JAMBIUPDATE.CO, MUARASABAK – Harga pinang di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) kembali mengalami penurunan. Komoditas perkebunan andalan masyarakat itu kini hanya dihargai Rp17 ribu hingga Rp18 ribu per kilogram di tingkat pengepul, setelah sebelumnya sempat menyentuh Rp22 ribu per kilogram untuk kualitas super.
Penurunan harga terjadi di tengah meningkatnya produksi pinang. Kondisi tersebut membuat petani mengeluhkan anjloknya pendapatan meski hasil panen sedang melimpah.
BACA JUGA: Bupati Dedy Putra Beberkan Capaian APBD Bungo 2025, Aset Daerah Tembus Rp2,40 Triliun
Salah seorang pengepul pinang di Kecamatan Muara Sabak Barat, Assek, mengatakan turunnya harga bukan disebabkan menurunnya permintaan pasar. Menurutnya, permintaan pinang masih cukup tinggi, namun arus pembayaran dari toke besar mengalami keterlambatan sehingga mengganggu perputaran modal para pengepul.
"Permintaan sebenarnya masih tinggi, hanya saja pembayarannya yang sedang sulit," ujarnya.
BACA JUGA: 218 ASN Muaro Jambi Pensiun Sepanjang 2026, Guru Terbanyak, Dua Kepala OPD Akhiri Masa Tugas
Ia menjelaskan, hingga saat ini masih banyak hasil panen petani yang belum dapat dibayarkan karena pembayaran dari toke besar belum terealisasi. Dampaknya, pengepul terpaksa menyesuaikan harga beli di tingkat petani.
Meski demikian, para pengepul tetap bersedia menampung hasil panen masyarakat dengan sistem pembayaran tempo. Sementara untuk pembelian secara tunai, kemampuan mereka masih sangat terbatas akibat kondisi modal yang belum stabil.
"Kami tetap siap menampung hasil panen petani dengan harga yang sudah ditetapkan apabila menggunakan sistem pembayaran tempo. Namun jika petani menginginkan pembayaran tunai, kemampuan kami untuk menyerap hasil panen sangat terbatas," katanya.
Assek menambahkan, kondisi seperti ini bukan kali pertama terjadi dalam perdagangan pinang. Menurutnya, kelancaran transaksi sangat bergantung pada kepercayaan antara petani, pengepul, hingga toke besar.
"Kalau petani masih percaya kepada kami, insya Allah barang tetap kami ambil. Tetapi jika petani memilih menyimpan hasil panennya, kami juga tidak bisa berbuat banyak," tuturnya.
Penurunan harga di tengah musim panen ini diharapkan hanya bersifat sementara. Para petani berharap arus pembayaran dari toke besar segera kembali normal sehingga harga pinang dapat pulih dan pendapatan mereka kembali meningkat.(lan)
