Penulis saat berada di salah satu sudut jalanan di Kota Shanghai, Tiongkok.
Penulis saat berada di salah satu sudut jalanan di Kota Shanghai, Tiongkok. (Istimewa)

Oleh: Pirma Satria

CANGKAT mendadak viral.

Disemua Medsos di Negeri ini.

Terutama facebook dan instagram.

Saya pun menjadi tertarik untuk menulis tentang cangkat, sebuah tempat wisata baru nun jauh di Kerinci sana. Di Desa Ujung Pasir dan Koto Tuo, Kecamatan Danau Kerinci. Yang dulunya tidak menjadi apa-apa, hanya berupa lahan tidur, spot pemancingan bagi para penyuka olahraga memancing. Musiman. Tidak setiap hari. Seperti tidak ada potensi yang bisa digali di kawasan ini.

Belakangan, foto-foto Cangkat berseliweran di jagad maya. Saya memang belum pernah berkunjung ke Cangkat, setidaknya dalam kurun waktu belasan tahun, tapi ingatan masa lalu masih cukup segar dan membekas (dulu Saya sering ke sini), seperti apa Cangkat itu, setidaknya masih didiami ribuan kelelawar, ditumbuhi ratusan pohon Eretrina Fusca Lour yang oleh masyarakat setempat disebut Pohon Cangkat (Disebut Batang Dedak oleh masyarakat lainnya) yang mungkin berusia puluhan tahun, atau bahkan ratusan tahun, jalur terakhir Sungai Batang Merao menuju ke Danau Kerinci.

Cangkat kini masih cukup alami.

Disebut Cangkat karena kontur tanahnya berada di dataran yang tidak begitu tinggi, namun persis di bibir Danau Kerinci. Belum ada sentuhan teknologi di kawasan seluas puluhan hektar ini. Posisinya seperti semenanjung. Tidak susah digapai. Hanya sekitar 12,5 km dari Pusat Kota Sungai Penuh, meski secara administratif, Desa Ujung Pasir masuk ke dalam wilayah Kabupaten Kerinci.

Berada dalam kawasan yang sering disebut Tanah Cogok (Baca: Masih berjuang untuk menjadi sebuah kecamatan), traveler bisa berkendara dengan nyaman ke Desa Ujung Pasir, namun untuk menuju ke kawasan Cangkat, masih butuh perjuangan.

Setidaknya, hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua sepanjang kurang lebih 1,5 kilo meter, melalui jalan setapak yang membelah areal persawahan warga. Sebagian sudah dicor namun sebagian lagi masih berupa jalan tanah.

Tapi jangan khawatir, semilir angin dengan pemandangan areal persawahan nan luas akan menjadi teman setia menuju ke pusat destinasi Cangkat. Kalau masih belum puas, masih ada pemandangan jejeran Bukit Barisan yang di bawahnya terhampar Danau Kerinci, cukup eksotis bukan?

Wisata alam memang selalu mendapat tempat di hati masyarakat. Tak peduli, meskipun belum ada satu pun wahana yang dibangun di kawasan Cangkat ini, namun pengunjung terus berdatangan.

Berfoto di sela-sela pepohonan besar, berbagi kebahagiaan dengan ribuan kelelewar, bergumul dengan alam luas, sepertinya sudah cukup nikmat bagi para pengunjung, setidaknya membuang kejemuan, membuat otak menjadi fresh.

Itu yang kini ditawarkan di kawasan Cangkat. Posisinya yang berada persis di Muara Sungai Batang Merao, di pesisir Danau Kerinci, juga menambah eksotisme kawasan ini. Ada danau yang terhampar, dipagari bukit barisan, ada sungai yang membelah, ada sawah dengan pematang-pematangnya sebagai tempat berpijak, berkolaborasi dengan pepohonan dan spesies kelelawar, cangkat tidak hanya wisata alam semata, tapi Cangkat juga bisa menjadi wisata edukasi.

