“Setiap kesepakatan yang menyerupai perjanjian 2015 adalah hal yang buruk, baik secara strategis maupun operasional,” katanya.
“Tekanan terhadap Iran harus dilanjutkan, Iran tidak boleh memiliki kapasitas untuk mengembangkan bom nuklir,” imbuhnya.
Menanggapi ancaman itu, Kepala Staf Presiden Iran Hassan Rouhani, Mahmoud Vaezi, berjanji negaranya siap dan bersedia untuk melawan demi mempertahankan diri.
“Kami tidak berniat berperang, tapi kami serius membela negara,” kata Vaezi seperti dikutip dari AFP.
Vaezi menuduh, seruan Israel itu hanyalah perang psikologis tanpa rencana apapun. “Praktis tidak memiliki rencana, tidak ada kapasitas” ujarnya.
Selain itu, Vaezi juga meluruskan mengenai manuver militer Iran baru-baru ini, uji coba rudal dan drone. Kata dia, hal itu hanya sekadar latihan angkatan bersenjata yang dipersiapkan untuk mempertahankan negara.
Juru bicara militer Iran, Abdolfazl Shekarchi menambahkan, bahwa ancaman serangan Israel terhadap instalasi nuklir dan pangkalan rudal Teheran hanyalah ilusi.
Pengumuman rencana Israel itu disampaikan hampir sepekan setelah pelantikan Presiden AS Joe Biden. Namun sebaliknya, Pemerintahan Biden mengisyaratkan ingin kembali membuka dialog dengan Iran.
Pendahulunya Donald Trump pada 2018 secara sepihak menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir Iran dan menerapkan kembali sanksi yang melumpuhkan Iran. Namun, tim Biden mendesak Iran kembali pada komitmen nuklirnya di bawah perjanjian 2015.
Sementara Iran meminta Biden mencabut ‘tanpa syarat’ sanksi yang diterapkan Trump untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir 2015. (der/fin)
Sumber: fin.co.id
