Amri Ikhsan.
Amri Ikhsan.

Oleh: Amri Ikhsan

Akhirnya pemerintah bersama DPR telah memutuskan untuk tetap mengelar Pilkada Serentak 2020 tanggal 9 Desember 2020, walau pun ditengah pandemi covid-19 yang belum juga berakhir.

Alasannya: 1) untuk menjamin hak konstitusional rakyat untuk memilih dan dipilih sesuai agenda yang telah diatur di dalam UU; 2) tidak ada satu atau lembaga yang bisa memastikan kapan covid-19 akan berakhir; 3)  pemerintah tidak ingin pemimpin 270 daerah dijabat oleh Pelaksana tugas (Plt) dalam waktu yang sama. (Menkopolhukam)

Memang dimasa pandemi covid-19, daerah butuh pemimpin dengan legitimasi yang kuat, sementara Plt tidak bisa membuat kebijakan strategis. Pemilihan kepala daerah di 170 daerah kini memasuki tahap yang penting sekaligus genting, yaitu kampanye. Tahap ini penting karena mempertemukan kandidat pemimpin dengan konstituennya, proses dialog yang sangat substansial bagi berlangsungnya demokrasi. (jpnn)

Kampanye politik adalah untuk memengaruhi orang lain (Republika), tentu saja kampanye tidak bisa terlepas dari  permainan kata kata. Bahkan kata kata menjadi menjadi unsur yang paling menentukan dalam mengelola dan mengembangkan  isu, pikiran, gagasan, dan program yang ada dalam diri calon sehingga mudah dicerna oleh masyarakat.

Para paslon diperkirakan sekuat tenaga dan dengan sengaja ingin melakukan pencitraan positif kepada masyarakat melalui kata kata dalam slogan yang diutarakan dalam setiap poster, banner, spanduk ataupun pamflet-pamflet yang sudah marak terpampang di seluruh penjuru kota dan kabupaten se-Jambi.

Secara tidak langsung sebenarnya telah terjadi perang ‘kata kata’ antar bakal calon gubernur, mana kata kata yang menyentuh masyarakat. Mana diantara 3 (tiga) tagline: ‘Jambi Berkah, Jambi Cerah dan Jambi Mantap’ yang mencuri perhatian masyarakat. Mana diantara  tiga kata kata ini yang ‘dekat’ dengan masyarakat.

Pemasangan spanduk, poster, pamflet, banner dan foto dengan ukuran besar di sepanjang jalan, disetiap persimpangan dan sudut-sudut kota dan di desa tidak hanya berisi gambar paslon, tetapi disertai juga dengan semboyan dan slogan ‘inspiratif’ yang menggambarkan  wujud Jambi untuk minimal 5 (lima) tahun kedepan, apa yang bakal calon Gubernur tersebut kerjakan.

Diakui bahwa, kampanye adalah proses paling menguras energi dan emosi (Kompasiana). Setiap paslon akan ‘all out’  mengeluarkan ilmu dan kemampuan terbaiknya agar dipilih masyarakat. Bagi calon pemilih, tahap ini merupakan tahap yang tak mudah karena mereka harus menimbang nimbang kata kata paslon yang semuanya kelihatan ‘manis’.

“Kata kata manis’ dari para paslon menjadi tantangan terberat bagi calon pemilih untuk membedakan paslon yang terbaik. Ini bukan pekerjaan mudah. ‘Diatas kertas’, seluruh paslon adalah putra putri terbaik Jambi. Berpenampilan sempurna baik fisik dan mental, fasih berbahasa, dan program dan gagasan yang ditawarkannya seolah-olah mendekati ideal. Semuanya tampak menjanjikan untuk dipilih dan menjadi penyelesai dari semua ‘masalah’ di Provinsi Jambi.

Itulah kampanye yang menggunakan bahasa sebagai media utama dalam interaksi dan komunikasi baik secara lisan dan tulisan, selain untuk memperkenalkan ‘identitas dan nomor urut, tetapi juga menunjukkan ‘lahir dan bathin’ siap memimpin Jambi lima tahun kedepan.

Kata kata paslon juga menggambarkan pemikiran, ide, gagasan, dan yang dituangkan dalam visi, misi dan program untuk mempermudah  masyarakat memahami, memaknai, mengikuti dan menyesuai alur pikiran, ide, gagasan paslon dan dibuktikan nantinya ‘di bilik suara’.  

Kress (1985) mengatakan bahwa bahasa adalah nafas dalam komunikasi, karena tidak ada komunikasi dalam situasi apapun yang lepas dari bahasa sebagai alatnya. Oleh karenanya, bahasa merupakan bagian penting dari kehidupan. Orang tidak bisa hidup tanpa bahasa sebab dalam setiap gerak kehidupan manusia berkaitan dengan bahasa. .