Wisata ini belumlah seumur jagung. Baru akan dikelola oleh para pemuda kreatif dua desa, Koto Tuo dan Ujung Pasir (Sebelum pemekaran hanya satu desa, Ujung Pasir). Namun dalam waktu singkat, Cangkat sudah dikenal orang lewat perantara media sosial. Begitu massifnya, sehingga merangsang orang untuk berkunjung. Itulah kekuatan era digital. Tak perlu pasang banner atau spanduk di mana-mana, cukup publish di Medsos. Selesai. Bukan hoax tapi fakta.

Membangun Cangkat tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Seperti pesulap yang dengan elegannya melepas merpati yang tiba-tiba muncul dari dalam sebuah topi, atau menarik kain warna-warni dari sela-sela jari. Membangun Cangkat butuh sumber daya. Sumber daya manusia, sumber daya anggaran. Sumber daya alam tidak perlu dipikirkan lagi, tinggal menata kawasan yang ada. Ini tentu tidak bisa dalam waktu singkat. Pun harus dilakukan secara bertahap. Mengingat keterbatasan sumber daya yang ada.

Sumber Daya Manusia

Kalau soal ini tidak perlu diragukan lagi. Saya tahu persis seperti apa tingkat pendidikan masyarakat dua desa ini. Untuk menghadirkan sebuah ide kreatif dan inovatif, mereka tidak akan kekurangan orang. Malah surplus.

Buktinya, lewat ide kreatif, Cangkat bisa dibuka untuk umum, meski baru tahap awal dari sekian puluh tahapan lainnya. Progressnya sudah terlihat, Cangkat mulai ditata untuk menuju destinasi wisata andalan.

Mulai dikunjungi warga dari berbagai tempat.

Saya tidak tahu persis, siapa pencetus ide kreatif membangun Cangkat ini, tapi yang jelas, ide kreatif ini sudah berhasil sampai tahap ini. Lahan tidur yang dulunya tidak berharga, kini berubah menjadi destinasi wisata.

Jujur harus kita akui. Cangkat masih butuh banyak sentuhan. Harus ada tahapan selanjutnya dalam proses penataan ini. Harus lahir ide-ide kreatif lainnya tentang apa yang akan dibangun di kawasan ini. Yang paling penting, sarana transportasi haruslah disempurnakan dalam waktu dekat. Ini sangat menunjang berkembangnya kawasan Cangkat.

Barulah berfikir menghadirkan wahana-wahana baru yang tentunya memancing daya tarik para pengunjung.

Membangun tempat wisata kuliner (semisal restoran apung di tengah danau), membuat gazebo-gazebo di pesisir Danau, atau penyewaan banana boats dan berbagai atraksi air lainnya.

Menghadirkan spot-spot swafoto menarik dan kreatif, menata sepanjang jalan masuk kawasan dengan berbagai pernik-pernik yang menjadi ciri khas daerah, juga bisa dilakukan. Secara langsung memperkenalkan tradisi daerah kepada khalayak sekaligus menjaganya dari kepunahan.

Membuat kolam pemancingan juga bisa menjadi daya tarik tersendiri, mengingat potensi ini luar biasa besar di kawasan Cangkat (ada danau dan sungai yang airnya tidak pernah kering), tentu harus ditata sedemikian apik.

Sekali lagi, ini tidak bisa simultan. Harus dilakukan bertahap. Bisa belajar ke daerah-daerah yang terlebih dahulu mengembangkan wisata seperti ini.

Kalau ini terealisasi, Saya yakin akan berpengaruh besar terhadap perekonomian masyarakat setempat. Membangun Cangkat, Membangun Ekonomi Kerakyatan.
Dengan sumber daya manusia, terutama anak-anak muda yang ada di dua desa ini, tidak perlu konsultan lagi, Saya yakin mereka mampu untuk itu.

Sumber Daya Anggaran

Tidak hanya cukup dengan sumber daya manusianya saja. Meski SDM berlimpah ruah, surplus, sama saja dengan bohong jika tidak ada anggaran yang menopang ide-ide cemerlang itu.

