Bahren Nurdin.
Bahren Nurdin.

Oleh: Bahren Nurdin

Sudah sama-sama diketahui bahwa dalam perhelatan pemilihan umum (Pemilu) baik pemilihan kepala daerah (bupati/wali kota, dan gubernur) maupun pemilihan anggota legislatif (DPRD/DPR-RI dan DPD-RI) ada sekelompok orang yang menamakan dirinya Tim Sukses (Timses) atau bahasa lain yang sering digunakan adalah Tim Pemenangan. Akhir-akhir ini, saya mempelajari dan memperhatikan tingkah polah kelompok-kelompok yang menyebut dirinya sebagai tim sukses ini. Saya kemudian menyimpulkan bahwa mereka ini tebagi menjadi dua ketagori. Pertama tim sukses. Kedua calo pengumpulan suara.

Kedua kelompok ini secara kasat mata memang agak susah untuk dibedakan, mana yang calo dan mana yang benar-benar sebagai tim sukses. Namun akan mudah dipisahkan dari tujuan dan motif yang mereka miliki. Jelas sekali kedua kelompok ini memiliki tujuan yang sangat berbeda.

Tim sukses; kelompok ini memiliki idealisme yang tinggi terhadap kepentingan bangsa dan negara. Mereka melepaskan diri dari kepentingan pribadi dan golongan, bahkan kepentingan orang yang mereka sukseskan itu sendiri. Orang-orang ini biasanya mengedepankan visi dan misi orang yang didukungnya. Jadi bukan orangnya, tapi apa yang akan dikerjakan oleh orang yang disukseskan tersebut. Ini berarti satu-satunya alasan mengepa mereka mendukung orang tersebut adalah karena mereka ingin orang tersebut berbuat untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan Negara.

Kelompok ini biasanya cenderung bekerja tanpa pamrih; tidak money oriented. Kelompok ini sangat selektif dalam memberikan dukungan. Mereka sangat teliti terhadap track record, kepribadian, program, visi-misi, dll orang yang mereka dukung. Mereka sebisa mungkin melepaskan diri dari subjektivitas dukungan berdasarkan kekerabatan, kedaerahan, pertemanan, atasan-bawahan, kesukuan, dan lain-lain. Alasan-alasan ini mereka kesampingkan. Jika pun masih dilihat maka alasan ini hanya dijadikan data pendukung. Namun yang menjadi patokan utamanya adalah kualitas dan kredibilitas orang yang mereka dukung dinilai secara objektif.

Berbeda dengan calo. Menurut kamus Bahasa Indonesia, calo didefinisikan orang yang menjadi perantara dan memberikan jasanya untuk menguruskan sesuatu berdasarkan upah; perantara; makelar. Jadi, diyakini dalam setiap perhelatan Pemilu akan banyak orang atau sekelompok orang yang ujuk-ujuk menawarkan diri untuk menjadi tim sukses yang sesungguhnya tidak lebih dari sebagai calo. Tim yang memberikan jasanya untuk mengumpulkan suara untuk seseroang dengan imbalan tertentu.

Sekali lagi, sebagaimana telah disampaikan di atas bahwa yang membedakan tim sukses (sebenarnya) dengan calo berkedok tim sukses itu hanya pada tujuan akhir mereka. Bagi kelompok calo ini sudah jelas tujuan akhir mereka adalah keuntungan pribadi atau kelompok mereka sendiri dalam berbagai bentuk. Tentu upah atas perjuangan (jasa) yang mereka tuntut selain uang juga berupa non materi seperti jabatan, kedudukan, proyek, dan lain-lain. Maka kemudian, mereka lebih memilih menjadi tim sukses orang-orang yang mereka anggap memiliki uang yang banyak, kekuasaan yang kuat, dan tentunya yang berani deal-deal-an. Siapa dapat apa.

Kelompok ini sudah barang tentu akan mengenyampingkan idealisme kepentingan orang banyak, bangsa dan negara. Artinya, selagi mereka mendapat keuntungan dari orang yang mereka dukung, siapa paun dia, apa pun kejahatan yang pernah dilakukannya, bagaimana visi dan misinya ke depan, dan lain-lain tidak menjadi pertimbangan. Satu-satu pertimbangan mereka adalah keuntungan yang mereka dapat dari jasa menjadi tim sekses tersebut.

Tulisan ini mencoba memberikan opini sekali gus peringatan baik kepada para kandidat yang bertarung pada berbagai perhelatan pemilu maupun kepada masyarakat luas. Kepada para kandidat, tulisan ini memberikan peringatan (warning) untuk hati-hati melihat orang atau sekelompok orang yang mengajukan diri sebagai tim sukses, tim pemenangan, gerakan pendukung, dll. Lihat dan teliti dengan baik apa tujuan meraka mengajukan diri untuk mendukung, jangan-jangan mereka sedang mencari lokak. Mereka memanfaatkan momentum Pemilu untuk menambah pundi-pundi pribadi. Kelompok-kelompok ini juga sangat merusak tatanan demokrasi bangsa ini.

Kepada masyarakat luas, melalui tulisan ini saya juga mengingatkan untuk tidak mudah diajak menjadi anggota tim sukses dan sejenisnya. Tidak ada larangan untuk mendukung seseorang tatapi jangan sampai anda hanya dijadikan jualan orang lain (calo). Anda hanya dimanfaatkan untuk kepentingan mereka sendiri. Pada akhirnya nanti, bagi kelompok ini kalah dan menang orang yang mereka dukung bukan jadi persoalan karena mereka pasti sudah mendapat keuntungan. Yang jadi korban tetap masyarakat yang notabennya tidak tahu apa-apa; hanya ikut-ikutan.

Hati-hatilah dalam memilih kelompok-kelompok yang memberikan dukungan kepada seseorang. Suara anda menentukan nasib bangsa ini. Maka jangan pernah menggadaikan suara anda kepada para calo yang saat ini memakai seragam tim sukses.

*Akademisi UIN STS Jambi dan Sekjen KPPD-RI


Komentar

Berita Terkait

Merebut Restu HBA

Berkawan dengan Rasa Cemas

Menilik Permasalahan Pajak E-commerce

Dasar Pengenaan Pajak Bumi Dan Bangunan Di Indonesia

Legal atau Ilegal, Penebangan Hutan Bisa Picu Banjir

Muda Membangun

Lego Legoland

Rekomendasi




add images