Lulut Edi Santoso, guru SMAN 3 Kolektor Manuskrip Jawa Kuno yang usianya lebih dari tiga abad bersama Profesor asal Belanda Dick Van Der Meij (kanan) (Sandra/Jawa Pos Radar Malang)
Lulut Edi Santoso, guru SMAN 3 Kolektor Manuskrip Jawa Kuno yang usianya lebih dari tiga abad bersama Profesor asal Belanda Dick Van Der Meij (kanan) (Sandra/Jawa Pos Radar Malang)

JAMBIUPDATE.CO - Juni 1812 tentara Inggris melakukan penjarahan besar-besaran di Keraton Jogjakarta. Bulan ini atau nyaris 207 tahun setelahnya, kita bisa leluasa mengakses manuskrip kuno yang hilang tanpa harus terbang ke London. Berikut laporan wartawan Jawa Pos Ainur Rohman yang baru pulang dari sana.

ORANG yang bertanggung jawab atas penjarahan hebat di Keraton Jogjakarta pada Juni 1812 adalah Gubernur-Letnan Hindia Belanda Thomas Stamford Raffles.

Hampir setiap hari dalam dua pekan satu gerobak barang berharga, termasuk manuskrip penting, dibawa dari keraton menuju Inggris.

Tentara Inggris diperkirakan membawa sekitar 7.000 manuskrip ke London. Itu tidak hanya berasal dari Jogjakarta. Melainkan dari seluruh Indonesia. Dari jumlah itu, hanya sekitar 600 naskah kuno dari Indonesia yang bertahan sampai sekarang. Sedangkan yang berasal dari Jogjakarta berjumlah 75 naskah.

Naskah-naskah kuno tersebut lama tersimpan di The British Museum. Ketika The British Library dibangun pada 1973, lembaran-lembaran antik itu pindah rumah. Upaya untuk memulangkan harta milik Jogjakarta dan Indonesia tersebut bukan tidak ada.

Pada masa Presiden Megawati Soekarnoputri (2001-2004), penjajakan dilakukan. Namun, memang tidak maksimal. Masih banyak naskah yang tetap bertahan di London. Salah satu alasannya, Indonesia belum mampu menangani dan merawat naskah-naskah tersebut secara profesional.

Pada 20 Maret 2018, sebuah langkah bersejarah yang berkaitan dengan manuskrip-manuskrip Jogjakarta itu dilakukan. Gubernur DI Jogjakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X mengunjungi The British Library. Dia resmi meluncurkan program yang dinamakan Javanese Manuscripts from Yogyakarta Digitisation Project. Seorang pengusaha Indonesia yang berdarah India, Sri Prakash Lohia, adalah salah satu sosok paling berjasa dalam digitalisasi naskah-naskah Jawa tersebut.

Lohia, pendiri Indorama Corporation, sebuah perusahaan raksasa yang memproduksi tekstil, poliester, dan spandeks menjadi sponsor utama proyek itu. Dia mengucurkan dana besar untuk membiayai digitalisasi naskah kuno tersebut.

Dengan dukungan Lohia, 75 manuskrip yang tersimpan di The British Library didigitalisasi. Dalam setahun, proyek tersebut sudah rampung. Sekarang semua orang bisa mengakses naskah-naskah kuno dari Jogjakarta secara gratis!

Dalam 75 manuskrip tersebut, terdapat lebih dari 30.000 lembar gambar digital. Nanti naskah-naskah berharga itu juga bisa diakses dari Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Istimewa Jogjakarta serta Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Selain itu, puluhan ribu gambar tersebut dapat dilihat dari website pribadi Lohia, SPL Rare Books.

Kepala Seksi Asia Tenggara The British Library Annabel Teh Gallop yang juga kurator proyek itu mengatakan, 70 di antara 75 manuskrip merupakan hasil penjarahan tentara Inggris pada Juni 1812. Manuskrip tersebut berisi sejarah, sastra, tata cara hidup, hukum, dan etika Jawa. Selain itu, ada naskah-naskah Islam, kompilasi mengenai cerita wayang. Cara menulisnya bermacam-macam. Ada yang memakai huruf Jawa alias hanacaraka. Ada juga yang memakai huruf Arab tapi dibaca dengan cara Jawa alias pegon.

Menurut Gallop, kendala terbesar dalam digitalisasi itu adalah adanya naskah yang secara fisik sudah rusak. Tulisan pudar karena dimakan rayap dan tidak bisa dibaca. Namun, kondisi kebanyakan naskah Indonesia cukup baik. Kecuali yang ditulis di daun lontar.

Saya berharap sumber-sumber primer seperti itu bisa diakses secara lebih luas. Proyek itu saya kira akan memberikan stimulasi yang sangat baik untuk meningkatkan minat pada studi sejarah dan budaya Jawa, kata Gallop kepada Jawa Pos dengan mengacu pada tulisannya di Asian and African studies blog The British Library. Di masa depan, akan banyak pertanyaan yang bisa terjawab, imbuh dia.

Digitalisasi naskah tidak mudah. Ada tiga tahap yang dilakukan. Yakni, melakukan konservasi, memotret, lalu mengunggahnya di website. Di sana, ada perbaikan kualitas, warna, dan urutan naskah. Pengunggahan satu halaman naskah beresolusi tinggi ke situs web bisa memakan waktu lama.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI London Profesor E. Aminudin Aziz mengatakan, proyek digitalisasi naskah kuno Jogjakarta itu adalah kerja yang sangat luar biasa. Sebab, tanpa harus terbang ke London, semua orang Jawa (dan Indonesia) yang tertarik dengan kekayaan kultural berusia ratusan tahun itu gampang untuk mengakses.

Walau ditulis dalam bahasa Jawa, Aminudin mengatakan, Gallop selalu memberikan catatan kecil pada setiap manuskrip. Tujuannya, membantu peneliti dan para peminat sejarah untuk memahami isi naskah kuno tersebut secara garis besar. Hasil scan-nya sangat bagus. Potretnya beresolusi tinggi. Ini saya kira adalah sumbangan yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia, kata Aminudin. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter: (*/c11)


Sumber: www.jawapos.com

Komentar

Rekomendasi




add images