Oleh: Amri Ikhsan

Sesuai standar WHO, pemeriksaan spesimen menggunakan antigen. Oleh karenanya, Pemerintah menggunakan 2 metode pengetesan yakni RT-PCR dan TCM. Sedangkan rapid yang berbasis serologi darah tidak masuk dalam standar tersebut, sementara Rapid Test sebagai skrining awal, itu tidak masuk dalam sistem pelaporan kita.

Misalnya diambil dari nasovaring dan orovaring artinya 2 spesimennya tetapi orangnya satu. Setelah ketemu orangnya masih harus kita verifikasi, ini kasus baru atau kasus follow up.'' kata Yuri. (Kemkes.go.id)

Perkembangan kasus terkonfirmasi positif covid-19 perhari: 22 Juni 2020: 1.051, 23 Juni 2020: 1.113, 24 Juni 2020: 1.178, 25 Juni 2020: 1.240, 26 Juni 2020: 1.385, 27 Juni 2020: 1.198, 28 Juni 2020: 1082.(Covid-19.go.id)

 

Sejak tanggal 2 Maret 2020 dimana untuk pertama kali diumumkan kasus positif pertama covid-19 di Indonesia, sejak itu pula kita disodorkan begitu banyak informasi dan data berhubungan dengan perkembangan covid-19.

Setiap hari seorang Achmad Yurianto melaporkan perkembangan terkini tentang covid-19 di Indonesia. Beliau menyampaikan informasi penting: apa yang telah dilakukan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, apa yang harus dilakukan masyarakat, jumlah specimen, data terkini, jumlah komulatif, jumlah harian dan statistik jumlah pasien positif, sembuh, meninggal, PDP, ODP, daerah yang terpapar, dll.

“Kira-kira’ bisakah kita memahami narasi narasi yang dibangun Juru bicara pemerintah dalam menyampaikan informasi tentang perkembangan covid-19? Kira kira bisakah kita memaknai angka angka yang disampaikan tentang jumlah dan persentase dan dari mana angka angka itu didapatkan? Bisakan kita menindak lanjuti data angka yang diberikan? Apa yang harus dilakukan bila data angka orang positif didaerah kita naik signifikan?

Untuk memahami dan memaknai informasi, data angka, grafik, tabel diperlukan kemampuan literasi. Tanpa kemampuan ini informasi dan data tersebut hanya ‘lewat’ begitu saja dalam pikiran kita.

Literasi baca tulis dan numerasi merupakan dua dari 6 literasi dasar, selain literasi sains, lietrasi digital, literasi finansial, dan literasi budaya dan kewargaan (World Economic Forum, 2005)

Pengertian Literasi baca-tulis adalah kemampuan untuk memahami isi teks tertulis, baik yang tersirat maupun tersurat, dan menggunakannya untuk mengembangkan pengetahuan dan potensi diri serta menuangkan gagasan dan ide ke dalam tulisan dengan susunan yang baik untuk berpartisipasi di lingkungan sosial. (EFA, 2007)

Literasi numerasi adalah pengetahuan dan kecakapan untuk (a) menggunakan berbagai macam angka dan simbol-simbol yang terkait dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai macam konteks kehidupan dan (b) menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk (grafik, tabel, bagan, dsb) lalu menggunakan interpretasi hasil analisis tersebut untuk memprediksi dan mengambil keputusan. (Kompas)

Tujuan literasi itu:1. Membantu meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan cara membaca berbagai informasi bermanfaat.2. Membantu meningkatkan tingkat pemahaman seseorang dalam mengambil kesimpulan dari informasi yang dibaca. 3. Mendapat berbagai wawasan dan informasi baru.4. Kemampuan interpersonal seseorang akan semakin baik.5. Kemampuan memahami makan suatu informasi akan semakin meningkat. 6. Meningkatkan kemampuan analisis dan berpikir seseorang. (Sevima.com)

Literasi pada hari hari ini menjadi semakin kompleks berhubungan dengan keberadaan teknologi informasi yang semakin cepat. Teknologi ini menyediakan kanal baru berkomunikasi, tidaknya menyampaikan pesan pesan singkat tapi ‘diperkaya’ dengan fitur ‘share’ dimana nitizen bisa berbagi informasi ‘sekendak hati’. Sumber informasi ini bisa diambil dari media mainstream, bisa juga dari media ‘abal-abal’.

Akibatnya, miliaran informasi dari berbagai belahan dunia dapat mudah diakses setiap hari. Padahal tidak semua informasi itu bermanfaat bagi kehidupan kita, bahkan ada yang membahayakan.

Orang yang literat (berliterasi tinggi) selalu merasa nyaman dengandata, informasi dan angka yang diterima. Dia ‘piawai’ mengaitkan informasi ini secara praktis sebagai solusi dari berbagai permasalahan kehidupan. Permasalahan yang dihadapi menjadi lebih mudah dan sederhana. Data yang diterima memberi dampak yang positif pada perilaku, kebiasaan dan pola pikir. Dia tidak ‘bingung’ apalagi ‘pusing’ dengan data ini.

Ada sejumlah miskonsepsi tentang literasi penyebab rendahnya nilai literasi: pertama, literasi bukan hanya kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan menalar. Literasiberkaitan dengan kompetensi berpikir. Seseorang dengan tingkat literasi tinggi, mempunyai kemampuan penalaran dan pemecahan masalah.

Kedua, membaca untuk belajar, bukan belajar untuk membaca. Membaca untuk belajar adalah kemampuan lintas disiplin yang menempatkan membaca sebagai alat untuk memahami dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan.

Ketiga, aktif membaca, bukan membaca aktif Membaca banyak tulisan, tidak otomatis meningkatkan kemampuan literasi. Malah terkadang, menurunkan minat atau menghasilkan pengetahuan yang tidak tepat. 

Keempat, lupa menghubungkan kemampuan menulis dengan kemampuan membaca (Najeela Shihab). Bukti sudah membaca dan memahami informasi dan data numerasi adalah dibuktikan tulisan atau artikel menganalisis informasi dan data hasil bacaan.

Dalam konteks pandemi covid-19, kesalahan kita dalam menerima informasi, data dan berita tentang Covid-19 yang ‘setengan setengah’ sehingga perilaku sebagian kitayang ‘menormalkan’ keadaan yang belum normal.Pandemi adalah ‘tes’ untuk menguji kemampuan literasi dengan melakukan seleksi dan memfilter segala informasi serta bertindak sesuai dengan protokol keseharan.

Kita jangan menelan mentah-mentah data, berita dan informasi yang datang dari media sosial, dengan melakukan menelaah, melakukan konfirmasi lebih agar tidak terjebak pada informasi hoax.

Kita memang lebih terbiasa dengan mendengar, menonton dan berbicara daripada berliterasi. Sebagian orang suka diberitahu dari memberi tahu. Banyaknya pelatihan, seminar, rapat adalah sebagian bukti hipotesa ini, padahal sebagian informasi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut sebagian sudah tertulis dalam regulasi yang dikeluarkan sebelumnya.

Dengan literasi orang tak sekedar mengetahui apa yang kasat mata tapi bisa juga menganalisa hal-hal yang tak kasat mata, membaca yang tersirat. Salam Literasi!

*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah

 


Komentar

Berita Terkait

Integritas Penyelenggara Ad Hoc

Yang Tidak Baru di Era Kenormalan Baru

Pembelajaran di Era Kenormalan Baru

New Normal adalah Berdamai dengan Corona

WASPADA: PILKADA BERTARUH NYAWA  

Rekomendasi




add images