko atau pertokoan masih menggunakan bangunan yang dibangun zaman kolonial Belanda. bangunan yang identik dengan kayu dan menjulang tinggi layaknya ruko dua tingkat tersebut sebagian masih kokoh berdiri, namun sebagian juga terus dimakan usia dan lapuk.

Walaupun demikian, para pemiliknya seperti enggan untuk mengubah bentuk bangunan bersejarah tersebut. Selain karena merupakan harta warisan turun temurun, kondisi pasar juga tidak terlalu ramai lagi karena perkembangan Kota Muaratebo yang pembangunannya sudah mengarah ke bagian jalan lintas.

Salah satu Tokoh Masyarakat setempat Amirullah (60) kepada Jambi Ekspres, mengatakan, pertokoan di pasar Muaratebo tersebut dibangun antara Tahun 1930 hingga 1940 karena masih ada beberapa bagian atas bangunan yang terukir waktu pembangunan. Awalnya juga merupakan milik satu orang yang kemudian dijual ke masyarakat lainnya.

"Awalnya milik satu orang, kemudian banyak masyarakat yang menyewa bahkan membelinya, kalau pembangunannya masih banyak yang dapat kita lihat seperti salah satu bangunan yang di simpang tiga yang di atas jelas terukir "25-12-1940", kebanyakan dibangun antara tahun 1930 hingga 1940, namun masih dalam bentuk asli hingga saat ini," ungkap Amir.

BACA JUGA: Melihat Lebih Dekat Kota Tua Muaro Tebo: Dirjen Siap Dukung Jadi Cagar Budaya (2)

Namun sekitar tahun 60-an, banyak juga pertokoan tersebut yang dibeli warga keturunan Tionghoa yang berdagang di pasar Muaratebo. Namun karena ada peraturan baru bahwa harus pindah ke ibu kota kabupaten, maka ratusan warga keturunan Tionghoa sekitar tahun 1968 pindah dari Pasar Muaratebo sehingga banyak pertokoan yang dijual ke masyarakat setempat bahkan banyak tanah dan kebun yang ditinggal begitu saja oleh mereka.

Selain itu Wilayah Kabupaten Tebo pernah menjadi pusat perjuangan rakyat melawan penjajah Belanda. Bekas perjuangan itu meninggalkan banyak situs bersejarah yang tersebar di beberapa wilayah di Kabupaten Tebo. Salah satu yang masih terlihat saat ini ialah kuburan para penjajah Belanda yang berada di pusat kota Muaratebo tepatnya di depan Kantor Bank Jambi Cabang Muaro Tebo.

Makam yang seluas lebih kurang 400 meter persegi itu terdapat banyak batu nisan bahkan ada sebuah batu nisan yang masih utuh dengan tulisannya "31-8-1924". Selain itu juga, beberapa tahun yang lalu, makam tersebut juga sering dikunjungi oleh warga Belanda saat 17 Agustus, tapi kini tak pernah lagi nampak ada pengunjung yang datang.

begitu juga dengan Benteng Lamo yang berlokasi tepat di pusat Kota Muaratebo yang dibangun di masa penjajahan Belanda. Bangunan kuno tersebut saat ini masih jelas terlihat. Walaupun banyak bangunan yang sudah hancur dimakan usia, namun masih ada yang tetap kokoh berdiri tegak.

Bangunan khas bergaya ala Belanda itu diperkirakan dibangun masa penjajahan Belanda. Namun hingga kini masih tetap berdiri seperti mengisyaratkan kegigihan pejuang saat melawan para penjajah Belanda. Bangunan yang seperti asrama itu menurut masyarakat setempat dulu sebagai benteng dan pusat asrama para tentara dan pejuang saat melawan penjajahan Belanda. Bahkan saat Kabupaten Tebo masih bergabung dengan Kabupaten Bungo Tebo, bangunan bersejarah itu masih menjadi asrama tentara.

Tidak ada yang secara jelas mengetahui kapan awal berdirinya bangunan bernilai sejarah tersebut, namun masyarakat setempat hanya  tahu bahwa Benteng Lamo dibangun pada masa belanda. Yang awalnya merupakan benteng pasukan Belanda, namun berhasil direbut oleh pejuang atau tentara Indonesia dan dijadikan asrama. Bahkan bekas penjara dan makam Belanda pun masih jelas terlihat.

(bersambung)


Komentar




add images