iklan Ilustrasi.
Ilustrasi.

JAMBIUPDATE.CO, JAKARTA - Memilik pola gaya hidup sehat ternyata bisa menurunkan risiko penyakit jantung.

Sebuah studi internasional menemukan bahwa orang dengan tingkat tertinggi menderita serangan jantung atau masalah jantung lainnya akan terhindar dari resiko ini jika mereka tidak merokok, makan dengan baik, berolahraga dan memiliki berat badan yang normal.

"Anda tidak memiliki kontrol terhadap DNA Anda sendiri," kata pemimpin studi, Dr Sekar Kathiresan, seperti dilansir laman MSN, Senin (19/12).

"Banyak orang beranggapan bahwa jika salah satu anggota keluarga Anda memiliki masalah penyakit jantung, maka Anda juga ditakdirkan untuk memiliki masalah yang sama, tetapi hasilnya menunjukkan bahwa itu tidak terjadi," jelas Kathiresan.

Sudah lama diketahui bahwa gen dan gaya hidup memengaruhi risiko jantung, tetapi seberapa besar pengaruhnya masih belum diketahui.

Para peneliti meneliti gabungan informasi di lebih dari 55 ribu orang di empat penelitian di seluruh dunia.

Satu termasuk pencitraan untuk memeriksa plak membangun di arteri jantung.

Peserta diteliti atas 50 gen yang berhubungan dengan risiko jantung.

Mereka juga diurutkan menjadi tiga kelompok dengan faktor gaya hidup sehat, tidak menjadi gemuk, berolahraga setidaknya sekali seminggu, makan makanan yang sehat dan tidak merokok.

Kelompok gaya hidup yang menguntungkan memiliki setidaknya tiga dari empat faktor tersebut.

Kemudian kelompok yang tidak menguntungkan memiliki satu atau tidak ada sama sekali.

Hasilnya, orang-orang dengan gen serangan jantung memiliki hampir dua kali kesempatan lebih tinggi mengembangkan masalah jantung dibandingkan dengan orang dalam kelompok risiko gen terendah.

Tapi yang menarik adalah perbedaan dalam risiko ketika gen dan faktor gaya hidup digabungkan. Karena itu, gaya hidup sehat mengurangi kerusakan.

"Jika Anda memiliki gaya hidup yang tidak menguntungkan dan gen beresiko tinggi, maka risiko Anda terkena serangan jantung selama 10 tahun ke depan adalah 10 persen, tetapi dengan gaya hidup yang baik, itu hanya 5 persen," pungkas Kathiresan.

Penelitian ini dipresentasikan dalam konferensi American Heart Association di New Orleans dan dipublikasikan secara online di New England Journal of Medicine.(fny/chi/jpnn)


Berita Terkait



add images