JAMBIUPDATE.CO, MUARO JAMBI – Petani hortikultura di Kabupaten Muaro Jambi kembali menghadapi tekanan ekonomi akibat anjloknya harga jual hasil panen di tengah terus meningkatnya biaya produksi pertanian. Kondisi ini dikeluhkan para petani karena dinilai mengancam keberlangsungan usaha tani yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.
Salah satu komoditas yang terdampak adalah pare yang dibudidayakan petani di Kecamatan Sekernan. Saat ini harga pare di tingkat petani hanya berkisar Rp4.500 per kilogram. Angka tersebut turun dibandingkan sebelumnya yang masih berada di atas Rp5.000 per kilogram dan jauh dari harga ideal yang diharapkan petani.
Rendahnya harga jual membuat petani kesulitan menutupi biaya operasional, mulai dari pembelian pupuk, obat-obatan hingga kebutuhan perawatan tanaman lainnya. Akibatnya, perawatan tanaman tidak dapat dilakukan secara maksimal yang berdampak pada kualitas dan produktivitas hasil panen.
Salah seorang petani pare di Kecamatan Sekernan, Nurhadi, mengaku kondisi yang terjadi saat ini semakin memberatkan petani. Menurutnya, harga jual pare yang rendah tidak sebanding dengan biaya produksi yang terus meningkat.
“Kalau harga pare hanya Rp4.500 per kilogram, kami sangat kesulitan. Untuk membeli pupuk, obat-obatan, dan kebutuhan perawatan tanaman saja sudah tidak mencukupi. Padahal harga normal di tingkat petani minimal sekitar Rp7.000 per kilogram agar biaya operasional bisa tertutup dan petani masih punya modal untuk menanam kembali,” ujarnya.
Selain menghadapi rendahnya harga jual hasil panen, petani juga harus berhadapan dengan lonjakan harga berbagai sarana produksi pertanian. Harga pupuk urea kemasan 50 kilogram yang sebelumnya sekitar Rp375 ribu kini naik menjadi Rp650 ribu per karung. Sementara pupuk NPK kemasan 50 kilogram meningkat dari Rp670 ribu menjadi Rp910 ribu.
Kenaikan harga juga terjadi pada kebutuhan pendukung lainnya. Plastik mulsa ukuran 100 meter yang sebelumnya dibeli dengan harga sekitar Rp600 ribu kini mencapai Rp900 ribu. Begitu pula harga bibit pare kemasan 250 gram yang naik dari Rp50 ribu menjadi Rp80 ribu.
Menurut Nurhadi, kondisi tersebut membuat margin keuntungan petani semakin tipis bahkan berpotensi merugi apabila harga jual hasil panen terus mengalami penurunan. Tidak sedikit petani yang mulai mempertimbangkan untuk mengurangi luas tanam karena keterbatasan modal.
“Kalau kondisi seperti ini terus berlanjut, petani bisa berhenti menanam karena modal semakin sulit. Hasil panen tidak mampu menutup biaya produksi yang terus naik,” katanya.
Para petani berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap kondisi yang mereka alami, baik melalui stabilisasi harga komoditas maupun bantuan sarana produksi pertanian agar usaha tani tetap dapat berjalan.
“Kami berharap ada solusi dari pemerintah. Harga kebutuhan pertanian terus naik, sementara harga hasil panen justru turun. Kalau tidak ada perhatian, petani akan semakin sulit bertahan dan menanam lagi pada musim berikutnya,” tandasnya. (wan)
