JAMBIUPDATE.CO, MUARO JAMBI-Baru dua hari usai dilantik, gelombang pengunduran diri langsung mengguncang dunia pendidikan di Kabupaten Muaro Jambi. Sebanyak 13 kepala sekolah resmi mengajukan surat pengunduran diri ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Muaro Jambi.
Ironisnya, para kepala sekolah itu sebelumnya baru saja dilantik oleh Wakil Bupati Muaro Jambi, Jun Mahir, Senin (18/5), bersama ratusan kepala sekolah lainnya untuk jenjang TK, SD hingga SMP.
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Muaro Jambi, Hendri membenarkan adanya pengunduran diri tersebut. Menurutnya, total ada 13 kepala sekolah yang memilih mundur dari jabatan yang baru saja mereka emban.
"Untuk alasan bermacam-macam, ada yang karena lokasi penempatan terlalu jauh, faktor kesehatan, dan ada juga yang sudah mendekati masa pensiun," katanya singkat, Rabu (20/5).
BACA JUGA: Gubernur Al Haris Buka UKW ke-13 di Jambi, Dorong Profesionalisme Wartawan
Sementara itu, salah satu kepala sekolah yang mengundurkan diri adalah Rasyidi, S.Pd.I. Ia mengaku keberatan dengan lokasi penempatan barunya yang dinilai terlalu jauh dari tempat tinggalnya.
“Alasannya saya ditempatkan sangat jauh sekali. Di Rondang sana. Dari Jambi ke Tanjung itu tiga jam, menyeberang lagi naik ketek, sewanya Rp50 ribu, sejam lagi perjalanan,” ujar Rasyidi saat dikonfirmasi via ponselnya.
Sebelum dilantik menjadi kepala sekolah di SD 036 Rondang, Rasyidi mengaku mengajar di SD 121 Mekar Jaya dan merasa nyaman dengan pekerjaannya sebagai guru. “Saya sudah nyaman jadi guru,” katanya.
BACA JUGA: Delapan Pelajar SMKN 1 Kota Jambi Diduga Keracunan MBG
Ia juga mengaku tidak mengetahui mekanisme penempatan saat proses pengangkatan kepala sekolah berlangsung. Menurutnya, dirinya tiba-tiba menerima keputusan pelantikan dan penempatan.
“Kalau mekanismenya kami tidak tahu. Tahunya langsung dilantik dan dipindahkan ke sana,” ungkapnya.
Rasyidi mengatakan dirinya telah resmi menyerahkan surat pengunduran diri. Bahkan, saat dirinya mengajukan surat tersebut, sudah ada sejumlah kepala sekolah lain yang melakukan hal serupa.
“Saya tadi nomor dua yang mengundurkan diri. Setelah itu memang banyak juga yang mengajukan,” katanya.
Saat ditanya apakah tetap akan bertahan jika ada permintaan dari pemerintah daerah, Rasyidi mengaku masih melihat kondisi. Namun ia menegaskan lebih memilih mundur daripada harus bertahan di penempatan saat ini. “Kalau sekarang tetap memilih mundur,” tegasnya.
Pengunduran diri massal ini memunculkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat, termasuk dugaan adanya ketidakpuasan terhadap pola penempatan kepala sekolah yang baru dilantik.
Bahkan, muncul isu terkait dugaan adanya setoran agar bisa bertahan di sekolah tertentu. Namun, Rasyidi mengaku tidak mengetahui persoalan tersebut.
“Kalau itu saya kurang tahu, karena kami tidak mengikuti,” ujarnya.
Hingga kini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Muaro Jambi belum menyampaikan langkah lanjutan terkait pengisian kekosongan jabatan kepala sekolah yang ditinggalkan. (wan)