Siapa paslon sebenarnya bisa ‘diuji’ dari kata kata yang tuturkan. Kata-kata yang terucap dari mulut seseorang dapat memberikan gambaran karakter, kepribadian, sikap, dan pandangan hidup. Jika seseorang sering menggunakan kata kata  kasar maka ia cenderung ber karakter kasar pula. Sebaliknya, jika sering bertutur dengan bahasa santun, maka ia cenderung mempunyai karakter yang santun pula. Jangan heran selama kampanye, para paslon akan berbahasa sesantun santunnya.

Dalam kampanye, dipastikan para paslon akan ‘berkata kata’  bukan hanya untuk ‘menjual’ ide dan programnya tapi juga  menyembunyikannya ‘sesuatu’. Hal itu karena di balik pikiran itu terdapat kepentingan-kepentingan yang harus dipertahankan. Untuk menyembunyikan pikiran-pikiran politik tersebut, bahasa politik harus ditata sedemikian rupa karena dalam struktur linguistiknya penuh dengan muatan kekuasaan yang tersembunyi. (Purnomo, 2017)

Dalam sudut pandang politik kekuasaan, bahasa adalah senjata mematikan bagi kekuasaan, seperti yang dikemukakan Barnes (2004) bahwa politik adalah suatu seni atau kegiatan untuk memperoleh kekuasaan dan menambah kekuasaan. Dengan demikian, politikus harus menguasai bahasanya untuk alasan penting karena siapapun yang menguasai bahasa, ia akan berkuasa. Oleh karena itu bahasa politik harus mencerminkan secara ideal visi dan misi para elit politik dalam meraih simpati msyarakat. Jika tidak maka dengan bahasa yang salah penempatan juga akan mengakibatkan seseorang tercerabut dari kekuasaan.

Disimpulkan, pilihan kata yang ‘menyejukkan’ paslon adalah ‘senjata’ meraih dan mempertahankan kekuasaan, dengan kesalahan pilihan kata seseorang bisa terlepas dari kekuasaannya. Karena kata kata politik sangat erat kaitannya dengan upaya untuk merebut simpati rakyat. Ia hadir dan dibutuhkan untuk menumbuhkan pencitraan tertentu agar rakyat terpengaruh dan tersugesti oleh propaganda dan ikon-ikon politik yang ditawarkan. (Purnomo, 2017)

Jadi, para paslon yang cerdas dalam waktu yang singkat perlu memiliki kecerdasan pragmatik (ilmu menggunakan bahasa untuk komunikasi) dalam upaya menyakinkan masyarakat atas kemampuanya melalui komunikasi dan interaksi. Ilmu ini akan memandu paslon untuk berinteraksi yang memudah mesyarakat memaknai kata kata yang dituturkan, yakni tuturan yang pas, mudah dimengerti, tidak lebih, tidak kurang dengan kebutuhan masyarakat terhindar dari kesan bombastis.

Kata kata paslon harus berbasis kerakyatan, menjadikan rakyat sebagai subjek yang perlu diangkat harkat dan martabatnya menuju kesejahteraan abadi. Rakyat jangan lagi dimanfaatkan hanya untuk pilkada. Rakyat tidak lagi butuh janji-janji politik yang ‘melangit’, tetapi butuh realisasi dan bukti nyata. Bukan janji, tapi bukti. Katakan yang seperlunya saja, jangan ‘nyombong’.

Oleh karena itu, ada 2 bentuk bentuk bahasa komunikasi dalam kampanyer Pilkada Provinsi Jambi berdasarkan jabatan terakhir para paslon: 1) bahasa komunikasi politik bagi incumbent: kata ‘lanjutkan’ merupakan kata kunci untuk setiap kampanye. Dilanjutkan ‘pamer’ keberhasilan selama menjabat; 2) bahasa para bupati, yang sudah lama malang melintang menduduki posisi itu akan lebih sering menggunakan bahasa propaganda yang menampilkan kepiawaian mereka dalam menjalankan roda pemerintahan.

Kata kata paslon nomor urut berapa menyentuh hati masyarakat, kita tunggu saja. Jadi, apapun kata kata para paslon selama kampanye ujungnya hanya satu: pilihlah saya ! jangan pilih yang lain. Selamat kampanye!

 


Komentar

Berita Terkait

Kolaborasi Generasi Milenial di Era New Normal

Literasi Pandemi

Integritas Penyelenggara Ad Hoc

Yang Tidak Baru di Era Kenormalan Baru

Pembelajaran di Era Kenormalan Baru

Rekomendasi




add images