iklan Gelombang Tinggi Bikin Nelayan Enggan Melaut, Pasokan Ikan di Muara Sabak Menipis
Gelombang Tinggi Bikin Nelayan Enggan Melaut, Pasokan Ikan di Muara Sabak Menipis

JAMBIUPDATE.CO, MUARA SABAK – Cuaca ekstrem yang melanda perairan Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) dalam beberapa pekan terakhir mulai berdampak pada ketersediaan ikan di pasar tradisional. Terbatasnya aktivitas nelayan akibat angin kencang dan gelombang tinggi menyebabkan pasokan ikan laut menurun, sehingga harga jual perlahan mengalami kenaikan.

Pantauan di Pasar Muara Sabak menunjukkan, ketersediaan ikan laut tidak sebanyak hari-hari normal. Lapak pedagang lebih banyak diisi ikan hasil tangkapan dari perairan dangkal, sungai, dan muara, sementara ikan laut lepas hanya tersedia dalam jumlah terbatas.

BACA JUGA: Kualitas Perbaikan Buruk, Belum Setahun Jalan Lintas Sumatera di Jujuhan Kembali Hancur

Kondisi ini dipicu cuaca laut yang tidak bersahabat. Angin kencang disertai gelombang tinggi yang mencapai lebih dari dua meter membuat sebagian besar nelayan memilih tidak melaut ke perairan lepas demi keselamatan.

“Sudah beberapa hari ini ikan laut agak susah. Kalaupun ada, jumlahnya sedikit, jadi harganya ikut naik,” ujar Rahman, pedagang ikan di Pasar Muara Sabak.

Ia menjelaskan, kenaikan harga bervariasi tergantung jenis ikan. Beberapa komoditas yang biasanya mudah diperoleh kini hanya masuk dalam jumlah terbatas, sehingga pedagang terpaksa menyesuaikan harga jual.

BACA JUGA: Klinik Utama Jambi Eye Center Gelar Bakti Sosial Operasi Katarak Gratis

“Pembeli masih ada, tapi banyak yang mengurangi jumlah belanja karena harga naik,” tambahnya.

Di sisi lain, nelayan mengaku kondisi cuaca ekstrem berada di luar kendali mereka. Yadi, nelayan Kecamatan Muara Sabak Timur, menegaskan keselamatan menjadi pertimbangan utama saat cuaca laut memburuk.

“Ombak sekarang besar dan tidak menentu. Kalau dipaksakan, risikonya terlalu tinggi,” ujarnya.

Menurut Yadi, sebagian nelayan memilih mengalihkan aktivitas dengan menangkap ikan di perairan dangkal, sementara lainnya berhenti melaut sementara waktu dan mengerjakan pekerjaan lain.

BACA JUGA: Polisi Bakar 10 Alat Tambang Emas Ilegal di Maro Sebo Ulu, Pelaku Tidak Ditemukan

“Ini sudah jadi siklus tahunan. Kalau cuaca seperti ini, hasil tangkapan pasti berkurang,” jelasnya.

Sementara itu, Udin, nelayan Kuala Jambi, menyebut cuaca ekstrem juga dimanfaatkan nelayan untuk melakukan perawatan kapal dan alat tangkap.

“Daripada alat rusak saat dipakai, lebih baik kami perbaiki dulu sambil menunggu cuaca membaik,” tuturnya.

Ia berharap kondisi laut segera kembali normal agar pasokan ikan stabil dan aktivitas nelayan dapat berjalan seperti biasa. Jika cuaca ekstrem berlangsung lama, dikhawatirkan akan terus berdampak pada ketersediaan ikan serta daya beli masyarakat.(lan)


Berita Terkait



add images