iklan Ilustrasi
Ilustrasi
Happy weekend X-aholic! Waah weekend kali ini pastinya seru yah kalo diabisin bareng orang-orang tersayang. Eits, tapi jangan lupa untuk baca Xpresi edisi Sabtu sebelum menikmati weekend kamu. Soalnya seperti biasa, Xpresi Sabtu bakal mengupas habis tentang satu film pilihan buat kamu.

Buat kamu yang ngakunya movie freaks, tentunya nggak mau absen dong ya mantengin layar bioskop tiap minggunya. Sabtu ini Xpresi bakal ngeresensi film dengan tema yang beda. Kalau biasanya romance, sekarang kita bakal ngeresensi film horror, but masih ada unsur romance kok.  Yey!

Masih inget nggak guys sama film yang sempat booming yaitu Twilight Saga? Twilight harus diakui sukses memberikan karakter seramnya sosok vampire menjadi sosok yang keren. Hal yang sama coba dilakukan di film Warm Bodies ini, kali ini yang menjadi vigurnya adalah zombie. Kebayang nggak sih guys, zombie yang suka makan otak, menakutkan, menjadi icon supaya terlihat keren dan disukai oleh penontonnya?

Warm Bodies memang tidak dapat memuaskan dahaga para fans fanatic zombie yang mengharapkan banyak adegan pelanggaran hak asasi zombie. Adegan penuh darah di film ini. Untuk bagian para pejuang manusia, nyaris nggak terlihat, karena semua durasinya hanya dikuasai oleh R dan Julie. Memang sih, nggak masalah dengan hal itu karena mereka adalah actor utama dalam film ini. Namun, alangkah baiknya menambah durasi beberapa menit demi memperkuat mitologi. Namun, Warm Bodies berhasil membuktikan bahwa genre zombie masih memiliki banyak potensi mengejutkan yang dapat digali.

Terbukti dari salah satu penggemar zombie-holic, Hajmia Guswika yang mengaku suka dengan film ini, “film zombie ini beda dari zombie lainnya,” tuturnya.   Beberapa adegan romantis antara dua makhluk berbeda jenis yang dibumbui adegan humor menjadi kekuatan utama film ini. Meski mengusung konsep cerita yang katanya mirip Twilight, tapi Levine sang sutradara ingin membuat Warm Bodies berbeda dari Twilight.

Banyak yang bilang kalau film berjudul Warm Bodies ini adalah “the new Twilight”. Sama kayak komentar teman kita Aan Saputra, “film ini kurang masuk akal dan seperti meniru film Twilight.” Hal tersebut sah-sah aja, apalagi ketika demam film drama romantis remaja yang nggak biasanya (baca: cinta segitiga vampir, werewolf, manusia) sudah habis, butuh pengganti baru yang mungkin bisa lebih fresh dari pendahulunya tersebut. Nah, Warm Bodies hadir dengan jalinan kisah asmara zombie dan manusia yang lebih menarik.

Dengan alur cerita yang cukup lambat, terlalu banyak memperlihatkan interaksi R dan Julie yang sebenarnya bisa lebih dipersingkat, tapi untungnya faktor musik menjadi penolong sehingga penonton tidak menjadi terlalu bosan melihat interaksi ‘canggung’ R dan Julie yang justru baru mulai menarik ketika pertengahan hingga akhir film ini. Seperti teman kita Dian Okyta yang mempunyai bagian film yang ia suka, “Part yang paling disuka, saat Julie mau dimakan sama segerombolan zombie, tapi si R segera mengamankan Julie. Di situ terlihat sosok R yang gentle,” jelasnya.

Film Warm Bodies yang lengket dengan icon zombie ini ternyata punya bagian cerita yang romantis seperti penuturan Dian. Kalau kamu butuh defenisi romantis dari sudur padang zombie yang mematikan, tonton aja film ini. Warm bodies yang merupakan adaptasi dari novel karangan Isaac Marion ini adalah refleksi terbaik untuk kamu guys. Walau nggak begitu istimewa, tapi Warm Bodies bisa menjadi penyegaran untuk kamu yang udah jenuh sama film romansa picisan.(sumber: xpresi jambi ekspres)

Berita Terkait



add images