Ilustrasi.
Ilustrasi. (Net)

JAMBIUPDATE.CO, JAKARTA - Resesi global yang telah melanda di sejumlah negara kian mendekati Indonesia. Hal itu tercatat dari pertumbuhan ekonomi nasional sejak kuartal I/2019 hingga III/2019 mengalami pelemahan.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, ekonomi Indonesia tumbuh 5,07 persen secara year on year (yoy) pada kuartal I, kemudian turun menjadi 5,05 persen yoy pada kuartal II dan turun lagi menjadi 5,02 persen yoy pada kuartal III tahun ini.

Pada kuartal III/2019, konsumsi rumah tangga menyumbang 56,52 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Di periode itu menurun. Ditambah Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) mencerminkan optimieme masyarakat terhadap perkonomian dalam negeri terus tergerus.

Angka IKK menunjukkan terus menurun dalam lima bulan terakhir. Pada Oktober 2019, yakni sebesar 118,4, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mencapai 121,8. Angka IKK pada Oktober 2019 juga lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai 119,2.

IKK pada Oktober 2019 yang sebesar 118,4 mencatatkan angka terendah sejak Februari 2017.

Terkait IKK, Bank Indonesia (BI) mengumumkan sepanjang September tahun ini, penjualan ritel hanya dapat tumbuh 0,7 persen yoy. Angka itu melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 1,1 persen dan menjadi laju terlemah sejak Juni 2019.

Dalam pantauan Fajar Indonesia Network (FIN), di toko elektronik Mal Ambassador, Jakarta Selatan, toko-toko elektronik di Pasar Kramat Jati, hingga toko-toko elektronik Giant, Ciledug, terlihat sepi pengunjung.

Peneliti Istitute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda mengatakan, bahwa memang saat ini Indonesia tengah dilanda resesi.

“Perlambatan ekonomi pada triwulan III/2019 menjadi menjadi bukti ancaman resesi kian mendekat,” ujar Huda kepada Fajar Indonesia Network (Indef), Minggu (17/11).

Oleh karena itu, saran Huda, pemerintah harus menjaga konsumsi masyarakat sehingga jangan sampai PDB mengalami penurunan.

“Pemerintah harus menjaga pasar domestik dengan mempertahankan konsumsi masyarakat yang menyumbang paling banyak ke PDB. Sebab kalau dai investasi sangat sulit karena resesi global ini,” tukas Huda.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) khawatir pelemahan ekonomi dunia bakal berdampak di dalam negeri. Apalagi di sejumlah negara telah terkena dampaknya.

Ditambah lagi, kekhawatiran Jokowi itu semakin kuat setelah diingatkan langsung oleh Gubernur Pelaksana IMF, Kristalina agar berhati-hati terhadap ancaman kondisi tersebut.

“Managing Direktur IMF yang baru Kristalina memberikan sebuah warning, Jokowi hati-hati dalam kelola baik moneter atau fiskal,” kata Jokowi di Jakarta, Rabu (6/11).

Kekhawatiran Jokowi memang sangat beralasan bila melihat kondisi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cina yang berkepanjangan, perang dagang AS dan Eropa, pelemahan ekonomi Cina akibat aksi demontrasi yang tak kunjung berakhir, adanya brexi, serta resesi yang sudah menimpa pada negara-negara emarging market. Kondisi demikian, akan berpengaruh pada Indonesia.(din/fin)


Sumber: www.pojoksatu.id

Komentar

Berita Terkait

Total Ganti-Rugi Karhulta Tembus Rp315 Triliun

Prediksi, Gaji BTP Rp3,2 Miliar Sebulan

Doa Jokowi untuk Cucu

Harga Emas Global Ambruk

Rekomendasi




add images