“Kita harapkan ke depan kelompok ini menjadi pengusaha jasa pengelola kebun,” akunya.
Lanjutnya, sejauh ini, kebun swadaya atau eks plasma itu dikelola oleh masing-masing pemilik, jadi ada keseragaman misalnya dari kualitasnya dan waktu tanam.
Namun, saat diserahkan sertifikat dan sepenuhnya dikelola pemilik kebun ternyata menjadi tidak sama.
"Misalnya, ada yang panen dengan waktu yang berbeda, ada yang dipupuk dan ada yang tidak, kemudian ada yang dibersihkan ada yang tidak. Akibatnya, kualitas buah dan jumlahnya bervariasi sehingga harga menjadi bervariasi," terangnya.
“Kita harus membuat korporasi untuk tenaga kerja buruh itu, jadi selama ini yang kita berikan adalah pemilik kebun yang kita bantu meningkatkan produksi dan produktivitas. Sementara selama ini belum ada bantuan sama sekali untuk tenaga kerja buruh ini sehingga tahun ini akan kita upayakan, kita harapkan menjadi korporasi pengusaha jasa pengelola kebun,” pungkasnya. (aan)
