iklan Ilustrasi.
Ilustrasi.

JAMBIUPDATE.CO, JAKARTA Harga beragam bahan kebutuhan pokok naik. Sudah pasti, hal ini juga akan mendongkrak pengeluaran di sepanjang Ramadhan dan jelang hari raya Idul Fitri. Karena itu, masyarakat sebaiknya bijak mengatur keuangan. 

Pos (pengeluaran selama Ramadhan dan Lebaran, red)- nya kebanyakan di lima hal. Makanan dan minuman, pakaian, zakat, mudik, dan oleh-oleh, ucap Commisioner OneShildt Financial Planning, Mohamad Andoko, ditemui akhir pekan kemarin.

Di antara lima itu, dua di antaranya semestinya sudah tidak lagi menjadi masalah saat memasuki Ramadhan. Sebab bisa direncanakan sejak jauh-jauh hari, setidaknya sejak tiga bulan atau sebulan sebelum berpuasa. 

Yaitu pakaian dan mudik. Pakaian bisa dibeli sebulan sebelumnya dan disimpan. Begitu juga kebutuhan mudik baik tiket transportasi maupun kendaraan pribadi. Tiket kan akan lebih baik jika dipesan sejak lima bulan lalu, misalnya. Bisa dapat lebih murah juga. Tapi banyak yang mengabaikan, tuturnya.

Terkait dengan zakat, setiap individu hanya perlu menghitung dari besaran pendapatannya sehingga menjadi sesuatu yang sudah pasti. Maka hanya tinggal lebih bijak dalam belanja kebutuhan makan dan minum.

Namanya puasa, seharusnya buat yang puasa dari sisi frekuensi dan jumlah yang dimakan atau diminum lebih kecil kan. Hanya saat berbuka dan sahur saja. Tapi sayangnya barang kebutuhan pokok malah naik, sekitar 35 sampai 50 persen saat Ramadhan. Jadi lebih mahal, kata Andoko.

Maka sekalipun pemerintah berkomitmen menurunkan harga daging sapi, kata dia, ada baiknya berkaca dari pengalaman tahun sebelumnya. Mengingat kembali berapa besar pengeluaran untuk barang makanan dan minuman itu. 

Sebab itu berkaitan dengan kebutuhan lainnya saat memasuki hari raya Idul Fitri yaitu oleh-oleh baik saat mudik ke kampung halaman maupun saat kembali ke kota asal.

Uang untuk memberi ke orangtua, untuk keluarga dan saudara, dan sebagainya sepanjang mudik itu. Lalu biasanya juga butuh uang untuk oleh-oleh saat kembali dari kampung halaman. Semua itu cukup besar, paparnya.

Banyak yang mengabaikan penghitungan semua kebutuhan itu sehingga akhirnya berhutang. Baik utang langsung kepada institusi keuangan, melalui kartu kredit, atau kepada pihak lainnya. 

Sekali berutang untuk kebutuhan lebaran, sulit untuk mengeremnya. Sebab setelah lebaran kita dihadapkan kebutuhan lainnya juga, tegasnya.

Maka secara sederhana Andoko menyarankan untu membuat catatan dan membuat pos anggaran. Dijumlahkan berapa total kebutuhan dikaitkan sumber dana dimiliki terutama dari gaji dan Tunjangan Hari Raya (THR). Penghasilan kita ada batasannya. Keinginan bisa tak terbatas, ujar Andoko.(gen)


Sumber: WWW.JPNN.COM

Berita Terkait



add images