Ide kreatif lahir dari sebuah pemikiran brilian. Merealisasikan pemikiran brilian butuh fulus. Bahasa kerennya simbiosis mutualis. Ada keterkaitan antara keduanya.

Dana besar tapi tidak ada ide kreatif yang terarah dan terukur sama saja dengan buang garam ke laut, tidak ada gunanya. Begitu pula sebaliknya, sekreatif-kreatifnya ide tapi tidak ada anggaran penopangnya, juga tidak bisa terealisasi.

Lalu, bagaimana caranya?

Cara paling sederhana adalah memanfaatkan Dana Desa yang bersumber dari APBN. Dana Desa gunanya untuk membangun infrastruktur dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Juga digunakan untuk membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Mendirikan BUMDes. BUMDes inilah nantinya yang akan mengelola kawasan Cangkat. Sumber dananya dari dana desa tadi.

Tidak susah, banyak tempat bertanya. Sudah ada beberapa destinasi wisata di Kerinci yang dikelola oleh BUMDes masing-masing. Sukses dan menjadi destinasi wisata andalan.

Pakai konsep ATM (Amati, Tiru, Modivikasi). Untuk maju tidak perlu malu. Selama itu positif, tidak ada masalah.

Juga harus dikaji sisi hukumnya, ini uang negara, uang rakyat, jangan sampai salah penggunaannya, jangan sampai menjadi ladang korupsi. Banyak aparat desa berakhir di penjara karena salah kelola Dana Desa. Pelajari secara detail, termasuk pelaporannya. BUMDes harus sehat, tidak boleh sakit. Jika manajemennya tertata dengan baik dan rapi, tentu Cangkat akan bisa dikelola dengan baik.

Cangkat adalah aset dua desa, Ujung Pasir dan Koto Tuo. Dua pula dana desanya.

Tentu dana desanya bisa diarahkan penggunaannya ke kawasan Cangkat. Sementara persoalan BUMDes yang menaunginya, tinggal pembicaraan secara musyawarah mufakat. Saya yakin bisa terealisasi tanpa harus bertegangan urat leher.

Pertanyaannya, apakah dari dana desa saja cukup untuk membangun Cangkat? Pemerintah daerah, dalam hal ini Pemkab Kerinci, juga tidak bisa lepas tangan.

Membangun pariwisata tentu tidak hanya menjadi tugas masyarakat atau pihak swasta saja, akan tetapi juga menjadi tugas pemerintah daerah. Makanya Saya sangat berharap, Bupati Kerinci Bapak Adi Rozal atau Dinas Pariwisatanya, bisa membaca tulisan ini. Setidaknya ada langkah-langkah konkrit yang bisa diambil dalam membantu masyarakat Ujung Pasir dan Koto Tuo dalam menata kawasan Cangkat. Toh ini juga nantinya akan menjadi aset Kabupaten Kerinci.

Penganggaran itu sudah pasti, cuman tentu butuh beberapa mekanisme dan proses terlebih dahulu.

Studi kelayakan dari segala sisi juga harus dilakukan oleh pemerintah. Mengkaji seberapa besar potensi pengembangan kawasan Cangkat ini. Ini cuman saran saja, toh masyarakat dengan ide kreatifnya juga sudah bergerak.

Menulis memang lebih gampang ketimbang berbuat. Hanya tinggal menekan huruf-huruf di keyboard. Tapi jauh di dalam sanubari, Saya berharap Cangkat betul-betul menjadi destinisai wisata alam dan edukasi. Salam


*Penulis adalah Pemimpin Redaksi Harian Pagi Jambi Ekspres, Alumni Magister Teknologi Pendidikan Universitas Jambi, Beralamat di www.jambiupdate.co


Komentar

Berita Terkait

Selamatkan Anak-anak SMB

Rekonsiliasi Pasca Pilpres 2019, Perlukah?

Pemilu Selesai, Putusan MK Kemenangan Indonesia

Tim Sukses Atau Calo

Merebut Restu HBA

Berkawan dengan Rasa Cemas

Rekomendasi




add images