iklan

JAMBIUPDATE.CO, JAMBI-Wakil Rektor II UIN Sultan Thaha Saefudin (STS) Jambi Prof. As'ad Isma menyampaikan pesan-pesan kesejukan, terutama untuk civitas akademika UINI STS Jambi.

Pesan ini disampaikannya  dalam rangka kegiatan rutin membaca ratib dan qasidah Burdah yang bertepatan pula dengan hari santri pada Sabtu (21/10) malam.

Menurutnya, kegiatan rutin membaca ratib dan qasidah Burdah selain bertepatan dengan hari Santri, juga membaca serentak 1 miliar sholawat nariyah untuk Indonesia Harmoni.

"Terkhusus tentunya untuk Jambi Harmoni dan UIN Harmoni . Semoga apa yang kita baca hari ini diberi ridho dan mendapat berkah dari Allah SWT," kata Asad.

Asad juga menyampaikan bahwa Pelaksana Tugas (Plt) Rektor UIN Jambi telah hadir, yang juga menunjukan bahwa tugas rektor sebelumnya telah selesai.

"Mari kita bersama- sama terus meningkatkan kebersamaan kita selama ini tanpa menghujat siapapun," ucap As'ad.

Tak hanya itu As ad juga memberikan kesan penting untuk pimpinan UIN sebelumnya.

"Sebagai seorang manusia rektor sebelumnya tentu memiliki sisi lemah, namun demikian kontribusi beliau tidak bisa kita abaikan sebagaimana kontribusi rektor -rektor sebelumnya. Mari bersama-sama menjaga kondusifitas kampus kita bersama dan terus berbenah untuk perkembangan kampus kita selanjutnya," akunya.

Sementara itu, Ustadz Zaki MA dalam tausiahnya  menyampaikan terkait hakikat santri.

Santri secara etimologi banyak dikaitkan dengan beberapa bahasa. Misalnya bahasa jawa "cantrik", dan bahasa sanskerta "shastri". Sedangkan secara terminologi, santri secara umum dimaknai dengan orang belajar atau menuntut ilmu di lembaga pendidikan Islam (pondok pesantren).

"Namun demikian, sesungguhnya santri lebih dari itu. Santri tidak terbatas itu saja. Akan tetapi adalah seseorang yang taat terhadap para guru dan kiai. Menjaga akhlak dan nilai-nilai Islam yang diajarkan oleh para kiai di manapun dan kapanpun," akunya.

Lanjutnya, ada adagium yang indah yang diajarkan masyayih yang mengatakan bahwa sekali santri maka selamanya santri. Artinya mau sehebat apapun seorang santri, menjadi pejabat dari bupati hingga presiden, aparatur negara, polisi, guru atupun dosen, yang dinilai adalah bagaimana akhlaknya dalam menjaga nilai-nilai agama, dan akhlaknya terjadap para guru mereka.

Dalam tema hari santri tahun 2023 ini, resolusi jihad yang digaungkan oleh KH. Hasyim As'yari pada saat melawan penjajah, hari ini dimaknai dengan jihad dalam meneruskan perjuangan nilai nilai Islam dalam setiap sendi kehidupan masyarakat, baik pendidikan, ekonomi maupun lingkungan dan kesehatan.

"Hakikat seorang santri bukan terletak bagaimana apa yang mereka raih dalam kehidupan dunia berupa prestasi, pangkat dan jabatan. Namun hakikat santri adalah mereka yang menjaga nilai-nilai Islam dan menjaga akhlak mereka terhadap para guru dan kyainya. Selamat Hari Santri, Jihad Santri, Jayakan Negeri,"pungkasnya.

(aan)


Berita Terkait



add images