iklan Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.
Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.

Tidak ada satu kebijakan yang dapat menyelesaikan persoalan kabut asap secara seketika. Namun, pengalaman yang terus berulang memberikan beberapa pelajaran yang layak dipertimbangkan untuk memperkuat langkah pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat.

Pertama, pencegahan dapat diperkuat melalui tata kelola risiko berbasis data. Informasi tentang titik panas, curah hujan, kelembapan dan kedalaman gambut, arah angin, tutupan lahan, konsesi, serta riwayat kebakaran dapat diintegrasikan menjadi Indeks Risiko Karhutla hingga tingkat desa dan konsesi. Ketika indikator melewati ambang tertentu, patroli, pembasahan gambut, penempatan pompa, pemeriksaan perusahaan, dan pencairan dana siaga dapat segera dilakukan. Dengan demikian, data tidak berhenti sebagai peta, tetapi menjadi dasar tindakan sebelum api membesar.

Kedua, sistem pembiayaan dapat diarahkan lebih kuat kepada pencegahan. Selama ini anggaran relatif lebih mudah dikerahkan setelah bencana terjadi, padahal biaya pencegahan umumnya lebih rendah daripada biaya pemadaman dan pemulihan. Pembiayaan antisipatif memungkinkan dana dicairkan ketika tingkat risiko meningkat, bukan setelah kebakaran meluas. Dana tersebut dapat digunakan untuk patroli, penyediaan sumber air, pembasahan gambut, peralatan pembukaan lahan tanpa bakar, dan penguatan kelompok masyarakat.

Ketiga, masyarakat perlu memperoleh ruang yang lebih besar sebagai pelaku utama. Sebagian masyarakat masih menggunakan api karena dianggap sebagai cara paling murah untuk membersihkan lahan. Larangan dan ancaman hukuman tidak selalu menyelesaikan akar ekonomi persoalannya. Bantuan teknologi, peralatan, pendampingan, serta pembiayaan pembukaan lahan tanpa bakar dapat menjadi alternatif yang lebih adil. Desa dan kelompok masyarakat yang berhasil menjaga wilayahnya juga patut memperoleh insentif ekologis berbasis hasil yang dapat diverifikasi.

Keempat, tanggung jawab perusahaan dapat diperkuat melalui audit kesiapan yang terbuka. Keberadaan brigade kebakaran sebaiknya tidak hanya dinilai dari kelengkapan dokumen, tetapi juga dari kondisi peralatan, jumlah personel, ketersediaan sumber air, pengelolaan kanal, intensitas patroli, dan kecepatan merespons titik panas. Hasil penilaian yang diumumkan secara terbuka dapat menciptakan dorongan reputasi bagi perusahaan untuk menjaga kepercayaan masyarakat, pemerintah, investor, dan pasar.

Kelima, kerugian akibat kabut asap sudah saatnya dihitung sebagai bagian dari evaluasi pembangunan. Perhitungannya dapat mencakup biaya kesehatan, kehilangan hari kerja dan hari belajar, penurunan omzet UMKM, gangguan penerbangan dan transportasi, kerugian pertanian, serta kerusakan ekosistem. Tanpa perhitungan tersebut, investasi dalam pencegahan akan selalu terlihat mahal. Padahal, apabila seluruh kerugian diperhitungkan, biaya pencegahan sangat mungkin jauh lebih kecil daripada harga yang harus dibayar masyarakat.

Kualitas udara juga layak ditempatkan sebagai salah satu ukuran keberhasilan pembangunan daerah. Pertumbuhan PDRB, investasi, pendapatan daerah, dan pembangunan infrastruktur tetap penting, tetapi belum sepenuhnya menggambarkan kesejahteraan. Jumlah hari dengan udara sehat, penurunan luas kebakaran, pemulihan gambut, dan berkurangnya penyakit akibat asap dapat melengkapi indikator pembangunan. Dalam jangka panjang, Jambi bahkan dapat mengembangkan PDRB hijau yang memperhitungkan kerusakan lingkungan dan penyusutan sumber daya alam.

Pemerintah telah bekerja keras bersama aparat, dunia usaha, relawan, dan masyarakat. Evaluasi terhadap penanganan karhutla bukan dimaksudkan untuk mengabaikan kerja tersebut, melainkan untuk memastikan agar seluruh pengorbanan menghasilkan perubahan yang lebih permanen. Tantangan Jambi bukan hanya memadamkan api hari ini, tetapi mencegah agar api yang sama tidak kembali menyala pada musim berikutnya.

Udara bersih adalah hak masyarakat sekaligus modal pembangunan. Pertumbuhan ekonomi kehilangan sebagian maknanya apabila masyarakat harus membayarnya dengan kesehatan, pendidikan, dan produktivitas. Menjaga langit Jambi tetap biru membutuhkan kolaborasi, teknologi, insentif ekonomi, keterbukaan, dan konsistensi sepanjang tahun. Dengan semangat itulah, Jambi dapat membangun ekonomi yang terus tumbuh tanpa mengorbankan kesehatan dan masa depan generasi berikutnya.(*)


Berita Terkait



add images