JAMBIUPDATE.CO, KERINCI – Permukaan air Danau Kerinci terus mengalami penyusutan drastis dalam dua pekan terakhir. Kondisi ini memicu kekhawatiran warga karena berdampak langsung terhadap kehidupan petani dan nelayan yang menggantungkan penghidupan dari danau terbesar di Provinsi Jambi tersebut.
Sejumlah warga menilai penyusutan kali ini tergolong tidak biasa. Andi (50), warga Desa Pulau Pandan, mengaku sepanjang hidupnya baru kali ini melihat kondisi Danau Kerinci surut sedalam sekarang.
BACA JUGA: Gadis 15 Tahun Asal Muaro Jambi Tembus Ajang Indonesian Model Award Nasional di Jakarta
“Sejak kecil sampai sekarang umur saya 50 tahun, belum pernah melihat air danau surut separah ini,” ujarnya, Kamis (30/1/2026).
Dampak penyusutan mulai dirasakan oleh para petani, khususnya yang mengandalkan air danau untuk mengairi persawahan. Di Pulau Pandan, kincir air yang biasa digunakan petani tidak lagi dapat berfungsi akibat permukaan air danau yang terlalu rendah.
BACA JUGA: Keracunan MBG, Dirut RSUD Ahmad Ripin: Data Sementara 120 Orang yang Masuk
“Kincir air tidak bisa berputar lagi karena air terlalu rendah. Sawah kami terancam kekeringan,” tambah Andi.
Nelayan Kesulitan Mencari Ikan
Tak hanya petani, nelayan di Danau Kerinci juga terdampak signifikan. Johan, salah seorang nelayan setempat, mengatakan hasil tangkapan ikan menurun drastis karena danau semakin dangkal.
“Ikan sekarang sulit didapat. Air surut, ikan lari ke bagian danau yang lebih dalam,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat pendapatan nelayan menurun dan menambah beban ekonomi masyarakat di sekitar Danau Kerinci.
BACA JUGA: Dugaan Keracunan MBG, SPPG Sengeti Muaro Jambi Ditutup Sementara
Penyusutan air Danau Kerinci diduga berkaitan dengan uji coba turbin Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kerinci. Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VI Jambi, Joni Rahalsyah Putra, menjelaskan bahwa penurunan air terjadi akibat uji coba operasional yang dilakukan oleh PT Kerinci Merangin Hidro (KMH).
Ia menyebutkan, uji coba pengaliran air dilakukan sejak 1 hingga 16 Januari 2026. Dari tiga pintu air yang tersedia, hanya satu pintu dibuka sekitar 20 sentimeter untuk menggerakkan turbin selama 16 hari.
