Petani kelapa di Tanjungjabung Barat, Tabrani, saat memperlihatkan kelapa hasil panen. (Inzert) Jumad mengupas kelapa.
Petani kelapa di Tanjungjabung Barat, Tabrani, saat memperlihatkan kelapa hasil panen. (Inzert) Jumad mengupas kelapa.

JAMBIUPDATE.CO, JAMBI - Sejak satu tahun terakhir harga kelapa merosot. Biasanya hargakelapa dalam yang sudah dicungkil per kwintalnya Rp 180.000. Dulu Rp 600.000. Anjloknya harga kelapa dalam membuat petani di tanjungjabung Barat harus pintar memutar otak untuk menutupi biaya hidup dan biaya sekolah anak.

GATOT SUNARKO - KUALA TUNGKAL

KELAPA adalah sumber ekonomi dan merupakan energi utama untuk para petani kelapa demi bertahan untuk kelangsungan hidup di masa kini dan masa yang akan datang.

RT 15, Dusun Makmur, Desa Tungkal 1, Kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Tanjung Jabung Barat adalah wilayah yang dekat dengan pesisir pantai Kuala Tungkal.

Masyarakat di desa tersebut rata-rata berprofesi sebagai petani kelapa dalam. Sempat melambung tinggi harga komoditas kelapa sekitar 1 tahun lalu, namun, kini harga kelapa sangat miris. Harga jual kelapa turun sudah setahun terakhir tanpa alasan yang jelas di tingkat petani. Ini membuat kehidupan para petani kelapa sengsara.

Ditemui di kebunnya, Tabrani (58), salah seorang petani kelapa dalam di Desa Tungkal 1 mengatakan, dirinya bersama petani kelapa tetap bertahan selama kondisi harga komoditas kelapa sedang anjlok. Dia tetap mengerjakan kegiatan seperti biasanya di kebun, meski saat ini dengan keterbatasan harga.
Harga kelapa dalam yang sudah dicungkil isinya per kwintalnya (satu pikul) dihargai Rp 180.000 padahal waktu jaya-jayanya harga kelapa dalam Rp 600.000 per 1 pikulnya.

Pak Tabrani sendiri memiliki 2 hektar luas lahan kebun kelapa. Dalam 2 hektar itu dirinya dapat memanen kelapa sebanyak 12.000 biji per 3 bulan sekali dan itu jika diproses hasil kelapa nya mencapai 4 ton yang, berarti dirinya bisa mengantongi uang sekitar Rp 24 juta, dan dengan harga saat ini hanya bisa mengantongi Rp 7,2juta.

Dengan selisih yang begitu banyak dirinya harus pintar-pintar sehari-harinya karena panen kelapa dilakukan hanya 3 bulan sekali. "Semenjak 1 tahun belakangan harga kelapa semakin sakit, kami pun harus bisa mensiasati pengeluaran rumah tangga 1 tahun terakhir, keluhnya.

Masih kata Dia, dengan hasil kelapa inilah bisa menyekolahkan anak-anaknya yang saat ini masih mengenyam pendidikan. Ia memiliki 3 orang anak, anak yang pertama sedang kuliah di Kota Jambi, anak yang kedua dan ketiga masih sekolah SMP dan SD.

"Hari-hari kami di kebun inilah mengurus kelapa, mulai dari membersihkan anak parit, menebas, dan memanen jika sudah masanya," katanya.

Meski demikian, Ia sempat bercanda jika semurah-murahnya harga kelapa masih untung bisa dijual. Ia pun berharap kepada pemerintah daerah maupun dapat memperjuangkan hasil pertanian khususnya kelapa dalam yang saat ini harganya sedang menyedihkan.

Sama halnya dengan Pak Jumad (55), warga desa Tungkal 1, dirinya pun mengeluhkan dengan turunnya harga kelapa. Sejak 30 tahun silam dirinya mengerjakan kelapa, baru saat inilah terasa turunnya harga kelapa sangat mengganggu perekonomian.

"Semenjak harga turun, kami jarang ke pasar," keluhnya.

Ia pun memohon kepada pemerintah untuk memperjuangkan harga kelapa, supaya bisa kembali seperti semula. Selain itu, Ia juga meminta kepada pemerintah daerah untuk memperbaiki akses jalan menuju daerahnya karena semenjak zaman dahulu hingga saat ini pemerintah hanya satu kali melakukan perbaikan jalan.

"Kami berharap pemerintah dapat menstabilkan harga, Selain itu, kami juga meminta akses jalan kami diperbaiki, pungkasnya. (*)

 


Komentar

Rekomendasi




add images