iklan Illustrasi
Illustrasi

JAMBIUPDATE.COM, KUALATUNGKAL - Nasib nelayan tradisional yang ada di Tanjabbar kini kian memprihatinkan. Harga BBM naik sementara nilai tukar rupiah merosot. Ini berimbas ke perekonomian nelayan. Pasalnya, hasil tangkapan nelayan yang selama ini menjadi sumber kehidupan harus dijual murah ke pengusaha.

Kondisi ini ditambah dengan sejak satu tahun terakhir. Melemahnya rupiah memaksa pengusaha ikan di Tanjabbar sedikit menghemat pengirimanya ke luar negri dengan alasan, naiknya permintaan ikan tidak sesuai dengan harga yang di tawarkan.

Sebelum rupiah melemah, dalam sehari saya mampu mengirim ikan segar dengan berbagai ukuran ke negara Singapura dan Malaysia ratusan kilo. Bahkan sebagian hasil laut para nelayan berani ditampung dengan harga sesuai pasaran," ujar Fahri, pengusaha ikan ekspor yang juga putra daerah Tanjabbar yang sering disapa Bos Ai.

Dijelaskanya, harga jual ikan yang diekspor rata-rata dihargai 40 ribu per Kilo sama dengan harga pembelian ikan dari  nelayan tradisional. "Supaya nelayan dapat duit bisa makan juga, kita terpaksa beli, Dak tentu juga kadang bayar rugi, kadang  bayar untung, kalau permintaan meningkat kita kirim banyak kalau tidak kita kirim sesuai permintaan," katanya.

(sun)


Berita Terkait



add images