iklan Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.
Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.

Jambi Bertumbuh dalam Jejak Hijau

Jambi yang maju tidak boleh meninggalkan sungai tercemar, hutan gundul, udara berasap, lahan rusak, dan konflik berkepanjangan. Kemajuan justru harus meninggalkan jejak hijau berupa hutan yang terjaga, sungai yang kembali hidup, energi yang semakin bersih, dan perkebunan yang berkelanjutan. Gagasan tersebut merupakan inti dari green growth atau pertumbuhan hijau yang menempatkan ekonomi dan ekologi dalam satu arah pembangunan. Alam tidak dipandang sebagai penghambat kemajuan, tetapi sebagai modal utama yang menentukan keberlanjutan kehidupan. Pertumbuhan ekonomi kehilangan makna apabila kemakmuran hari ini dibayar dengan kerusakan yang diwariskan kepada generasi mendatang.

Ekonomi hijau dapat menjadi identitas baru pembangunan Jambi. Hutan, perkebunan, keanekaragaman hayati, energi terbarukan, dan kawasan perdesaan dapat berkembang menjadi sumber inovasi serta kemakmuran. Masyarakat yang menjaga hutan perlu memperoleh manfaat ekonomi yang sepadan dengan jasa lingkungan yang dihasilkan. Petani yang menerapkan praktik berkelanjutan harus mendapatkan teknologi, pembiayaan, insentif, dan akses pasar yang lebih baik. Perlindungan alam dengan demikian tidak lagi dipandang sebagai beban, tetapi sebagai kegiatan produktif yang memberi penghidupan.

Pemulihan lahan, pengelolaan sampah, pertanian rendah emisi, energi terbarukan, dan ekowisata dapat menciptakan lapangan kerja baru. Program perdagangan karbon juga membuka peluang agar kegiatan menjaga hutan memperoleh penghargaan ekonomi. Namun, keberhasilannya tidak boleh hanya diukur dari jumlah dana yang diterima atau besarnya emisi yang berhasil dikurangi. Ukuran terpenting terletak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan dan kawasan konservasi. Jejak hijau hanya berarti apabila manfaatnya terasa di rumah petani, meja makan keluarga, dan masa depan anak-anak desa.

Menghubungkan Jambi

Kehadiran jalan tol membuka peluang baru bagi Jambi untuk terhubung dengan pusat-pusat pertumbuhan di Sumatera. Namun, infrastruktur tidak secara otomatis menciptakan kesejahteraan bagi wilayah yang dilaluinya. Jalan yang lebih cepat justru dapat mempercepat masuknya barang dari luar dan keluarnya bahan mentah apabila ekonomi lokal tidak dipersiapkan. Jalan tol harus dihubungkan dengan kawasan produksi, sentra industri, destinasi wisata, pusat logistik, pasar, pelabuhan, dan usaha masyarakat. Konektivitas akan memberi manfaat besar apabila Jambi mempunyai produk unggulan yang layak dibawa menuju pasar yang lebih luas.

Setiap kabupaten dan kota perlu memiliki peran ekonomi yang khas sekaligus saling melengkapi. Kerinci dan Sungai Penuh dapat diperkuat sebagai pusat hortikultura, agroindustri, dan pariwisata dataran tinggi. Bungo dapat berkembang sebagai pintu gerbang wilayah barat, sedangkan kawasan tengah menjadi pusat perkebunan dan industri pengolahan. Wilayah timur dapat berperan sebagai gerbang maritim, perikanan, energi, dan industri berbasis pelabuhan. Kota Jambi selanjutnya menjadi penghubung utama bagi jasa, pendidikan, kesehatan, teknologi, perdagangan, dan ekonomi kreatif.

Mimpi yang Harus Dikerjakan

Cita-cita tentang Jambi tidak boleh berhenti sebagai pidato seremonial, gambar indah dalam dokumen, atau slogan yang berganti setiap lima tahun. Masa depan yang besar memerlukan keberanian memilih prioritas, kesinambungan kebijakan, pemerintahan yang bersih, dan investasi yang berkualitas. Data harus dibuka agar masyarakat dapat menilai apakah pembangunan bergerak ke arah yang benar. Setiap rupiah anggaran perlu diuji berdasarkan kemampuannya meningkatkan produktivitas, memperbaiki pelayanan, menciptakan pekerjaan, mengurangi ketimpangan, dan menjaga lingkungan. Perencanaan hanya akan memiliki arti apabila diterjemahkan menjadi perubahan yang dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Jambi masa depan bukanlah daerah dengan gedung paling tinggi, jalan paling lebar, atau kendaraan paling banyak. Jambi masa depan adalah tempat petani hidup layak dari tanahnya, nelayan memperoleh kepastian dari perairannya, dan pekerja menerima upah yang bermartabat. UMKM mampu naik kelas, generasi muda memperoleh pekerjaan berkualitas, dan setiap anak dapat mengakses pendidikan terbaik tanpa dibatasi keadaan ekonomi keluarganya. Desa-desa tumbuh produktif, kota-kota terasa nyaman, industri berkembang, sungai kembali bersih, dan hutan tetap hijau. Kemajuan semacam inilah yang layak diwariskan.

Suatu hari, masyarakat mungkin akan berdiri di tepian Batanghari dan menyaksikan Jambi yang telah berubah. Sungainya kembali hidup, industrinya tumbuh tanpa merusak, kampusnya melahirkan inovasi, dan petaninya menikmati kesejahteraan. Anak-anak muda tidak lagi meninggalkan daerah karena masa depan telah tersedia di tanah kelahiran mereka.

Perubahan tersebut tidak terjadi semata-mata karena Jambi memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi karena kekayaan berhasil diubah menjadi nilai tambah dan pengetahuan diwujudkan menjadi karya. Jambi masa depan memang belum terlihat hari ini, tetapi setiap keputusan yang diambil sekarang sedang menentukan wajahnya.(*)


Berita Terkait



add images